Iman dan Ajaran

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Di sebuah diskusi tentang Trinitas saat persekutuan Kodemu GKI Gejayan, saya diingatkan lagi pada sebuah kalimat: “Jangan belajar tentang Tuhan, tapi belajarlah dari Tuhan.” Karena manusia yang terbatas, tidak akan bisa memahami (menerima) Allah secara utuh dan penuh karena Allah tidak terbatas. Ibaratnya manusia sebuah gelas atau galon air, tergantung seberapa besar kapasitasnya (terbatas); tetapi tetap tidak akan bisa menampung aliran air dari sebuah mata air yang terus mengalir (tanpa batas).

Coba renungkan sejenak: hingga hari ini, ada banyak manusia yang hidupnya dihabiskan untuk memelajari ilmu Kimia, Fisika, kesehatan manusia, panas matahari dan pergerakan bumi. Ada juga yang menghabiskan hidupnya untuk meneliti kehidupan mamalia dan hewan-hewan di seluruh dunia. Juga masih banyak disiplin ilmu lainnya yang tidak cukup untuk dipelajari oleh satu generasi.
Jadi apa yang membuat kita bisa berpikir kalau manusia bisa memelajari, meneliti, mencari tahu, apalagi menyimpulkan tentang siapa DIA, yang menciptakan seluruh alam semesta beserta semua kompleksitasnya?

Banyak orang berpikir bahwa kekristenan adalah hal yang konyol. Orang Kristen memercayai bahwa Yesus adalah Allah yang lahir dari seorang perawan: Maria. Allah, Sang Pencipta langit dan bumi menjadi bayi? Lalu bagaimana mungkin seorang perawan (yang tidak pernah berhubungan seksual dengan laki-laki) bisa melahirkan seorang bayi? Beberapa lainnya tidak pernah bisa menerima dengan akalnya: bagaimana mungkin Manusia yang sudah mati bisa hidup kembali dan naik ke surga? Hingga kemudian para pemikir, yang menganggap bahwa segala sesuatu bisa dibuktikan secara ilmiah, mulai mencari-cari bukti tentang ke”Tuhan”an Yesus Kristus dan membuat riset mengenai semua hal-hal yang di luar akal manusia yang dituliskan dalam Alkitab.

Sebelum ulang tahun saya yang ke-25, saya pernah diberi “Kuliah” singkat tentang “Siapa itu Tuhan?”. Wanita ini memberikan beberapa kalimat tanya: “Apakah kamu percaya kalau Tuhan itu yang menciptakan langit dan bumi?” dan “Apakah kamu percaya kalau Tuhan akan tetap ada sampai kiamat itu datang?”
Saya menjawab: “Tentu. Tuhan itu Alfa dan Omega. Yang Awal dan Yang Akhir.”

Lalu dia bertanya lagi: “Menurutmu, kalau manusia purba diberikan deskripsi tentang sebuah benda yang sekarang kita kenal dengan korek api, apa mereka akan percaya?” Saya tidak menjawabnya, karena menurut saya itu retorika. “Lalu jika kamu hidup di jaman Majapahit, apa bisa kamu meyakinkan patih Gadjah Mada tentang sebuah jaringan yang bisa menghubungkan dia dengan orang-orang di seluruh Nusantara saat itu juga; yang saat ini kita kenal dengan social media?” Saya masih diam saja, sambil menebak-nebak arah pembicaraan itu akan ke mana. Dia masih melanjutkan, “Kamu percaya gak, kalau orang-orang Cina jaman dahulu bisa mengeluarkan sinar mematikan dari tangannya dan beberapa orang Skandinavia bisa mengeluarkan api dari mulutnya?
Ya enggak lah, emang kartun Dragon Ball?” Saya jawab dengan tertawa.
Nah, itu… apa bedanya kamu dengan manusia-manusia purba dan patih Gadjah Mada?” Dia kemudian menuliskan sebuah judul buku di balik kertas nota restoran tempat kami makan.
Gak ada bedanya. Sama-sama manusia. Dan otak manusia memang sangat terbatas untuk memahami dan memercayai Yang Tak Terbatas: Sang Awal dan Akhir.” Katanya sambil menyerahkan kertas nota itu kepada saya.

Sampul buku: Faith, A Commentary On James (Jacob Abshire)

Sampul buku: Faith, A Commentary On James (Jacob Abshire)

********/*******

Menurut saya, sikap meragukan sebuah ajaran (agama) itu tidak ada salahnya. Bahkan sikap ini akan membuat kita terus mencari tahu dan belajar dari Sang Maha. Dan di kehidupan sehari-hari, saya memang berpikir dengan bantuan ajaran (agama) Kristen. Karena inilah cara yang saya pilih untuk memahami misteri kehidupan dan sebagai petunjuk untuk melakukan berbagai ritual, demi bisa mendekatkan diri pada Sang Awal dan Akhir.

Tetapi seperti pedang bermata dua, cara ini juga bisa merupakan awal mula sebuah kerusakan yang ditimbulkan oleh keyakinan atas sebuah ajaran (agam). Yakni ketika beberapa manusia menyebarkan keraguannya dan beberapa lainnya memaksakan apa yang dipercayainya pada orang lain. Karena jika ada manusia yang dianggap sebagai seorang “Guru”, lalu mengajarkan bahwa Tuhan itu begini dan begitu, tanpa membuat ruang untuk sebuah rasa ragu; hal ini bisa menjadi sebuah bibit dari sikap fanatisme sempit dan akan berujung pada rusaknya gambaran Tuhan yang Maha Tak Terbatas itu. Kesalahan pada sekte/ agama/ aliran kepercayaan, menurut saya, adalah ketika institusi ini mulai membuat batasan-batasan tentang siapa itu Tuhan. Apalagi membuat deskripsi-deskripsi tentang Tuhan dan segala yang berkaitan dengan keilahian (surga, neraka, penciptaan, kiamat, dsb).

Karena bukankah iman itu tidak lahir dari penglihatan? Melainkan dari pengalaman-pengalaman di saat merasakan hadirNya dan berjalan bersama Tuhan; walaupun terlihat sendirian.

(Vic)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry