Ampunilah Saudaramu!

Ampunilah Saudaramu "70 x 7"! Matius 18:21-35; Kejadian 50:15-21
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

 

Mengampuni Tanpa Batas dan Tanpa Syarat

 

Mengampuni dalam bahasa Yunani disebut “aphiemi” artinya: membiarkan pergi, membiarkan pergi bebas, menutupi, menghapus, mengampuni, memulihkan hubungan yang baik antara dua pribadi yang retak karena suatu kesalahan.

Ada beberapa pelajaran bagi kita melalui pengajaran Yesus ( Matius 18:21-35 ) ini:
1. Pengampunan (mengampuni) tanpa batas dan tanpa syarat
2. Seseorang yang sudah menerima pengampunan Tuhan, wajib mengampuni sesamanya juga
3. Pengampunan yang sudah Tuhan berikan amat sangat besar, maka kita disebut seorang yang jahat jika tidak mau mengampuni orang lain
4. Mengampuni itu wujud kepercayaan kuat kita pada Tuhan dan kesediaan kita dibentuk sesuai kehendak Tuhan

Makna “70 x 7” yang pertama = Pengampunan Tanpa batas dan Tanpa Syarat
Diampuni 1x (sekali) saja sudah baik menurut ukuran dunia, apalagi mengampuni sampai 2 atau 3 kali, itu sungguh luar biasa! Tetapi Yesus mengatakan: “Tujuh puluh kali tujuh kali”. Bukan berarti sama dengan empat ratus sembilan puluh kali. Karena angka-angka tersebut hanyalah angka simbolis. Angka “7” menggambarkan angka “Ilahi” ( bandingkan dengan makna angka 7 dalam Wahyu 5:6 & 8:2). Angka “7” menunjukkan kesempurnaan pengampunan! Jadi “70 x 7” tidak sama dengan 490, melainkan sesuatu yang “tidak terhingga atau tidak terbatas”. Mengampuni “70 x 7” berarti mengampuni tanpa batas.
Dalam hidup orang percaya tidak boleh ada kalimat “Tiada maaf bagimu” atau “Baiklah, aku mau mengampuni kamu sekali lagi, lagi dan lagi“. Orang-orang percaya diharapkan hidup dalam pengampunan.
Mengapa kita harus mengampuni tanpa batas, bahkan diminta juga untuk mengampuni tanpa syarat? Karena kita sudah terlebih diampuni secara luar biasa oleh Allah. Dalam perumpamaan yang digambarkan oleh Yesus, sebagai seorang hamba yang memiliki hutang yang amat sangat besar pada rajanya, hutangnya 10.000 talenta ( ay. 24 )! Suatu jumlah yang begitu besar, yang ia tidak sanggup untuk membayarnya! Secara matematis 10.000 talenta = 10.000 talenta x 6.000 dinar/talenta x Rp. 75.000,-/dinar = Rp. 4,5 Trilyun rupiah. Suatu jumlah yang fantastik!
Namun kasih Allah tidak mengenal batas dan tanpa syarat. Hal itu digambarkan pada sikap Raja yang penuh belas kasihan dan kemudian mengampuni hamba tersebut, hamba tersebut terbebas bukan saja dari hutang, tetapi juga terbebas dari ancaman hukuman bagi dia dan seluruh keluarganya ( ay. 25 )!
Mengampuni “70 x 7” itu mengingatkan kita akan kasih Allah yang begitu sempurna, tanpa batas, tanpa syarat kepada kita. Demikianlah kita mestinya bersyukur telah dikasihi Allah dan diampuni tanpa batas, maka kitapun wajib memiliki keberanian mengampuni tanpa batas!

Makna “70 x 7” yang kedua = Gambaran Sikap Seseorang Yang Sudah Menerima Pengampunan, Haruslah Mengampuni Sesamanya Juga.
Pada ayat 28 digambarkan hamba yang sudah diampuni oleh Raja tersebut, bersikap lalim pada seseorang yang hanya berhutang 100 dinar kepadanya ( secara matematis 100 dinar x Rp.75,000/dinar = Rp.7,500,000,-).
Ia bersikap begitu jahat kepada saudaranya yang miskin itu dengan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara. Ia bukan saja telah lupa diri karena telah menerima pembebasan hutang Rp.7,5 trilyun, tetapi ia tega tetap menindas yang hanya berhutang Rp.7,5 juta kepadanya. Ia seorang yang jahat dan tidak tahu bersyukur, peristiwa pembebasannya dari hutangnya yang amat besar rupanya tidak membuat dia menjadi manusia yang lebih baik.

Pengampunan dan kasih Allah yang begitu besar kepada kita hendaknya mengubah diri kita dan menjadikan kita belajar menjadi pribadi seperti Kristus yang penuh pengampunan:
– Pribadi yang penuh pengampunan ( memiliki sifat mengampuni tanpa batas dan tanpa syarat ) karena kitapun telah diampuni dosanya oleh Tuhan tanpa syarat.
– Pribadi yang tidak memandang muka, kepada yang lebih lemah/miskin pada kita hendaklah kita penuh rasa cinta dan berani memberi pertolongan, karena kitapun telah diperlakukan demikian oleh Allah yang Mahakuasa.

Mengampuni juga wujud kepercayaan kuat dan keberserahan total kita pada Tuhan, sehingga kita tidak “terpengaruh” ( dan tidak takut ) dengan sikap buruk orang lain pada kita, karena kita hanya percaya: Tuhan sajalah Pengatur dan Penguasa hidup kita. Mengampuni sekaligus juga wujud kesediaan kita dibentuk sesuai kehendak Tuhan. Dalam Kejadian 50:15-21, Yusuf sadar ada Tuhan dan rencana Tuhan dibalik segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Amin.

( Pdt. PL )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry