Status Kebahagiaan: Disamakan

Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang. ( Amsal 16:24 )
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

 

Cari apa?” Tanya Ibu karena melihatku sibuk di gudang mencari blender bekas.
Blender item yang dulu itu lho, Bu. Di mana ya?
Oh, itu Ibu taruh di atas buffet putih di ruang makan. Kenapa? Kan udah jelek.
Mau aku kasih ke Ibu Tarni. Biar lebih gampang bikin bumbu gado-gado, gak perlu ngulek.
Aku langsung ambil kursi buat ambil blender itu.
Pasti Bu Tarni seneng, Bu. Gak lagi capek.
Ya ditanya dulu sama Bu Tarni. Apa mau ngganti cara buat bikin bumbu gado-gadonya.” Kata Ibu sambil membantuku membersihkan blender itu.
Pasti seneng lah. Kan bisa bikin lebih banyak nantinya.” Jawabku lalu ngeloyor pergi ke rumah Bu Tarni.

Tapi seminggu kemudian ketika aku mau jajan gado-gado, aku lihat Bu Tarni masih memakai cobek batu untuk membuat bumbu.

Lho, Bu? Blender yang saya kasih minggu lalu rusak ya? Kok gak dipakai?
Oh, enggak Neng Nisa. Ibu cuma lebih seneng aja pakai cobek, lebih manteb gitu rasanya. Tapi makasih ya blendernya, Ibu pakai sesekali kok buat bikin jus.

********/*******

 

“Orangtua Indonesia lebih suka lihat anaknya menikah daripada bahagia.”
Begitu headline sebuah artikel yang link-nya diretweet oleh seseorang di timeline Twitter saya. Setelah saya baca, dikatakan saat ini ada “jurang pemisah”, yang kalau saya bilang: pola pikir, yang membuat jarak antara orangtua dan anak/anak-anaknya bertambah lebar.
Orangtua percaya bahwa dengan menikah, anak/anak-anaknya akan bahagia ( mungkin ) seperti dirinya saat masih muda. Sementara bisa jadi anaknya berpendapat bahwa standar bahagia itu gak ditentukan oleh hidup melajang atau menikah.

Happiness is an inside job.

 

Banyak di antara kita, seperti ceritanya Nisa, seringkali memaksakan standar kebahagiaan ke orang-orang di sekitar kita, bahkan ke keluarga.
Kalau kamu ikut bisnis ini, nanti kamu akan sukses dan kaya.” ( standar bahagianya: sukses itu punya banyak uang ). Atau merecoki kehidupan teman/saudara kita dengan pertanyaan: “Kapan nikah? Kok pacaran terus?” ( standar bahagianya: hidup berumahtangga ). Juga pertanyaan ironis ke tetangga/rekan kerja: “Kok gak hamil-hamil? Coba periksa kandungannya sama sperma suaminya.” ( standar bahagianya: punya anak setelah menikah ).
Mungkin baik maksudnya bertanya hal-hal tadi ke orang lain, tetapi pernahkah kita berpikir bahwa itu bisa sangat menyakitkan buat mereka? Atau, sesuai konteks kali ini, pernahkah kita berpikir bahwa mungkin saja standar kebahagiaan mereka itu berbeda dengan kita? Bisa saja standar kebahagiaan beberapa orang di sekitar kita adalah bebas menjalani hidupnya, karena sudah mengenal secara utuh konsep dirinya, tanpa dirusuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang membebani pikiran mereka.

Bukankah bisa saja ada orang yang tidak ingin menjadi kaya? Karena dia merasa cukup jika hidupnya bisa berguna buat sesamanya. Atau mereka yang berpacaran mungkin sudah bahagia dengan hubungannya, dan sudah merancang waktu yang tepat untuk berumahtangga. Dan bukankah ada mereka yang bahagia dengan hidup rumah tangganya, walaupun tidak diberi anugerah oleh Tuhan seorang anak/anak-anak?

Seperti kata Amsal Salomo: “Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin.“, baiklah kita juga mau belajar untuk lebih memerhatikan sesama kita dengan lebih berhikmat; salah satunya dengan tidak memaksakan standar hidup kita yang bisa saja tidak sama dengan orang-orang yang ada di sekeliling kita.

 

( Vic )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
6