Kasih Menurut Perspektif Alkitab

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Apa itu kasih ?

Hal apa yang akan Anda pikirkan apabila Anda mendengar kata “Kasih”? Banyak orang akan memikirkan tentang suatu hubungan. Dan itu adalah benar. Ada beberapa macam kasih:

  1. Kasih yang tidak bersyarat/kasih ilahi (Agape)
  2. Kasih antara suami dan istri atau antara pasangan (Eros)
  3. Kasih dalam keluarga terutama antara anak dan orang tua (Storge)
  4. Kasih sesame temen atau kasih persaudaraan (Phileo)

Bahkan sesungguhnya di dalam kasih harus ada obyek, di mana seseorang dapat menunjukkan kasih dan sayang terhadap obyek itu.

Dalam kehidupan, kita belajar mengenai kasih. Kasih akan melihat bagaimana dan kapan kita dapat mempratikkan kasih yang lemah lembut, kasih yang teguh, kasih yang setia, dan kasih yang radikal.

Mengenai kasih berarti mengenal Tuhan

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8)

Cara yang terbaik untuk mendeskripsikan Tuhan tertulis pada nats tersebut. Saat kita memikirkan tentang Tuhan, kita tidak dapat memungkiri fakta bahwa Tuhan itu penuh dengan kasih. Bukti bahwa dia mengaruniakan Anak-Nya untuk mati di atas kayu salib, untuk menebus segala dosa dan pelanggaran manusia; menunjukan bahwa Dia sangat mengasihi kita dan tidak mau kita terpisah dengan-Nya (Yohanes 3:16). Dia adalah Bapa yang menginginkan anak-anak-Nya untuk selalu dekat dengan-Nya.

Kasih dapat diwujudkan dalam kepribadian dari Allah. Alasan kita dapat mengasihi adalah karena Dia sudah terlebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19). Saat Allah menciptakan kita sesuai dengan gambaran Allah sendiri, kita pun membawa kasih-Nya dalam diri kita. Kasih-Nya dalam dan lebar. Rasul Paulus mengatakan bahwa tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus (Roma 8:35-39).

Kekristenan merupakan suatu hubungan kasih antara Allah dan umat-Nya. Kekristenan bukan hanya melakukan rutinitas agama, tetapi adalah hubungan kita dengan Allah. Anak-anak Skewa mencoba mengusir setan dalam nama Tuhan Yesus (mengira bahwa itu adalah bagian dari ritual agama). Namun mereka tidak berhasil (Kisah Para Rasul 19:16) oleh karena mereka tidak memiliki hubungan dengan Tuhan Yesus. Oleh karenanya, perjalanan kekristenan kita hanyalah aktivitas keagamaan yang tidak memiliki arti jika kita tidak memiliki hubungan kasih yang sebenarnya.

Kasih itu kekal dan tidak pernah gagal

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.” (1 Korintus 13:4-8a)

Allah itu kekal. Oleh karena itu, kasih yang sejati itu kekal. Kasih Allah tidak pernah gagal. Walaupun manusia melakukan banyak dosa sejak Adam melakukan pelanggaran, kasih Allah kepada kita tidak pernah berhenti. Dan Dia melakukan semua itu atas dasar kasih-Nya kepada kita. Kasih Allah itu tidak bersyarat dan tidak mementingkan diri sendiri tetapi selalu mementingkan orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari sekarang ini, kasih memiliki arti lain dan banyak ketentuan yang diasosiasikan dengan kasih itu sendiri. Mungkin Anda sering mendengar: “Saya mengasihi kamu kalau kamu melakukan perintah saya” atau “Saya mengasihi kamu kalau kamu memberikan…”. Itulah alasan banyak pernikahan yang tidak dapat bertahan lama, karena didasari oleh kasih yang bersifat transaksional. Dunia ini menunjukan kasih yang mencari keuntungan diri sendiri.

Tuhan tidak mau kita mengasihi bukan dengan kekuatan kasih kita sendiri. Dia mau kita mengasihi dengan kasih-Nya yang tidak bersyarat: kasih Agape. Kasih Agape Allah tidak pernah gagal. Saat kita mengasihi pasangan atau anak kita dengan kasih Agape, kita dapat mengasihi mereka tampa melihat kekurangan ataupun kesalahan mereka.

Saat kita mengenal dan mengerti arti kasih lebih dalam, kita dapat mengenal Tuhan lebih lagi. Karena Allah itu kasih. Saat kita memiliki hubungan dengan Tuhan, kita dapat mengerti arti kasih yang sesungguhnya. Biarlah kita mengalami kasih Allah lebih dalam lagi melalui pengajaran tentang kasih selanjutnya! HALLELUYA

(dirangkum dari berbagai sumber)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry