Demi Apa?

Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. ( Pengkhotbah 1:2 )
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Setahun ini hidupku memang penuh dengan rutinitas. Layaknya mahasiswa yang sedang mencari gelar entah demi apa, aku harus merelakan hidupku diatur oleh jadwal kuliah, jadwal mengerjakan tugas, jadwal pengganti kuliah yang mendadak, broadcast message dari bagian akademik tentang kegiatan yang tidak pernah ada di jadwal akademik tapi diwajibkan untuk hadir, dan pesan-pesan singkat lain yang tidak bisa ‘ku jawab dengan “Maaf, saya sedang menikmati matahari terbenam“.

Sama seperti mahasiswa tadi, pernah terpikir: untuk apa dan demi apa kita melakukan segala sesuatu di dunia ini?

Atau buat yang sudah bekerja … Dari mulai dipaksa bangun pagi oleh alarm atau orang di rumah, beresin tempat tidur atau langsung keburu mandi, berpakaian rapi, sarapan terburu-buru, lalu pergi ke kantor dengan kendaraan atau jalan kaki, yang dengan kendaraan umum harus rela berdesak-desakkan dan mencium semua aroma yang berasal dari tubuh atau bawaan para penumpang lainnya; menghadapi macet, sudah kusut ketika sampai kantor, bahkan kadang terlambat dan mendapat teguran; lalu mulai bekerja agar menghasilkan pemasukan yang lebih lagi untuk perusahaan; sekolah 18 tahun hanya untuk melakukan semua rutinitas itu… dan pada akhirnya, kita tumbuh menua dengan tidak henti-hentinya berlelah-lelah; seperti kata Pengkotbah.

Demi cinta?

Seorang penulis buku pernah bilang: “Love doesn’t kill you. Expectation does!” Tapi… “What love means without expectation?” Lihatlah di sekitar kita, sudah berapa banyak manusia dikecewakan oleh perasaan cintanya? Lalu sudah sering kita dengar orang-orang terluka karena “dikhianati oleh cinta” dan beberapa mengakhiri hidupnya begitu saja.

Demi kebahagiaan orang/orang-orang yang kita sayang?

Padahal sebagian besar manusia adalah tidak pernah mengenal rasa puas. Rasa bahagia yang dimilikinya selalu memiliki tingkatan. Mungkin orangtua teman Anda sudah bahagia karena anaknya bisa lulus dari kuliahnya, tapi orangtua Anda biasa saja ketika Anda lulus dengan IPK 3 koma. Atau pasangan Anda tidak lagi bahagia dengan bunga segar yang dibawa setiap bertemu dengannya, atau ucapan “I love you” di setiap paginya; karena dinilai mulai membosankan olehnya.

Demi posisi/karir di dalam pekerjaan?

Seorang muda yang sangat ambisius, rela melakukan apa saja demi bisa membuat perusahaannya tumbuh besar dan ia dipromosikan secepatnya (pendapatannya meningkat). Tapi saat perusahaannya sudah mapan, ia jatuh sakit parah, dan perusahaan yang ikut dibesarkannya dengan mudah mencari penggantinya (dan melupakannya).

********/*******

Kalau membaca kitab Pengkotbah, kita akan belajar memang semua yang ada di dunia ini mengarah pada kesia-siaan. Kesia-siaan atas kesia-siaan, segala sesuatu adalah sia-sia. Penulis kitab Pengkotbah sudah meneliti segala pekerjaan yang sudah dilakukan olehnya dan sudah melihat segala sesuatu yang ada di bawah matahari; tidak ada kesenangan bagi di dalamnya sama sekali. Lalu kalau begitu untuk apa kita hidup, dan melakukan segala sesuatunya agar tetap hidup?

Buat saya, seperti buku yang selalu berakhir dengan sebuah epilog, penulis kitab Pengkotbah mengakhiri semua kesia-siaan yang dituliskannya dengan kalimat: “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.” Yang menurut saya inilah jawaban atas segala kesia-siaan yang ada di dunia.

Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintahNya … Lakukan segala sesuatunya demi TUHAN saja ( I Korintus 10:31 ) … Rajinlah belajar agar kita tumbuh lebih baik untuk kemuliaan nama-Nya ( Amsal 6:1-11 ), bekerjalah sesuai tujuan hidup yang sudah TUHAN berikan pada kita ( Kolose 3:23 ), kasihilah sesama kita; teman, saudara, orangtua  karena TUHAN sudah lebih dahulu mengasihi kita ( Matius 22:39 ). Termasuk saat melakukan pelayanan di gereja, di tengah-tengah masyarakat, atau di manapun juga; lakukanlah demi TUHAN yang kasih-Nya tidak pernah mengecewakan anak-anak-Nya, tangan-Nya selalu menerima kita apa adanya, dan Dia tak akan pernah melupakan kita. Sebab segala sesuatu di dunia ini adalah fana dan ada batasnya; jadi landaskanlah segala sesuatunya pada Dia yang kekal dan tak terbatas.

 

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. ( Filipi 1:21 )

 

Kiranya damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus; sehingga apapun, segala sesuatu yang kita lakukan, dilakukan hanya demi Dia dan untuk kemuliaan-Nya saja.

 

(Vic)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry