Kasih-Nya Tak Terselami

( Yunus 3:10 - 4:4,11, Matius 20:1-16 )
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

 

Dituliskan pada Matius 20:1-16, Tuhan Yesus mengajar para murid-Nya tentang Kerajaan Sorga dengan perumpamaan tentang pekerja di kebun anggur. Dalam perumpamaan itu dikisahkan, pagi-pagi benar seorang tuan pergi mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Ketika malam tiba dikisahkan, sang tuan melalui mandornya hendak memberi para pekerja itu upah. Dan upah yang diterima semua pekerja itu ternyata sama sebesar satu dinar, sesuai dengan ketentuan yang berlaku saat itu. Satu dinar adalah jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selama sehari, itu berarti seluruh pekerja yang ada dipenuhi segala kebutuhan keluarganya satu hari ke depan. Tetapi bukannya bersyukur untuk upah yang diterima, para pekerja malah bersungut-sungut karena merasa diperlakukan tidak adil oleh sang tuan. Tapi Yesus menjawab dalam Matius 20:13-15, Ia menerangkan bahwa ia tidak berlaku tidak adil. Upah satu dinar adalah kesepakatan yang mereka buat bersama. Kalau mereka menjadi resah, itu karena mereka iri hati. Mereka lupa bahwa pekerjaan yang dijalani sejak pagi itu adalah panggilan dari sang tuan, yang memanggil mereka untuk bekerja di kebun anggurnya.

Marah dan kesal hati juga dirasakan Yunus ketika ia melihat Allah mengubah rencana-Nya. Semula Allah telah merancang menghukum Niniwe karena kejahatan yang mereka lakukan. Lewat Yunus, penghukuman Allah itu disampaikan. Ketika kemudian penduduk Niniwe menyesali perbuatan mereka, Allah menyesal dengan penghukuman yang sudah dirancang-Nya ( Yunus 3:10 ). Karena kemurahan hati Allah itu, bukannya bersyukur untuk sesama yang mendapatkan anugerah Allah, tetapi Yunus justru marah dan kesal hati. Ia juga marah karena Tuhan mengubah rencana-Nya. Allah dianggapnya tidak konsisten dengan rancangan-Nya. Bagi Yunus, penduduk Niniwe yang bukan orang Yahudi, bukanlah umat pilihan Allah sehingga pantas untuk dihukum dan dibinasakan.

Ketika seorang dapat memahami hidup yang dijalani ini terjadi karena anugerah kemurahan Allah, maka ia bukan hanya akan bersyukur untuk apa yang dia dapat, tapi juga bersyukur untuk kemurahan yang didapat sesamanya dari Allah.

Bahkan dalam tatanan selanjutnya, rasa syukur atas kemurahan Allah itu mewujud dengan menjadikan hidupnya sebagai alat kemurahan Allah bagi semua.

( Dian Penuntun GKI )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry