Anak-Anak Kita

Bukti cinta orangtua pada anak/anak-anaknya adalah dengan mengakui keunikan mereka.
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Kisah ini terjadi di suatu pagi yang cerah. Mungkin tidak begitu cerah untuk seorang ayah, yang kebetulan memeriksa kamar putri sulungnya. Dia mendapati kamar itu sudah rapi, dengan selembar amplop bertuliskan “Untuk Ayah” di atas kasurnya. Begini isi surat itu:

Ayahku yang tercinta, aku menulis surat ini dengan perasaan sedih dan sangat menyesal.
Saat ayah membaca surat ini, aku telah pergi meninggalkan rumah. Aku pergi bersama kekasihku. Dia cowok yang baik dan sayang padaku. Setelah bertemu dia, ayah juga pasti akan setuju dia menjadi suamiku, meski dengan tato dan piercing yang melekat di tubuhnya, juga dengan motor butut serta rambut gondrongnya. Dia sudah cukup dewasa meskipun belum begitu tua (aku pikir di zaman sekarang, usia 45 tahun tidaklah terlalu tua). Dia sangat baik terhadapku; terlebih lagi, dia ayah dari anak di kandunganku saat ini. Dia memintaku untuk membiarkan anak ini lahir dan kita akan membesarkannya bersama. Kami akan tinggal berpindah-pindah, dia punya bisnis perdagangan narkotika yang sangat luas. Dia juga telah meyakinkanku bahwa ganja tidaklah begitu buruk. Kami akan tinggal bersama sampai maut memisahkan kami. Para ahli pengobatan pasti akan menemukan obat untuk AIDS, jadi dia bisa segera sembuh. Aku juga tahu dia sudah beristri dua, tapi aku percaya dia akan setia padaku dengan cara yang berbeda.
Ayah, jangan khawatirkan keadaanku. Aku sudah 18 tahun sekarang, aku bisa menjaga diriku. Salam sayang untuk kalian semua. Oh iya, berikan bonekaku untuk adik, dia sangat menginginkannya.

Masih dengan perasaan terguncang dan tangan gemetaran, sang ayah membaca lembar surat yang kedua dari putri tercintanya:

Ayah, tidak ada satupun dari yang aku tulis di kertas tadi itu benar. Aku hanya ingin menunjukkan, ada ribuan hal yang lebih mengerikan daripada hasil semesterku yang buruk. Kalau ayah sudah melihat Kartu Hasil Studiku di atas meja, jangan marah ya. Aku akan berusaha lebih baik lagi semester depan.

PS. Aku tidak ke mana-mana. Saat ini aku lagi di rumah tetangga.

********/*******

Sebagai orangtua, seberapa sering kita menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk anak-anak kita? Harus ranking satu di kelas, harus bisa bahasa Inggris, harus bisa main musik, sepakbola, dan lain sebagainya. Gak salah memang, jika kita (orangtua) selalu menginginkan yang terbaik dari anak kita. Tapi terkadang, hal ini dianggap sebagai egoisme semata oleh anak-anak kita.

Juga dalam hal sepele lainnya. Saat sedang mencuci piring, dan anak kita datang bermaksud membantu kita. Tapi yang terjadi, anak kita malah memecahkan piring atau gelas. Lalu apa yang biasanya dilakukan oleh para orangtua? Marah. Sepertinya hal itu adalah kesalahan terbesar yang pernah diperbuat oleh si anak. Padahal, saat piring atau gelas kita dipecahkan oleh rekan kerja atau teman kita, reaksi kita tidaklah sebesar reaksi terhadap anak kita. Mengapa kita bisa memaklumi orang lain yang tidak hidup serumah dengan kita, tapi sulit memberi toleransi kepada anggota keluarga lainnya, bahkan kepada anak kandung kita?

Biar bagaimanapun juga, anak adalah seorang pribadi tersendiri seperti orangtuanya; yang berhak mendapat perlakuan sama seperti orang dewasa. Oleh karena itu bukan hak orangtua untuk memperlakukan anak-anaknya sesuai kemauannya. Tiap anak berpotensi membuat hal-hal yang baik, tapi juga berpotensi berbuat hal yang buruk, bahkan di luar akal kita sebagai orangtua. Oleh karena itu, bersyukurlah jika anak Anda masih menjadi anak yang baik, yang masih bisa membedakan apa yang harusnya dia lakukan dan yang tidak boleh dilakukan. “Mau seperti apa dan bagaimana dia bertingkah laku di lingkungannya, dia itu tetap anak kandung Anda.” Kata seorang psikolog anak saat seorang tua bercerita mengenai tabiat anaknya.

Saat kita, para orangtua, mencoba untuk mengajarkan pada anak-anak kita tentang hidup ... anak-anak kita akan mengajarkan apa hidup itu sebenarnya. (Angela Schwindt)

Saat kita, para orangtua, mencoba untuk mengajarkan pada anak-anak kita tentang hidup … anak-anak kita sedang mengajarkan bagaimana hidup itu sebenarnya. (Angela Schwindt)

Kadang juga, orangtua melihat anak mereka sebagai cermin dirinya; baik kebiasaan yang baik atau kebiasaan buruknya. Tapi, seringnya, orangtua enggan mengakui kebiasaan buruknya yang terpantul dalam tingkah anaknya. Dan para orangtua selalu ingin mengubah itu dengan berbagai macam cara. Tapi jika kita, para orangtua, bisa menerima hal-hal yang baik dari anak/anak-anak kita, mengapa kita tidak bisa menerima yang buruk dari mereka?

Beberapa hari lalu saya membaca update status ini di Facebook:

Ibu: “Mbak, ayo cepat ambil bukunya… belajar.
Anak: “Bunda jangan marah-marah dong. Sudah dikasih anak sama Tuhan, malah dimarah-marahin…

Tuhan memberikan anak/anak-anak kepada kita (orangtua) agar kita bisa berlatih sabar dan selalu bersyukur.

(Vic)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry