Cinta Itu ( Harus ) Satu Paket

Cinta itu satu paket: kelebihan dan efek samping dari kelebihan itu.
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

 

Ada yang pernah bilang ke saya, bahwa mencintai itu berarti menerima; karena nyatanya gak ada yang sempurna. Ada sebuah teori kesempurnaan, yaitu “Kita hanya bisa memiliki 2 dari 3 kriteria sempurna: otak cerdas, perilaku normal, dan paras yang elok.” Jadi kalau menurut teori kesempurnaan tadi, jika pasangan Anda saat ini parasnya elok dan otaknya cerdas, ya jangan berharap perilakunya seperti orang normal kebanyakan… 🙂

Hal ini sama seperti saat kita memilih barang, ponsel pintar/smartphone misalnya. Se-smart apapun ponsel yang kita miliki, pasti ada kelemahannya. Dan kita juga tidak bisa bilang ke toko penjual smartphone: “Kalau ponsel yang kameranya bagus depan belakang, kapasitas baterai besar, gak panas kalau dipakai lama, layarnya besar dan sejernih LED, dual SIM Card LTE, kapasitas RAM besar, tahan banting, anti air, memori internal 128 GB, bisa dipasang memori eksternal sampai dengan 512 GB, speaker internal bagus, OS Android terbaru dan harganya murah… ada gak?
Karena pastinya tidak ada… :))

Di kelas SOC ( sekolah konseling ) saat materi “Relasi Pasangan”, diajarkan juga bahwa kita harus mencintai pasangan kita sebagai satu paket yang utuh. Misalnya jika pasangan kita mempunyai sifat yang sabar, biasanya dia akan lamban. Jadi jangan memaksanya agar cepat dalam mengerjakan segala sesuatunya. Karena jika dia sudah berubah menjadi cepat saat mengerjakan segala sesuatunya, bisa jadi dia tidak lagi memiliki kesabaran. Atau jika pasangan Anda mempunyai sifat yang mandiri, bisa dipastikan juga dia akan sulit diajak berduaan. Jika dia seorang pekerja keras, seringnya orang seperti ini akan kaku/dingin saat berelasi. Dan jika pasangan Anda seorang yang sangat bertanggung jawab, hampir bisa dipastikan orang jenis ini sama sekali tidak romantis. ( selengkapnya bisa baca di sini ->> http://bit.ly/2hqlND3 )

 

Suatu hari seorang teman pernah bertanya kepada seorang laki-laki, mengapa ia tak kunjung menikah. Laki-laki itu menjawab, “Yah, kukira aku hanya belum bertemu dengan perempuan yang cocok saja. Kukira, aku masih mencari gadis yang sempurna itu.

Oh, ayolah,” kata teman itu, “kamu pasti pernah bertemu paling tidak dengan seorang gadis yang ingin kau nikahi.

Ya, memang pernah, sekali. Kurasa dialah gadis yang sempurna itu… satu-satunya gadis sempurna yang pernah aku jumpai.

Lalu, mengapa kau tidak menikahinya? ” tanya teman itu.

“Laki-laki itu menjawab, “Ia sedang mencari laki-laki yang sempurna…

 

********/*******

Kehidupan dalam satu foto: karena cinta kuat seperti maut, maka hanya mautlah yang bisa memisahkan sebuah hubungan yang dilandasi dengan cinta yang sejati.

 

Jadi jangan pernah berpikir, apalagi berharap, bahwa pasanganmu nanti ( atau yang sekarang ) akan menjadi sempurna seperti yang diinginkan. Karena jika kita memaksakan hal yang demikian, hubunganmu dengannya hanya akan melelahkan karena selalu ada konflik yang berkepanjangan. Dan jika kita berpikir untuk mencari “yang baru” hanya untuk menghindari konflik ini, bisa dipastikan harapan itu tidak akan pernah ditemui; karena pada dasarnya semua manusia sama saja: tidak ada yang sempurna dan bisa memenuhi semua harapan kita.

Yang bisa kita lakukan hanyalah mencintai pasangan kita dalam satu paket dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Karena jika Anda memang benar-benar berjodoh dengan seseorang, dan Anda yakin ada campur tangan Tuhan dalam hubungan Anda dengannya, pastilah kelemahannya bisa ditutupi oleh kelebihan Anda dan begitu juga sebaliknya; karena landasan pernikahan itu salah satu dasarnya adalah penerimaan, saling melengkapi dan akhirnya akan saling menguatkan.

 

- ditulis dari rangkuman materi SOC: "Relasi Pasangan" [ Ev. Andrew Abdi S ] menurut perspektif penulis -

( Vic )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
6