Kata Yesus: “Siapakah Sesamaku?”

( Matius 15:10-28, Roma 11:1-2, 29-36 )
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Siapa di antara kita yang menggemari acara Indonesian Idol atau acara serupa ajang pencarian bakat? Pernahkah terucap dari mulut kita “Saya dukung … karena dia Kristen”? Atau “Karena dia sesuku dengan saya”. Atau pada kasus Ahok kemarin, adakah yang membela Ahok karena beliau seorang Kristen?

Pembacaan Injil Matius ada di bawah perikop yang diberikan oleh LAI “Perintah Allah dan adat istiadat Yahudi”. Sudah sangat jelas bahwa selama masa pelayanan, Yesus tidak mengutamakan adat istiadat ataupun hukum Taurat. Yang utama adalah kasih. Tanpa kasih kepada Allah, segala adat istiadat serta ketaatan terhadap hukum tidak ada artinya. Ketaatan kepada hukum dan adat istiadat yang dijunjung dalam hukum Taurat “dikacaukan” oleh Yesus.

Adat istiadat cuci tangan agar tidak najis dikacaukan dengan ucapan-Nya: “Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Adat istiadat yang melihat orang Kanaan sebagai orang kelas dua dalam masyarakat dikacaukan ketika Yesus menyembuhkan anak dari perempuan itu karena melihat imannya.

Masih banyak kisah yang mencatat bagaimana Yesus “mengacaukan” sistem, adat istiadat, aturan yang selama ini dipakai. Hal yang sama terjadi dalam surat Paulus kepada jemaat di Roma. Hukum ‘sebab-akibat’ dikacaukan oleh Allah. Umat yang sudah menolak Allah, tidak taat, dan membantah, tetapi justru tidak ditolak oleh-Nya. Kasih karunia Allah justru berlaku bagi mereka. Hukum jadi kacau, standar najis menjadi rumit, rumus sebab-akibat tidak dipakai.

Jadi apakah benar Yesus “mengacaukan” aturan atau hukum? Tentu tidak. Pikiran manusia yang terkotak-kotak yang membuat apa yang dilakukan Yesus terlihat kacau. Padahal yang dilakukan Yesus adalah membongkar sekat, batas, dan tembok; karena Yesus menghendaki satu bingkai saja yaitu kasih dari dan kepada Allah. Kasih menjadi satu-satunya ukuran untuk menjalani kehidupan sebagai pengikut Kristus.

Hidup dengan standar kasih membuat kita bebas menentukan siapa sesama kita. Tidak ada lagi batasan bahwa yang harus kita tolong atau dukung adalah yang seagama, sesuku, sewarna kulit saja. Pertanyaan “Agamamu apa?” ketika ingin menolong, atau “Dari suku apa?” ketika memilih teman, menjadi tidak relevan. Sesama kita adalah siapapun yang berhak menerima kasih Allah dan yang telah menunjukkan kasih Allah kepada kita.

Apakah selama ini yang berbuat baik kepada kita hanya yang sesuku atau seagama saja? Apakah selama ini kita berbuat baik hanya kepada yang sesama saja? Semoga kita tidak membatasi kasih Allah yang tidak terbatas.

 

(IYS)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry