Berani Berubah

If you want to change the world, change yourself first.
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Kabarnya yang menjadi pemicu Adrian Newey, yang pernah menyandang predikat sebagai perancang terbaik mobil Formula 1, pindah dari McLaren ke Jaguar/Red Bull Racing karena bos McLaren, Ron Dennis, tidak setuju dengan usulan-usulan perubahan yang diajukan Newey.
Apakah dengan perubahan itu mobil ini jadi 1 detik lebih cepat dari Ferrari?” tanya Ron Dennis suatu kali Newey mengusulkan sebuah perubahan.
Ya… aku belum tahu pasti. Aku juga tidak tahu perubahan apa yang dibuat oleh Ferrari.
Kalau begitu jangan diubah. Toh saat ini mobil kita masih lebih cepat daripada Ferrari.
Kala itu ( 1998 ) memang mobil McLaren adalah yang tercepat. Tapi 2 tahun setelahnya, Ferarri selalu unggul dalam segala-galanya. Dan hingga hari ini, McLaren masih susah menjadi juara dunia lagi sejak ditinggal Newey.

Kita juga pasti pernah mengenal Nokia, perusahaan yang pernah menjadi penguasa pasar telepon seluler. Ketika sistem operasi Android muncul, Nokia masih saja membuat ponsel dengan basis Symbian. Mungkin mereka berpikir: “Ah, ngapain ganti sistem operasi? Lagipula pasar masih mau membeli produk Nokia saat ini.” Karena sikap dan cara berpikir yang tidak mau berubah, atau takut dengan perubahan, akhirnya Nokia collapse ( sebelum diakuisisi oleh Microsoft ). Hal serupa juga sempat dikemukakan oleh Rhenald Kasali, tentang penyebab perusahaan besar seperti Kodak, Toshiba, Sony, Panasonic, Sharp, dan Sanyo, akhirnya “berguguran di medan pertempuran” karena sikap para pemimpinnya yang lebih memilih mempertahankan status quo ketimbang berinovasi dengan mencoba hal-hal baru.

Katanya semua pasti berubah, kecuali perubahan itu sendiri; perubahan itu abadi. Oleh karenanya, jika segala sesuatu pasti berubah, mengapa sebagian orang masih takut dengan perubahan? Karena perubahan itu bisa membawa hidup menjadi lebih buruk? Bisa jadi. Karena memang ada perubahan-perubahan yang malah membuat sesuatu jadi lebih buruk dari sebelumnya. Tapi jika kita mampu mengantisipasinya, mengukur seberapa besar arah perubahan yang dilakukan, dan yang terpenting: tetap menyertakan Tuhan di dalam semua tindakan; perubahan itu akan selalu menjadi momen untuk meraih kesuksesan yang kita impi-impikan.

Contoh hidupnya Yusuf. Setelah diberi mimpi akan disembah oleh semua saudara-saudaranya, Tuhan sebenarnya sedang memprosesnya untuk berubah menjadi lebih baik. Hanya saja manusia melihatnya sebagai sebuah kemunduran: anak kesayangan orangtua -> menjadi budak -> difitnah dan masuk penjara -> dilupakan oleh orang yang berjanji akan membawanya ke luar penjara. Hingga akhirnya kita tahu kalau Yusuf bisa menjadi orang nomor 2 di Mesir, lalu menyelamatkan dunia beserta keluarganya dari bencana kelaparan. Bukankah pada akhirnya kita menilai kesemuanya itu sebagai sebuah kemajuan? Kunci sebenarnya terletak pada sikap Yusuf yang tidak menolak pada perubahan yang terjadi di hidupnya. Tidak pernah dituliskan bahwa Yusuf kemudian bersungut-sungut dan marah pada Tuhan. Buktinya ketika ia digoda agar jatuh dalam dosa, ia lebih memilih untuk lari dan menerima konsekuensinya. Yusuf menerima setiap perubahan-perubahan besar dalam hidupnya, karena ia percaya bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam merencanakan sesuatu dalam hidup manusia.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menerima setiap perubahan-perubahan besar yang terjadi dalam hidup kita? Atau kita masih melakukan segala rutinitas yang sama dan takut mencoba hal-hal baru yang terlintas di pikiran kita?

 

Mengapa harus terus berubah? Karena dunia ini tidak pernah berjalan secara statis … Jadi kenapa kita bersikap sebaliknya?

 

Ada sebuah pertanyaan yang menarik, yang tertulis di buku karangan Seth Godin: “Kapan terakhir kali Anda melakukan sesuatu untuk pertama kalinya?” Jika Anda susah untuk menjawabnya, berarti hidup Anda sedang dalam status quo, yang bisa saja akan bernasib seperti McLaren, Nokia, dan perusahaan-perusahaan lain yang pemimpinnya berpikir: “Mengapa harus melakukan perubahan? Toh dengan tetap seperti sekarang ini semua masih baik-baik saja.

 

( Vic )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2