“Berjaga-jagalah, Sebab Kamu Tidak Tahu Akan Hari Kedatangan-Nya”

( Matius 25: 1-13 )
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

 

Bertahun-tahun yang silam, seorang pemuda dengan kekasihnya datang ke sebuah pantai di malam hari untuk saling berpisah. Sang pemuda hendak berlayar ke negeri yang jauh di seberang lautan untuk mengadu nasib. Ia mengumpulkan kayu bakar, menyalakan api unggun, dan membicarakan rencana mereka. Ia berjanji ketika ia kembali nanti, ia akan mengambil kekasihnya sebagai istri. Kemudian sang pemuda meminta kekasihnya untuk menyanyikan satu lagu cinta yang amat mereka sukai. Setelah saling berucap setia untuk menanti, ia meminta kekasihnya untuk menyanyikan lagu itu satu kali lagi. Ia berkata: “Aku akan kembali lagi untukmu , dan aku akan membawamu ke sebuah rumah yang indah di pulau nan jauh di sana ke mana aku akan pergi. Tapi sementara aku jauh darimu, aku akan kesepian, mungkin putus asa, dan setiap hari di waktu seperti ini, aku akan memikirkanmu dan mengingat kembali malam perpisahan ini. Kemudian ketika aku akan kembali di waktu yang sama seperti sekarang ini dan aku melihat api unggunmu dan mendengar nyanyianmu, aku tahu bahwa kamu telah setia dan tekun menanti.

Dengan bercucuran air mata, sang gadis berjanji dan sambil mengucapkan salam perpisahan untuk terakhir kalinya. Sang pemuda naik ke atas kapal dan berlayar di tengah gelapnya malam. Ia pergi jauh untuk mengadu nasib. Keesokan malamnya, sesuai dengan janji sang gadis datang ke pantai itu. Ia berdiri di sisi api unggun dan menyanyikan lagu mereka. Malam demi malam, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun pun berlalu dengan lambatnya, tapi sang gadis ini setia melakukan hal yang sama. Membuat api unggun, menyanyikan lagu cinta mereka menanti sang kekasih kembali. Banyak orang memberikan nasehat agar ia melupakan laki-laki itu, tapi sang gadis tidak bersedia. Suatu malam kembali dilakukan hal seperti biasa. Api hampir padam dan ia menambahkan kembali kayu. Ketika ia hendak kembali pulang ke rumah, ia mendengar suara dayuhan kapal dari jauh. Sang gadis pun kembali lagi ke bibir pantai dan melihat sebuah kapal mendekat. Sang pemuda itu, yang kini telah menjadi tua akhirnya datang; dia turun dari kapal lalu menggenggam tangan kekasihnya yang telah setia menunggu kedatangannya.

Seturut dengan janji-Nya, Yesus pasti akan datang kembali ke dunia ini ( Matius pasal 24-25 ). Waktu kedatangan Yesus kembali tidak diketahui siapapun. Karena kedatangan Anak Manusia itu pasti, para murid diperingatkan untuk berjaga-jaga menyambut-Nya. Peringatan untuk senantiasa siaga terhadap kemungkinan kedatangan Tuhan itu disampaikan dalam perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh ( Matius 25: 1-13 ). Dalam perumpamaan ini, kedatangan ( hari ) Tuhan diumpamakan seperti kedatangan seorang mempelai lelaki dalam sebuah pesta pernikahan. Dalam perumpamaan ini Kristus adalah sang mempelai, para gadis menggambarkan umat Tuhan. Sebagian dari mereka menyambut kedatangan mempelai dengan mempersiapkan diri secara baik. Sebagian lagi tidak. Barangkali, sikap para gadis bodoh ini menunjukkan antusiasme yang kurang dalam menyambut kedatangan Tuhan.

Kedatangan Tuhan digambarkan dengan pesta. Suasananya pasti penuh dengan sukacita. Sudah semestinya umat Tuhan menyambutnya dengan gembira dan menanti-nantikan kedatangan-Nya dengan siaga. Dalam perumpamaan ini sang mempelai terlambat datang. Tidak disebutkan apa sebabnya. Namun keterlambatan ini menjadi ujian bagi kesiapan para gadis untuk kedatangan sang mempelai. Para gadis yang tidak mempersiapkan diri dengan baik akhirnya tidak berkesempatan ikut di dalam pesta pernikahan. Demikianlah juga bagi umat Tuhan. Kalau mereka tidak siap menyambut kedatangan Tuhan, bisa-bisa mereka akan ditinggalkan. Waktu kedatangan Tuhan memang tidak disebutkan kapan. Kecuali Allah Bapa, tidak ada yang tahu dengan pasti. Tetapi kedatangan Yesus itu pasti. Jadi semua umat Tuhan harus mempersiapkan diri.

Menjadi pertanyaan bagi kita pada saat ini: seperti apakah hari Tuhan yang kita harapkan? Kegembiraan karena kita dapat turut masuk dalam pesta pernikahan itu bersama sang mempelai? Atau akan menjadi hari yang penuh dengan kekecewaan dan kengerian karena ketidaksiapan kita sehingga kita tertinggal masuk bergabung dalam pesta yang penuh dengan sukacita? Bagaimana kita menantikan kedatangan-Nya? Dengan antusiasme tinggi, biasa-biasa, atau cuek saja?

 

( Pdt. RIW )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
11