Ibadah Rabu Abu: 1 Maret 2017

Ibadah Rabu Abu: 1 Maret 2017, pukul 18:00 WIB di ruang ibadah GKI Gejayan
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

“Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. (Yoel 2:12-13)

 

Biasanya orang yang merasa lapar, akan lebih mudah diajak pergi makan. Tidak ada lagi diskusi berkepanjangan: “Mau makan di mana?” atau “Mau makan apa?“. Dan orang yang lapar pasti akan lebih mudah dipuaskan. Saya yakin jika chef Juna dibuat kelaparan, mie instan yang dimasak asal-asalan, jika dihidangkan padanya pasti akan habis dimakan. Gak akan lagi komentar dulu soal bahan makanan, cara menyajikan, bentuk penyajian, atau apa rasanya saat dimakan. “Kalau perut lapar, apa aja juga berasa enak…” Katanya demikian.

Mulai hari Rabu depan (1 Maret 2017), yang ditetapkan sebagai “Rabu Abu” oleh gereja, yakni hari penanda bahwa kita akan mulai memasuki masa Pra Paskah; dan selama 40 hari setelahnya, kita akan diajak untuk menyangkal diri dalam bentuk kegiatan/aksi puasa.

Dan saat berpuasa, kita diharapkan untuk tidak lagi fokus pada kepuasan diri saja, tetapi juga berfokus pada apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita. Jika dengan berpuasa kemudian kita merasa lapar sama seperti chef Juna tadi, pasti kita juga akan bisa lebih bersyukur pada apa yang “Dihidangkan” oleh Tuhan dalam kehidupan kita selama ini. Kita bisa belajar agar fokus pada berkat Tuhan, bukan pada apa yang menjadi keinginan diri semata; saya kira inilah salah satu makna berpuasa.

Atau kita juga bisa belajar menyangkal diri dengan berpantang pada hal-hal yang sangat kita sukai untuk dimakan atau untuk dilakukan. Hal ini pun bisa membawa diri kita untuk lebih menghargai berkat Tuhan, dan segala hal yang Dia sudah lakukan. Misalnya kita suka makan ayam goreng. Bisa saja saat kita meneguhkan diri untuk berpantang makan ayam goreng selama 40 hari ke depan, kita bisa menyukuri betapa besar nikmatnya hidangan ayam goreng; yang mungkin saja mulai dianggap biasa, karena sudah jadi kebiasaan atau bisa dimakan kapan saja. Atau kita yang suka (hobi) bermain games console dan selama 40 hari ke depan kita meninggalkannya, lalu melakukan aktivitas lainnya yang bisa membawa diri untuk lebih berfokus pada Tuhan; misalnya lebih sering di gereja untuk melakukan kegiatan pelayanan. Bisa saja kita akan menyadari bahwa hobi yang selama ini kita lakukan, semata-mata hanyalah kesia-siaan; hanya mengingkari anugerah Tuhan yang lebih berharga: yakni waktu yang sudah Tuhan berikan.

 

Koyakkan Hatimu, Berbaliklah Kepada Allah!

Koyakkan Hatimu, Berbaliklah Kepada Allah!

 

Karena itu, kita semua diundang untuk mempersiapkan diri dan meneguhkan hati di ibadah Rabu Abu, untuk kemudian bersiap berpuasa dan berpantang selama masa-masa Pra Paskah mendatang. Agar kita bisa lebih memaknai berkat dan anugerah Tuhan dalam hidup kita saat ini, hingga Tuhan Yesus datang kembali.

Semoga kasih dan anugerah dari Allah Bapa, selalu memberkati dan menyertai kita semua. Amin.

 

(Vic)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry