Keluarga Adalah Ladang Tuhan Yang Harus Digarap

Yesaya 5:1-7 & Matius 21:33-46
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Dua bacaan tersebut berbicara tentang kebun anggur.
Israel adalah kebun anggur milik Allah yang sangat dikasihi, yang diharapkan menghasilkan buah-buah yang banyak dan manis. Di zaman itu, di Galilea, ada banyak tuan tanah di Israel. Mereka adalah para tuan tanah ‘absentee’ ( yang tidak ada di tempat ). Tanah milik mereka menyediakan pekerjaan bagi penduduk setempat dan memberi keuntungan buat mereka. Menurut aturan hukum, seorang pemilik tanah harus mengirim utusannya setiap tahun untuk mengambil bagian panen dari para penggarap. Berdasarkan hukum Yahudi, jika seorang tuan tanah tidak mengambil bagian hasil panennya selama tiga tahun berturut-turut, maka ia akan kehilangan haknya atas bagian panen dari kebun anggur tersebut. Ia harus menegakkan hak kepemilikannya atas tanah tersebut dengan cara mengirim hambanya setiap tahun.

Dalam Matius 21: 33-46, Yesus bercerita tentang perumpamaan para penggarap kebun anggur yang jahat, yang setiap tahun menghajar hamba-hamba pemilik kebun yang datang saat menjelang panen. Sampai pada akhirnya saat pemilik anggur mengutus anaknya sendiri, anaknya pun dibunuh. Bisa jadi para penggarap berharap masa tiga tahun terlewati dan kebun itu jadi hak milik mereka. Melihat itu semua, tentu saja pemilik kebun tidak tinggal diam; para penggarap tanah yang jahat itu akan dibinasakannya.

Cinta kasih Allah pada kebun anggur-Nya, yaitu orang-orang percaya, sangat nyata. Kebun anggur dibangun dengan fasilitas yang lengkap. Pagar perlindungan dibuat di sekeliling kebun. Dibuat lubang pemerasan anggur. Kebun dirawat sedemikian rupa, tanah dicangkul dan batu-batu dibuang dan dibangun menara jaga di tengah kebun (Yesaya 5:2).

Kita dan keluarga adalah kebun anggur atau ladang Tuhan, dan Allah menantikan hasil buah-buah dari hidup beriman kita. Seperti kebun atau ladang anggur yang harus digarap, hidup kitapun harus digarap, dicangkul – dibongkar, dicabuti rumputnya dan batu-batu dibuang dari sekitarnya – sehingga kitapun harus membuang dosa-dosa dan kekotoran perilaku hidup, menjaga kehidupan dengan menara doa dan perisai perlindungan dengan firman Tuhan. Sehingga hidup keluarga kita menjadi subur dan menghasilkan buah-buah iman; perbuatan kasih dan kebaikan. Tentu bukan buah yang asam dan berulat ya!

 

( Pdt. RSM )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry