“Apa Tuhan Itu Ada?”

wHERE IS GOD.?
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Saat ‘ku renungkan hidup bersamaMu, seringkali ‘ku melupakan-Mu … S’makin berat beban hidupku, s’makin ‘ku menjauh dariMu…

Sepenggal lirik lagu “Cinta Sejati” yang dipopulerkan Nikita itu melintas di benak saya saat persekutuan KDM semalam, ketika seseorang berkata “Aku sampai sebulan gak pergi ibadah ke gereja. Saat itu dia sedang dalam masalah yang rumit menurutnya, dan yang saya tangkap dari ceritanya, bahwa meskipun dia pergi ibadah ke gereja, hal itu tidak akan menolongnya. Mungkin saat itu, dia meragukan kuasa dan keberadaan Tuhan: “Apa Tuhan itu ada?, bisa jadi itu kata hatinya. Namun sayangnya, hal ini jamak terjadi di antara anak-anak Tuhan ketika masalah besar datang dalam hidupnya.

Kalau Tuhan itu ada, kenapa saya harus mengalami ini semua? Kehilangan, kesedihan, kehilangan harapan…“, atau
Jika Tuhan ada, mengapa Dia tidak mau menolong saya? Mengapa Dia membiarkan kemalangan ini menimpa?“. Saya juga pernah mendengar cerita Pdt. Hadyan ketika hidup bersama kalangan penduduk yang bergereja di sebuah desa di propinsi Lampung. Ketika itu, saat Pak Hadyan berbicara soal keselamatan yang Yesus berikan pada dunia, ada seseorang menyeletuk, “Halah… gak usah ngomong soal Tuhan. Apalah arti keselamatan Tuhan Yesus itu kalau kami tetap miskin?“. Jadi sepertinya hal ini adalah naluri alami manusia; ketika badai kehidupan datang, manusia mulai meragukan adanya Tuhan.

Bahkan Ayub, orang yang dipandang Tuhan sangat saleh, sehingga Dia pernah “bertaruh” dengan iblis soal iman Ayub, pernah juga meragukan keberadaan Tuhan ketika ditimpa kemalangan yang amat sangat. Ayub berkata: “Sesungguhnya, kalau aku berjalan ke timur, Ia tidak di sana; atau ke barat, tidak kudapati Dia; di utara kucari Dia, Ia tidak tampak, aku berpaling ke selatan, aku tidak melihat Dia.” ( Ayub 23:8-9 ).
Juga Yohanes Pembaptis… Ketika dalam penjara, di tengah kekalutan menghadapi hukuman mati yang akan dijalaninya, Yohanes menyuruh murid-muridnya bertanya kepada Yesus: “Engkaukah ( Mesias ) yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain? ( Matius 11:2-3 ). Padahal sebelumnya, ketika membaptis Yesus, Yohanes mengakui sendiri bahwa Yesus adalah Anak Allah, Sang Mesias. Bahkan ia pernah melihat tanda yang luar biasa ( langit terbuka dan Roh Allah turun seperti burung merpati ke atas Yesus ). Tetapi ketika badai kehidupan mendatanginya, Yohanes pun mulai meragukan Tuhan Yesus.

Jadi benarkah Tuhan tidak ada ketika badai kehidupan datang? Ataukah kita saja yang kurang peka pada suara Tuhan di tengah gemuruh badai yang mencoba menggulung kehidupan iman percaya kita? Jika Ayub akhirnya mengalami perjumpaan dengan Tuhan di dalam badai ( Ayub 40:1 ), bukankah Tuhan itu masih tetap sama hingga sekarang? Maka jangan sampai badai kehidupan membuat iman kita akan kuasa dan kehadiran Tuhan menjadi hilang. Karena “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar.” ( Yesaya 59:1 )

 

The wise man in the storm prays to God; not for safety from danger, but for the deliverance from fear. ( Ralph Waldo Emerson )

 

If you feel that you’re lonely, it doesn’t prove you are alone. I want you to know that I died for you. I want you to know that I give all My life for you, when I say that I love You. You mean everything to Me, I will never leave you, ’cause I love you so.” ( lirik lagu “When I Say That I Love You” )

 

( Vic )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3