Ditebus Dari Cara Hidup Yang Sia-Sia

Berita Mimbar 29-30 April 2017. ( Sumber gambar: fellowshipoffaith.net )
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Ada berbagai alasan mengapa hati seseorang begitu gelap, jahat, dan jauh dari Tuhan. Tetapi nampaknya yang paling banyak berpengaruh adalah lingkungan hidup seseorang dan pengalaman masa lalunya.

Hal itu nampak dari pengalaman hidup John Newton, pencipta lagu “Amazing Grace” ( Ajaib Benar Anugerah -KJ 40- ). John Newton sebenarnya seorang yang dibesarkan dalam didikan seorang ibu yang saleh dan ayah seorang nahkoda kapal laut . Sebagai keluarga Kristen yang saleh, ibunya selalu mengajarkan kepada Newton, bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat yang mengasihi manusia berdosa yang datang kepada-Nya dengan pertobatan. Tetapi tatanan itu seolah tertimbun dalam tumpukan kekecewaan dan kesedihan, ketika sang ibu yang mencintainya meninggal dunia saat Newton baru memasuki usia tujuh tahun.

Untuk mengatasi rasa kesepian dan kekecewaan, Newton mengikuti jejak sang ayah untuk berlayar demi mendapatkan sejumlah uang. Karakter yang baik, yang sudah ditata oleh ibunya, tiba-tiba berubah. Newton menjadi seorang yang kasar, kejam, dan amoral; karena pergaulan yang keliru di atas kapal. Terlebih ketika Newton menjadi semakin dewasa dan bisa berlayar sendiri, lepas dari pengawasan sang ayah, ia menjadi seorang yang sampai hati memperdagangkan manusia. John Newton membawa orang-orang Afrika ke Amerika untuk diperjualbelikan sebagai budak.

Dalam hati yang hitam karena penuh dengan dosa dan kecewa itu, Tuhan menyapanya. Keadaan berbalik. Satu kali ia sakit keras, hampir tak terselamatkan, dan diabaikan oleh orang-orang Afrika yang sakit hati kepadanya; tapi ternyata Tuhan tetap menyelamatkannya. Pada kesempatan lainnya ia berlayar dan lalu terombang-ambing oleh angin badai hingga kapalnya hampir karam; di ujung hidupnya yang dirasanya tak berarti, Tuhan menyapanya melalui sebuah buku ajaran gerejawi yang mengingatkannya akan kasih Tuhan yang dikenalnya saat ia masih kecil bersama ibunya. Di saat itulah ia menyadari betapa Tuhan berkali-kali tetap mengasihi dan mengampuninya, meski ia berlari dan memberontak kepada-Nya.

Setelah ia berlabuh di daratan yang tenang, ia memutuskan menyambut anugerah kasih Tuhan dengan bertobat, lalu menyerahkan diri sebagai hamba Tuhan. Meski ia baru diterima sebagai seorang pendeta saat ia berusia 39 tahun, John Newton menjadi seorang yang sangat produktif melayani, hingga menghasilkan 280 lagu rohani Kristen yang digemari di seluruh dunia. Salah satu lagu yang mencerminkan hidupnya kita kenal dalam lirik lagu “Amazing Grace”:

Amazing grace! How sweet the sound, that saved a wretch like me!

( Anugerah yang mengagumkan! Betapa indah didengar, menyelamatkan orang celaka sepertiku! )

I once was lost, but now I’m found; was blind, but now I see.

( Dahulu ‘ku tersesat, tapi sekarang ditemukan-Nya; dahulu ‘ku “Buta”, tapi sekarang ‘ku “Melihat” )

Dalam hidup ini mungkin kita pernah, bahkan sedang mengalami hidup seperti John Newton. Acapkali kita merasa bahwa sudah terlalu jauh dari Tuhan. Apa yang kita lakukan banyak mengecewakan, menyakiti hati Tuhan dan sesama. Mari baca firman Tuhan hari ini dalam 1 Petrus 1: 18-19  yang mengingatkan: …bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Dengan menghayati firman ini, maka kita mengingat bahwa apa yang kita lakukan hari ini adalah karena kasih karunia Tuhan. Kita sudah diampuni dan diselamatkan Tuhan. Akankah hari-hari kita ke depannya masih menyia-nyiakan waktu hidup ini dalam kebebalan hati dan pemberontakan pada Tuhan?

 

(GPP)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry