Eksposisi Perumpamaan Anak-Anak di Pasar

Anak-anak yang berbahagia ketika bermain seruling. (Foto : Ari Yuliarso/Fotokita.net)
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Kami meniup seruling bagimu,

tapi kamu tidak menari,

Kami menyanyikan kidung duka,

tetapi kamu tidak berkabung.

 

Kisah Perumpamaan Anak-anak di Pasar dalam Matius 11:16-19 dan Lukas 7:31-35 berbicara tentang dua topik utama, yaitu permainan seruling dan kidung duka. Apakah maknanya? Mengapa Injil mencatat kisah ini? Apa kaitannya dengan kehidupan masa kini?

Pembina GKI Gejayan, Sdri. Irmanda Saroinsong mengulas secara interaktif tentang Perumpamaan Anak-anak di Pasar pada persekutuan wilayah Kamis (27/4) di GKI Gejayan Bajem Adisucipto.

Secara tersurat, permainan suling menggambarkan tentang kondisi sukacita; sedangkan kidung duka mengilustrasikan kondisi dukacita. Baik Injil Matius maupun Lukas sama-sama ingin menjelaskan kondisi pelayanan Yesus yang bernuansa sukacita, karena banyak bicara tentang kisah pengampunan. Sementara itu, nuansa dukacita merupakan penggambaran pelayanan Yohanes Pembaptis yang banyak menegaskan tentang pertobatan. Namun keduanya membicarakan hal senada: Mesias sudah datang dan akan menyelamatkan umat manusia.

Dalam kisah ini, Yesus mengumpamakan orang-orang Farisi dan ahli Taurat seperti anak-anak yang tengah bermain di pasar. Mereka ditawarkan untuk bermain seruling dan bernyanyi namun tidak menerima ajakan menari maupun berduka. Mereka menolak kabar keselamatan baik yang disampaikan melalui Yesus maupun Yohanes Pembaptis. Pemahaman mereka tentang Taurat justru menjadi ganjalan sehingga tidak mampu menerima Sang Juru Selamat yang sudah ada di depan mata mereka.

Lalu, apa kaitannya dengan masa kini? Toh kita semua pada dasarnya sudah menerima dan bahkan percaya dengan karya keselamatan Kristus?

Belum tentu! Kita mungkin tidak menolak Firman, namun terkadang kita belum beriman dengan sungguh-sungguh. Kondisi itu ditandai dengan rasa pesimis, sinis, skeptis, dan bahkan apatis tentang penyertaan Tuhan dalam hidup. Kita menjalani hidup secara formalitas, tapi iman kita mati rasa karena kita tidak lagi mencari Dia. Atau kita merasa telah mengenal Tuhan, sehingga berhenti belajar memahami Dia. Padahal sesungguhnya, kita justru kehilangan Tuhan ketika berkata bahwa kita sudah memahami Tuhan.

Persekutuan wilayah malam itu ditutup dengan kutipan Doa Paulus (Efesus 3:14-21). Paulus dalam perikop tersebut mendoakan agar jemaat Kristus di Efesus, yang dikenal memiliki iman dan kasih yang begitu luar biasa, memahami betapa tak terselaminya kemuliaan Kristus. Karena sesungguhnya, keberimanan itu bukan tentang seberapa dalam pemahaman kita tentang Tuhan. Kita justru kehilangan Tuhan ketika kita merasa telah memahami Tuhan. Dalam ketidakpahaman kita, Tuhan justru berkuasa.

Sudahkah kita mengimani Tuhan dengan sungguh-sungguh?

 

(evp)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry