Dedikasi Paskah Dalam Sepotong Hati Warna Warni

Kasihilah seorang akan yang lain.
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Apa yang akan Anda lakukan, jika suatu hari diberi penglihatan yang sangat jelas mengenai waktu kematian Anda?

Saya pernah menanyakan hal ini di perayaan Natal Komisi Dewasa Muda beberapa tahun yang lalu. Saat itu, kalau tidak salah ingat, saya bertanya: “Misalnya Jefri diberi penglihatan kalau akan meninggal pada usia 33 tahun, di hari Selasa Pon jam 2 siang lebih 17 menit 42 detik, karena ditabrak oleh Happy di depan Ambarukmo Plaza Yogyakarta, saat naik motor dan memakai jaket kulit warna cokelat; apa yang akan Jefri lakukan saat ini?

Kalau tidak salah ingat juga, Jefri menjawab: “Happy harusnya ditabrak duluan!

Juga ada jawaban: “Diselesaikan secara jantan di tempat lain.

Tapi yang paling saya ingat, ada yang menjawab demikian: “Ya jangan lewat depan Amplaz selama setahun (di usia 33 tahun)”.

Poin utama dari jawaban-jawaban tersebut adalah berusaha menghindar. Sebisa mungkin menghindari kematian yang sudah diwahyukan. Sedapat mungkin mengelak dari tujuan akhir yang sudah ditetapkan. Dan pertanyaan saya pada beberapa hari ini juga sama: “Mengapa Yesus tidak menghindar saja dari salib?

Hingga saya mendapat jawaban: “Karena Ia taat pada kehendak Bapa dan tahu apa tujuan-Nya lahir ke dunia.

Hendaklah kamu dalam hidupmu –bersama–, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan –mengambil rupa seorang hamba–, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan –taat sampai mati–, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:5-8)

Jadi menurut saya, salib adalah tujuan. Salib adalah sebuah tujuan yang spesifik. Masing-masing dari kita sebagai anak-anak Allah, pasti mendapat mandat besar untuk melakukan misi-Nya kepada dunia. Apa itu? Mungkin sebagian besar dari kita sudah mengetahuinya, atau minimal sudah pernah diberi tahu oleh-Nya; tetapi beberapa dari kita berusaha melupakan atau malah berusaha menghindarinya, seperti yang dilakukan nabi Yunus atau nabi Musa. Tapi bukankah tidak ada manusia yang bisa lari dari rencana Allah pada hidupnya?

 

Salib sebagai simbol cinta Allah pada manusia; kasih-Nya untuk segala bangsa.

Pernah di sebuah kesempatan saat bersama dengan murid-murid-Nya, Yesus berkata: “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” (Yohanes 14:2-4)

Beberapa orang mengartikan perkataan Yesus ini seperti: “Oh, tentu saja Ia naik ke surga untuk menyediakan tempat untuk mereka yang mengasihi-Nya.” Jadi apakah surga itu seperti kos-kosan dengan banyak kamar eksklusif? Lalu Yesus naik ke surga, seperti layaknya calon pemilik kos-kosan, lalu membangun banyak kamar dengan fasilitas yang berbeda-beda (tergantung amal perbuatan manusia yang nanti akan menghuninya) agar bisa menampung semua manusia yang dikendaki-Nya ada di surga. Apakah demikian pemikiran kita?

Bagaimana jika yang Dia maksudkan dengan “Tempat di mana Aku berada” adalah salib itu sendiri? Bukankah hal ini dikatakan-Nya sebelum Ia disalibkan? Jadi ketika Yesus berada di salibNya, kita, manusia yang mengasihi-Nya, diajak juga untuk berada di salib kita masing-masing. Dan apakah salib kita? Benar. Penderitaan di dalam dunia karena taat akan perintah-perintah-Nya. Karena semua perintah-Nya berat dan hampir selalu bertentangan dengan sistem yang ada di dunia.

Selama masa Paskah ini (Paskah I – Paskah VII), kita dibagikan sebuah pesan/dedikasi dalam bentuk sebuah potongan hati warna warni. Maksud dari hal ini adalah agar kita, anak-anak Allah yang sudah diselamatkan karena cinta-Nya, memberi warna bagi dunia yang mulai kelam, dengan sukacita Injil-Nya. Itu sebabnya potongan hati itu harus dibawa pulang dan dilakukan… inilah pesan Paskah untuk kita:

Utuslah kami menjadi Pembawa pengharapan bagi dunia sekitar kami, agar sukacita kasih warna warni kami nyatakan; agar bumi seperti di surga. (Paskah-I)

Ceritakanlah pengalaman spiritual (suka dan duka) bersama Kristus, agar menjadi berkat bagi keluarga dan sesama. (Paskah-II)

Tularkanlah semangat hidup pada mereka yang sedang letih lesu dan berduka, agar mereka beroleh penghiburan dan mendapat kekuatan di dalam Kristus yang telah bangkit. (Paskah-III)

…dan seterusnya sampai dengan Paskah-VII nanti (28 Mei 2017).

 

Berat? Pasti. Bukankah salib itu memang berat dan menyakitkan? Tapi itulah panggilan kita sebagai anak-anak Allah, agar taat sampai kesudahannya. Dan kabar baiknya, sekarang kita tidak lagi sendiri saat menanggung beban salib. Ada Tuhan Yesus yang akan menolong dan memampukan kita. Juga kita bisa saling membantu dengan persekutuan bersama anak-anak Allah yang lainnya; seperti Simon dari Kirene yang mau membantu Dia memikul salib-Nya.

Jadi, sudahkah kita mendedikasikan hidup kita kepada Allah? Seperti Yesus yang taat sampai mati pada kehendak Bapa, dan mengetahui bahwa salib adalah tujuan-Nya lahir ke dalam dunia.

 

(Vic)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry