Berbahagialah Mereka Yang Tidak Melihat, Namun Percaya

Berita Mimbar 22-23 April 2017
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” (I Petrus 1: 3-9)
Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: ‘Kami telah melihat Tuhan!’ Tetapi Tomas berkata kepada mereka: ‘Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.’ Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: ‘Damai sejahtera bagi kamu!’ Kemudian Ia berkata kepada Tomas: ‘Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.’ Tomas menjawab Dia: ‘Ya Tuhanku dan Allahku!’ Kata Yesus kepadanya: ‘Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yohanes 20: 24-29)

Kesan yang segera muncul ketika kita membaca Yohanes 20: 24-29 adalah ketakutan para murid terhadap orang Yahudi setelah kematian Yesus. Mereka takut dan bersembunyi dalam ruang yang terkunci, karena mereka merasa terancam jika kelompok mereka diketahui keberadaannya oleh orang-orang Yahudi.

Meskipun mereka telah mendengar kesaksian Maria Magdalena tentang kebangkitan Tuhan dan guru mereka, namun karena mereka belum membuktikan dalam perjumpaan, maka tetap saja mereka tidak percaya (tidak percaya sebelum melihat).

Selain kesan ketakutan yang menonjol, juga ditunjukkan sikap putus asa atau kehilangan iman dan harapan akan masa depan. Sikap Tomas, salah satu murid Yesus, mewakili sikap ini. Ia tetap tidak percaya ketika murid yang lain menegaskan bahwa berita kebangkitan Yesus itu benar, sebab mereka telah berjumpa langsung dengan Yesus. Pernyataan Tomas bahwa ia akan baru percaya jika ia telah melihat dan mencucukkan jari tangannya ke luka bekas paku di tangan-Nya dan luka bekas tombak di lambung-Nya, menunjukkan bahwa ia juga mengalami hilangnya harapan pada Tuhan dan terhadap masa depannya.

Bersyukur bahwa Tuhan tidak membiarkan murid-murid-Nya hidup dalam ketakutan, serta kematian iman dan harapan mereka; Ia datang dan menyapa mereka. Ia berjumpa dan membuktikan bahwa benar Dialah Yesus yang telah disalibkan dan kemudian bangkit, barangsiapa yang percaya pada-Nya akan memperoleh kehidupan.

Memperoleh kehidupan berarti mereka kembali memiliki keberanian untuk bersaksi sebagai murid Yesus, dan memiliki kembali harapan akan masa depan di dalam Tuhan.

Mari kembali kita renungkan siapakah kita hari ini ketika kita diperhadapkan pada persoalan yang membuat kita menderita, menangis, tersiksa, dan ketakutan? Apakah kita sedang menjadi para murid yang berkumpul dalam ketakutan karena merasa terancam dan putus asa karena kehilangan iman dan harapan akan masa depan? Atau jangan-jangan hari ini kita justru menjadi pribadi yang kerdil seperti Tomas? Memilih untuk menutup diri, menyendiri dalam pergumulan, sehingga ketika Yesus sedang menampakkan diri kepada murid yang lain kita justru sedang tidak berjumpa dengan Dia karena kita menutup diri.

Semoga dari bacaan pada hari ini, kita bisa belajar: meskipun dalam penderitaan dan banyak persoalan hidup, tetaplah untuk tidak menutup diri; malahan justru berkumpul dan membuka diri dalam persekutuan; sehingga melalui persekutuan, kita diberi kekuatan oleh sesama dan bahkan diberi kesempatan untuk mengalami perjumpaan dengan Yesus yang sudah bangkit mengalahkan penderitaan dan ketakutan kita.

 

(Pdt. RIW)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry