Apakah Harus Membalas?

Bukan membalas, tetapi menumpukkan bara api di atas kepalanya.
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

 

Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.” (Roma 12: 20 )

“Menumpukkan bara api di atas kepalanya”?! Apakah maksudnya? Bukankah jika kita menaruh bara api di atas kepala seseorang malah akan menyakitinya? Bukankah itu berarti kita malah melukainya? Kita “bingung” dengan ungkapan tersebut, tetapi bagi pendengar pada waktu itu ( jemaat di Roma ), frase ‘menimbun bara api di atas kepala seseorang’ pastilah merupakan ungkapan yang sangat umum dikenal mereka, sebab tidak mungkin Paulus mengutip frase tersebut jika pendengarnya tidak memahaminya. Jadi apa arti frase ‘menimbun bara api di atas kepala seseorang’?

Asal usulnya ungkapan frase ini bisa jadi berasal dari kebiasaan orang Mesir yang dikenal dengan ‘ritual pertobatan’. Dalam kisah yang dituturkan dalam Seton Chaemwese, dikisahkan tentang seseorang yang mencuri buku dari sebuah kuburan. Pencuri ini akhirnya menyadari kesalahannya dan hendak mengembalikan barang curiannya. Maka dia meletakkan sebuah panci yang berisi bara api yang panas di ataskepalanya untuk menunjukkan kesadaran dan sikapnya yang memalukan, sekaligus bertobat dan akhirnya mau memperbaiki diri. Dengan bara api di atas kepalanya, orang tersebut datang, entah kepada pribadi atau kelompok masyakarat yang dia rugikan, untuk menunjukkan ketulusan dari pertobatannya. Perlu dicatat, bahwa bukan bara api yang diletakkan di atas kepala seseorang itulah yang membawa pertobatan, namun hal itu merupakan bukti yang dilihat dari luar bahwa sebuah pertobatan telah terjadi.

Jadi dari Roma 12:17-21, kita dapat belajar beberapa hal penting terkait pertobatan sejati:

  1. Kita diminta bersikap mengampuni, bukan membalas sikap dan perbuatan orang yang telah menyakiti kita ( bukan bersikap sebagai seteru ), melainkan kita didorong untuk mengupayakan perubahan pada diri orang tersebut dengan kebaikan yang kita lakukan, agar iapun mengalami pertobatan yang sejati. Sebab pengampunan seringkali menjadi daya dorong bagi perubahan dan pertobatan seseorang.
  2. Kita kalah dengan kejahatan, jika kita terpancing/terhanyut sehingga bersikap jahat juga: “sikap emosional, atau bereaksi membalas sikapnya yang jahat” adalah sikap reaktif yang tidak bijak, yang sering justru akan menimbulkan masalah baru.
  3. Kita diharapkan “mengalahkan kejahatan” ( menang terhadap sikap jahat ), justru dengan setia melakukan hal-hal yang baik pada orang yang bersikap kurang baik. Misal: tetap melakukan perbuatan-perbuatan baik kepada orang yang menyakiti kita ( ayat 20 ). Hal-hal kecil yang kita lakukan sehari-hari seringkali justru efektif untuk mengalahkan kejahatan, misal bersikap ramah pada semua orang dan berbagi kasih.

 

If we really want to love, we must learn how to forgive.” ( Mother Teresa )

 

Sikap kita yang arif, baik, benar dan bijak, akan menjadi jalan bagi Tuhan untuk:

  1. Mentransformasi diri kita: untuk pertobatan diri kita yang sejati, memperkuat nilai-nilai diri, mengarahkan tujuan hidup kita, membangun pola pikir yang positif dan benar.
  2. Mentransformasi orang-orang lain di sekitar kita, agar juga mengalami pertobatan yang sejati, dan mengalami perubahan hidup yang nyata.
  3. Mentransformasi ( memulihkan ) orang yang hidupnya “berseberangan” dengan Firman Tuhan, untuk kembali hidup taat di jalan Tuhan agar mereka pun mengalami pertobatan seperti yang diinginkan Allah.

Mari kita membangun gerakan pertobatan daripada mengobarkan semangat kebencian/permusuhan; karena ternyata kita dapat menjadi alat bagi Tuhan untuk mentransformasi dunia yang jahat ini, dengan terus hidup dalam kebenaran, kebaikan dan setia melakukan firman Tuhan. Amin.

 

(Pdt. PL)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry