Ada Selamat Ulang Tahun

Growing apart doesn't change the fact: that for a long time we grew side by side; our roots will always be tangled. I'm glad for that.
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Jika mengenang seseorang yang akan pergi meninggalkan kita untuk waktu yang lama, biasanya apa yang menjadi pesan-pesan terakhirnyalah yang paling penting untuk kita. Pesan-pesan itu bisa diibaratkan sebuah mandat, sebuah amanah untuk dilakukan dengan taat. Misal saat seorang ayah akan pergi bertugas ke luar negeri, dia akan berpesan pada anaknya yang paling tua: “Jaga ibu baik-baik. Jangan nakal. Sekolah yang rajin.” Dan kata-kata itu akan menjadi lebih “Hidup” manakala orang yang memberi pesan itu tidak akan lagi kita jumpai di dunia ini.

Demikian juga saat Tuhan Yesus akan naik ke sorga dan meninggalkan murid-murid-Nya, Ia meninggalkan sebuah mandat: “…Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Karena mandat inilah, sesungguhnya kita semua dipanggil untuk mendirikan kerajaan Allah.

Dan mungkin juga karena mandat Tuhan Yesus itu, GKI Gejayan memiliki misi baru: “Membina warga jemaat GKI Gejayan agar siap menerima pengutusan Tuhan ke mana pun.” (Misi sebelumnya: “Membangun jemaat dan melayani masyarakat secara aktif-kreatif dan profesional). Tetapi misi yang baru ini, sebenarnya sudah dikerjakan oleh GKI Gejayan jauh sebelum ada Garden of Prayer yang menjadi salah satu ciri khas gereja yang genap berusia 17 tahun di hari ini (3 Maret 2017).

Sebagai aktivis GKI Gejayan dari mulai usianya yang ke-3 (2003), saya sudah melihat banyak sekali pergantian orang-orang yang menjadi pengurus, anggota tim-tim badan pelayanan, dan juga mereka yang ada di persekutuan-persekutuan kategorial GKI Gejayan. Tidak disangkal lagi, bahwa letak GKI Gejayan yang sangat strategis (berada di dekat banyak universitas dan akademi) memberi keuntungan sendiri. Hingga mereka, para mahasiswa dan mahasiswi, datang dan pergi, membuat kenangan-kenangannya sendiri pada gereja ini. Hal inipun menjadikan GKI Gejayan seperti sebuah “Sekolah” dan “Rumah” bagi banyak orang, dari hampir seluruh wilayah di Indonesia, yang pernah datang ke Jogja untuk belajar atau sedang dinas kerja.

Seperti rumah, karena atmosfer lingkungan yang dibangun di GKI Gejayan itu seperti keluarga sementara bagi mereka yang tadinya tinggal sendirian di Jogja. Lewat pertemanan dan persahabatan yang terjalin di antara sesama aktivis dan pengerja, tidak jarang akan membuat jalinan yang sangat kuat seperti saudara. Bahkan beberapa dari mereka, ada yang bertemu dengan pasangan hidupnya saat terlibat aktif melayani di gereja. Atmosfer inilah yang menjadi salah satu pembeda GKI Gejayan dengan gereja lainnya. Dan saya kira inilah yang membuat beberapa dari mereka akan menjadi sedih dan merasa kehilangan, saat meninggalkan GKI Gejayan (Yogyakarta) karena masa studinya sudah selesai dan harus kembali ke kampung halaman. Tetapi karena GKI Gejayan selalu dalam ingatan dan menjadi salah satu topik yang menarik untuk diceritakan, tidak jarang hal ini akan membuat adik-adik dan teman-temannya di kampung halaman, ingin melanjutkan sekolah di Jogja dan bergereja di GKI Gejayan.

Juga saya pikir GKI Gejayan itu seperti sekolah. Saya pernah menyinggung hal ini saat menjadi pembicara, di persekutuan komisi Dewasa Muda. Saya menyebut GKI Gejayan seperti “Sarang Rajawali”. Kelas-kelas pengajaran, persekutuan-persekutuan, obrolan-percakapan antar sesama jemaat dan simpatisan saat berbagi hidup dan cerita tentang budaya di masing-masing daerah asalnya, secara pelan tapi pasti saya rasakan, dapat mendidik dan mengajar “Rajawali-rajawali muda” yang datang ke Jogja untuk belajar; hingga pada saatnya para rajawali muda ini kembali terbang ke daerahnya masing-masing dengan lebih tegap dan membawa kabar/cerita yang baik untuk dibagikan dan menguatkan sesamanya. (Bahkan jika ditanya apa hadiah terbesar dalam hidup saya sejauh ini dari Tuhan, saya akan menjawab bahwa gereja ini [GKI Gejayan] adalah berkat terbaik yang diberikan-Nya pada hidup saya. Saya sangat bersyukur bisa bertumbuh dan berkembang saat melayani di tim Multimedia, melalui persekutuan-persekutuan di komisi Pemuda, Dewasa Muda, komisi Anak [GSM], hingga saat mengikuti sekolah konseling di Selasa Pengajaran seperti sekarang, dan melalui kegiatan-kegiatan lainnya yang diadakan oleh gereja untuk menempa saya secara pribadi menjadi pribadi yang lebih baik dan matang)

Mungkin juga karena semuanya itu (GKI Gejayan dianggap sebagai rumah dan sekolah), sering saya lihat mereka yang sama-sama pernah aktif terlibat dalam pelayanan di GKI Gejayan, membuat sebuah “Ikatan alumni” di daerah asalnya, atau di mana sekarang mereka tinggal. Tidak jarang caption foto: “Temu Alumni Pemuda GKI Gejayan wilayah Kalimantan” atau “Hangout bareng para mantan anggota grup vokal GKI Gejayan di Surabaya“, saya temui di timeline media sosial. Salah satunya seperti gambar ini:

Ketika GKI Gejayan cabang Jakarta berkumpul...

Ketika GKI Gejayan cabang Jakarta berkumpul…

 

Akhir kata: happy sweet seventeen GKI Gejayan Yogyakarta! Teruslah tumbuh dan berkembang sebagai rumah dan sekolah bagi mereka: para pelajar, mahasiswa, pekerja, dan yang menghabiskan sisa hidupnya di kota Jogja dan sekitarnya; hingga pada akhirnya GKI Gejayan Yogyakarta bisa mengajar semua bangsa murid-Nya dan menghadirkan kerajaan Allah di dunia.

(Vic)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry