Keluarga Yang Berpusat Pada Allah

( Yesaya 45:1-7 dan 1 Tesalonika 1: 1-10 ) Dalam rangka Masa Penghayatan Hidup Berkeluarga
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Hampir setiap orang pernah mengalami dan menghadapi ‘krisis’ dalam kehidupannya ( baik dalam kehidupan pribadi ataupun dalam kehidupan keluarga dan masyarakat ). Ada masa di mana kita harus menghadapi krisis ekonomi, keluarga, sosial, kesehatan, dll. Pertanyaannya adalah apa yang kita lakukan dalam situasi dan kondisi yang demikian?

Menjadi gambaran bagi kita semua bahwa Yesaya hidup pada masa di mana bangsa Yehuda ( Israel selatan ) menghadapi banyak ‘krisis’ di negeri pembuangan Babel. Di tengah hantaman krisis ini, nampak bangsa Yehuda yang adalah umat pilihan Allah, justru tidak memusatkan dirinya pada Allah. Dalam situasi yang sulit itu mereka justru mengandalkan diri sendiri, mengandalkan berhala-berhala mereka, dan mengandalkan kekuatan mereka sebagai bangsa pilihan Tuhan ( berpusat pada kekuatan diri ). Hasilnya adalah kehancuran. Namun bila kita perhatikan, apakah kemudian Allah berdiam diri melihat kehancuran Yehuda? TIDAK. Allah justru memakai Raja Koresh ( Yesaya 45:1, 4 ). Sangat mengejutkan dan tidak masuk di akal, karena Koresh adalah seorang Raja dari bangsa yang tidak mengenal Allah. Koresh dipanggil, diurapi, dan dipakai oleh Allah untuk sebuah tujuan, yaitu membebaskan dan memulihkan bangsa Yehuda.

Kehadiran Raja Koresh dalam kehidupan bangsa Israel menjadi pengingat untuk kita semua, bahwa Allah dapat memakai siapa saja untuk menolong kita dan keluarga kita agar selalu berpusat pada Dia. Lihatlah, Raja Koresh yang tidak mengenal Allah meyakini bahwa kemenangan yang didapatkan oleh karena campur tangan Allah Israel. Dari apa yang dihadapi dan dialami oleh bangsa Yehuda, kita juga dapat melihat ada berkat yang mengiringi anak cucu dan keturunan kita, ketika dalam hidup sebagai pribadi dan keluarga yang selalu berpusat pada Allah. Berbicara tentang berkat tentu tidak hanya tentang materi. Berkat yang diterima oleh bangsa Yehuda lebih daripada materi, karena yang mereka dapatkan adalah kemerdekaan dari Babel, tempat pembuangan dan pemulihan yang sejati (Yesaya 48).

Melalui Masa Penghayatan Hidup Berkeluarga ini, rindukah Saudara memiliki kehidupan keluarga yang dimerdekakan, dipulihkan dan diberkati jadi keluarga yang kokoh?

Jika iya, hendaklah dalam setiap pergumulan/krisis di kehidupan, kita selalu:

1. Hidup terus bergantung pada Tuhan, taruhkanlah harapan itu hanya pada Tuhan. Jadikan Tuhan sebagai pusat dalam setiap langkah keluarga kita. Jangan bersandar pada kekuatan diri sendiri. Belajarlah dari perjalanan hidup bangsa Yehuda, apa akibatnya ketika mereka mengandalkan kekuatan sendiri? Yang ada hanya kehancuran.

2. Hidup sesuai dengan kehendak Tuhan (takut akan Allah). Belajarlah dari Raja Koresh, seorang yang bahkan tidak mengenal Allah, tapi dia tetap taat pada Allah Israel. Dan seharusnya kitalah yang menjadi teladan dalam ketaatan pada Tuhan.

3. Hiduplah terus melayani-Nya dan jadilah berkat di mana pun kita berada.

Tuhan memberkati.

 

( Pdt. RIW )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry