Bukan Soal Kuantitas Pendengar

Image: Shutterstock
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Lalu kata Yesus: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba." ( Markus 4:26-29 )

Berapa orang biasanya yang hadir?
Paling banyak 20 orang. Kadang 15, pernah juga 5 orang.
Ha? Cuma 5 orang yang hadir di persekutuan? Percuma dong aku siapin materi kotbah capek-capek kalau cuma didengerin 5 orang…

Jujur saja, dulu, saya juga suka mikir-mikir jika diminta jadi pembicara/membawakan sebuah materi di sebuah acara yang hanya sedikit pesertanya. Sampai suatu saat saya diminta hadir ke sebuah acara di negara tetangga, yang kata pengundangnya: “Bawain aja materi yang kamu paling bisa dan topiknya yang paling kamu suka.” Hingga di hari-H, saya berada di sebuah ruangan yang tidak besar di dalam sebuah kantor, berdiri di depan sekitar 20 orang, dan mulai berbicara. Di lima menit pertama sepertinya akan berjalan lancar-lancar saja, meskipun dengan bahasa Inggris yang seadanya dan sesekali pakai bahasa Indonesia. Tapi kemudian yang saya takutkan terjadi… Orang-orang di depan saya mulai menunjukkan “gejala” gelisah dan beberapa mulai mengobrol dengan teman yang duduk di sebelahnya. Saya tiba-tiba bingung mau berbicara apa, tapi orang yang mengundang saya memberi isyarat agar saya terus bicara. Akhirnya saya putuskan untuk kembali berbicara dan kali ini lebih banyak dengan bahasa Indonesia. “Ah, gak ada yang dengar ini juga,” batin saya. Saya melanjutkan berbicara tentang materi yang saya siapkan, mengenai dunia literasi dan penulis di Indonesia ( tentu saja yang saya tahu saja ). Sampai batas waktu 30 menit yang diberikan, akhirnya semua yang saya ingin katakan sudah tersampaikan. Anehnya, semua orang di ruangan itu bertepuk tangan ketika saya bilang “That’s all from me, thank you for your attention.” Ternyata, itu semua hanya sebuah ujian buat saya: seberapa saya yakin dengan materi yang saya siapkan dan seberapa saya suka dengan topik yang dibicarakan.

Kalau kamu yakin dengan apa yang kamu bicarakan, dan kamu senang dengan topik yang disampaikan, harusnya reaksi pendengar tidak perlu kamu perhatikan. Bahkan kamu gak perlu khawatir dengan berapa banyak orang yang akan mendengarkan. Toh jika kamu benar-benar yakin dan senang, energi dari topik yang kamu utarakan akan menular ke orang-orang yang mendengarkan, meskipun kelihatannya mereka tidak memerhatikan.” Begitu kira-kira omongan orang yang mengundang saya.

Oleh karenanya tidak perlu khawatir jika, misalnya, kita menyampaikan firman Tuhan, dan hanya didengarkan oleh sedikit orang. Sebab firman Tuhan itu seperti benih… Dan jangan sekali-kali menyepelekan kegiatan menabur benih ( firman Tuhan ) kepada orang-orang. Karena kita juga tidak tahu bagaimana hati orang-orang yang mendengar firman Tuhan yang kita sampaikan; apakah seperti tanah di pinggir jalan, tanah berbatu-batu, tanah di tengah semak duri, atau seperti tanah yang baik. Jika hati orang-orang yang sedikit itu seperti tanah yang baik, bukankah firman Tuhan yang kita sampaikan akan berbuah beratus-ratus kali lipat?

Lagipula, jika kita benar-benar yakin dan senang dengan firman Tuhan; yang lewat perantaraan kita, Tuhan ingin berbicara dengan umat-Nya, bukankah berapapun jumlah orang yang hadir saat kita berkotbah atau bagaimana reaksi orang-orang yang mendengarkan kita berbicara/bersaksi tentang-Nya, tidak akan memengaruhi kita dalam menyampaikan kebenaran firman-Nya?

 

Quantities of your audience doesn’t matter. Keep up the spreading “the seeds” ( God words ).

 

PS. Hal ini sebenarnya berlaku juga dalam semua hal: jika kita yakin dan senang dengan apa yang kita lakukan, dalam studi, pekerjaan, maupun pelayanan; bukankah itu akan membawa energi tambahan untuk melakukan yang terbaik karena makin dikuatkan? Jadi “Bersukacitalah senantiasa!” ( I Tesalonika 5:16 )

 

 
( Vic )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry