Alkitab vs Smartphone

Ilustrasi: 123RF.com
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Apakah yang selalu dibawa di dalam saku atau tas kita di keseharian?

Apa yang kita letakkan di samping tempat tidur dan pertama kali diambil ketika bangun tidur?

Bagaimana perasaan kita jika suatu kali menghilangkannya?

Bagaimana reaksi kita jika kita kehilangannya?

Apakah kita bisa hidup tanpanya?

Apakah yang diberikan sebagai hadiah pada anak-anak kita?

Apa yang kita bawa saat pergi jalan-jalan?

Apakah yang kita cari di waktu luang atau saat menunggu seseorang?

Apakah kita lebih sering mencari ponsel atau Alkitab?

 

Mungkin sedikit ekstrem jika membandingkan kedua benda ini sekarang, apalagi saat ini Alkitab sudah include di dalam smartphone (Al-android/Al-iOS/Al-windows). Tapi, hal itu yang terlintas di benak saya ketika melihat tumpukan Alkitab yang ada di depan kantor gereja GKI Gejayan karena dilupakan pemiliknya begitu saja. Sangat jarang mereka yang Alkitabnya tertinggal, lalu kembali ke gereja dan berusaha mencarinya. Tapi belum pernah saya menemukan smartphone yang tertinggal di gereja, dan dilupakan pemiliknya begitu saja. Dan kalaupun sampai ada smartphone yang tertinggal di gereja, pasti tidak pernah sampai menjadi tumpukan barang di lemari lost and found. Entah sudah diambil lagi oleh pemiliknya, atau berganti kepemilikan karena ditemukan jemaat lain dan tidak dilaporkan ke kantor gereja.

Ya iyalah, Alkitab harganya gak seberapa dibanding smartphone…”

Tapi bukan berarti nilai dari Alkitab lebih tinggi ketimbang smartphone lho ya. Karena buat beberapa orang, nilai Alkitab itu lebih dari segala-galanya; bahkan smartphonenya.

Jika pernah membaca novel “A Walk to Remember”, diceritakan ada seorang wanita bernama Jamie Sullivan yang selalu membawa Alkitab lusuhnya, ke mana saja dia pergi hingga dia beranjak dewasa. Hal ini menjadikan dia bahan olok-olokan semua temannya. Hingga suatu hari, seorang Landon Carter yang tadinya ikut mengolok-oloknya menjadi jatuh cinta padanya karena sifat baik yang dimiliki Jamie. Hingga akhirnya Landon mengerti, karena Alkitab itulah yang mengajarkan Jamie untuk selalu berbuat baik; dan alasan mengapa dia selalu membawanya ke manapun dia pergi adalah karena Alkitab itu milik ibunya yang meninggal saat melahirkannya.

Ada juga kisah lain di negara Kamboja: seorang narapidana yang suka merokok, ketika di penjara, ia meminta Alkitab pada misionaris yang menjenguknya penjara. Tujuan awalnya hanyalah karena kertas Alkitab tersebut bisa disobek-sobek untuk dipakai merokok. Dan ia telah melakukannya beberapa kali. Sampai pada suatu kali, narapidana tersebut tertarik untuk membaca kertas yang telah disobeknya. Dan saat itu juga, Roh Kudus menjamah hatinya sehingga ia percaya kepada Yesus dan diselamatkan.

Lain lagi dengan kisah Dr. David Livingstone, salah satu misionaris terkenal di dunia, saat mengadakan perjalanan melintasi Afrika. Waktu berangkat memulai misinya, ia membawa 73 buah buku yang beratnya hampir 90 kg. Karena orang-orang yang membantunya membawa buku-buku tersebut keletihan, Livingstone terpaksa harus membuang sebagian bukunya. Sampai pada akhirnya, ketika perjalanannya sudah sedemikian lama dan dipaksa oleh keadaan di sekitarnya, satu per satu bukunya mulai dibuang; hingga menyisakan satu buku saja: Alkitab.

Atau mungkin kita pernah menonton film “Book of Eli”, yang mengisahkan bagaimana berharganya sebuah Alkitab; hingga banyak orang rela mengorbankan nyawa untuk mendapatkannya. Dan kisah teranyar, seorang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang membawa Alkitab ke dalam sel tahanannya dan membaca buku itu setiap harinya.

Dari kisah-kisah itu, kita bisa menarik kesimpulan: bahwa bukan nilai fisik sebuah Alkitab yang membuatnya begitu berharga, melainkan isi dari Alkitab itu. Kita bisa lihat, bagaimana sebuah Alkitab dapat membentuk perilaku seorang manusia menjadi sebuah teladan buat bangsanya, mengubah jalan hidup seseorang  menjadi lebih baik, memberikan kekuatan di saat-saat genting, dsb… yang saya yakin masih banyak pengaruh sebuah Alkitab dalam kehidupan mereka yang rajin membacanya.

 

Dan bicara soal rajin, pasti kita juga akan rajin mengirim dan membaca pesan dari mereka yang kita cintai (misal gebetan/pacar/suami/istri), apalagi saat dipisahkan oleh jarak. Bukankah jika kita menerima pesan dari yang kita cinta (melalui email/SMS/WA/BBM), pasti pesan-pesan itu akan dibaca berulang-ulang (mungkin sampai titik dan komanya dihapal), kita simpan baik-baik, dan dibaca setiap hari, setiap saat kita kangen padanya. Tapi apakah itu juga yang kita lakukan pada Alkitab yang notabene “Surat cinta” dan pesan-pesan dari Tuhan untuk semua manusia yang dicintai-Nya? Mungkin hal ini (rajin/tidaknya kita baca Alkitab), bisa dijadikan tolok ukur seberapa besar cinta kita pada Tuhan.  Jika kita mulai jarang membaca dan merenungkan isi Alkitab, bisa jadi kita tidak lagi jatuh cinta pada Tuhan. Bisa jadi kita mulai melupakan-Nya dan mulai berpaling cinta pada hal-hal lain yang ditawarkan dunia.

 

Alkitab akan menjauhkanmu dari dosa, atau dosa akan menjauhkanmu dari Alkitab. (Dwight L. Moody)

Semoga mulai sekarang, kita bisa lebih sering membaca dan menghargai nilai dari sebuah buku yang disebut Alkitab. Karena meskipun Alkitab itu bukanlah sebuah buku sakti atau buku suci, tetapi tulisan-tulisan di dalamnya bisa memberi hikmat untuk selalu berbuat baik, dan menuntun kita kepada keselamatan oleh iman pada Kristus Yesus. Amin.

Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. (Yesaya 55:10-11)

 

(Vic)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
21