Bijak Akan Waktu, Tekun Bekerja, dan Berbuat Baik

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Segala hal di dunia ini ada masa efektifnya, ada masa berlakunya. Barang-barang kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, sabun, shampo, dan minyak rambut misalnya, ada tanggal kadaluwarsanya. Ketika melewati masa berlaku, maka barang-barang tersebut tidak layak dikonsumsi atau digunakan. Begitupun dengan hidup manusia.

Tak ada manusia yang selamanya muda, kuat, dan produktif. Suatu saat manusia akan menuai masa muda, beranjak dewasa, tetapi juga akan melepas masa-masa keemasan, bahkan melepaskan kehidupannya di dunia. Mungkin benar kata-kata pujangga: “Tidak ada yang abadi di dunia ini.” Dengan kesadaran bahwa waktu begitu terbatas, bahwa kejayaan, kesenangan, dan gemerlapnya hidup manusia hari ini bisa berlalu pada esok hari, hal apa yang ingin kita lakukan di dunia? Hal apa yang ingin kita lakukan untuk dunia?

Biasanya, beberapa orang akan menjawab dengan keluh kesah: “Kalau mengikut Tuhan, menjalani kehidupan beriman saja tak mudah, masak harus berpikir lagi untuk melakukan sesuatu untuk dunia ini? Lha wong mengurusi masalah pribadi dan keluarga sendiri saja sudah susah kok?!” Beberapa orang lain justru seringkali mempertanyakan: kenapa ikut Tuhan kok malah ada banyak tantangan dan penderitaan?

Firman Tuhan hari ini (Lukas 21:5-19) mengingatkan kita akan realita: bahwa ketika hari Tuhan mendekat, memang akan ada masa penyesatan (ayat 8); peperangan, pemberontakan (ayat 9); bangsa bangkit melawan bangsa (ayat 10); gempa bumi dahsyat, sakit penyakit, kelaparan (ayat 11); orang percaya akan ditangkap, dianiaya diserahkan ke rumah-rumah ibadat, penjara-penjara, dihadapkan pada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Nya (ayat 12); diserahkan oleh orang tua, kaum keluarga, sahabat, bahkan beberapa akan dibunuh, dibenci semua orang karena nama-Nya (ayat 17). Tetapi kenyataan lain juga dikatakan: Hal itu akan menjadi kesempatan bagi kita untuk bersaksi (ayat 13). Tidak sehelai pun dari rambut kepala kita akan hilang (ayat 18). Jika kita tetap bertahan, kita akan memperoleh hidup (ayat 19).

Dalam hidup yang singkat ini, sebagai orang percaya mungkin terkadang kita mengalami kesulitan, tekanan, dan diskriminasi. Tapi jika kita mau bertahan dan bersaksi, Tuhan pasti menolong, memelihara kita, dan menunjukkan kebenaran yang sejati. Justru ketika kita bersaksi dan bertahan, di situlah panggilan hidup kita dinyatakan.

Nelson Mandela yang seorang pembela rakyat miskin, melawan kesenjangan sosial, mendorong rekonsiliasi rasial, dan memperjuangkan kesetaraan ras dan warna kulit di Afrika; pernah suatu kali dianiaya, dipenjara, dan dikucilkan. Tapi ia tak menyerah dan berdiam. Ia terus bekerja menyuarakan kebenaran dan tak henti berbuat baik. Selama 27 tahun ia menjalani masa kurungan, hingga akhirnya dibebaskan tahun 1990; menjadi presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan (1994-1999). Semasa hidupnya ia selalu memperjuangkan sikap anti kolonialisme, pemberantasan kemiskinan, kesetaraan, perhatian pada pengidap HIV AIDS, dan lain sebagainya. Dan melalui kesaksian hidupnya sebagai seorang Nasrani dan perbuatan baiknya, ia menerima lebih dari 250 penghargaan, termasuk Nobel Perdamaian tahun 1993 dan disebut “Bapak bangsa” di Afrika Selatan.

Jadi, maukah kita juga menyambut masa hidup yang singkat ini dengan setia bertahan dan bersaksi?

“Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”(Luk 21:18-19)

(GPP)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
5