Kemuliaan Bukan Untuk Ciptaan

Saat kita bersungguh-sungguh menyembah-Nya, membuka diri kita apa adanya di hadapan-Nya; Dia, dengan kasih kuasa-Nya akan membawa perubahan yang lebih baik di dalam hidup kita.
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Banyak dari kita mungkin pernah mendengar cerita ini:

“Suatu kali seorang anak kecil diajak oleh ayahnya ke konser piano tunggal. Ayahnya berpikir, karena anaknya hobi bermain piano, pertunjukan dari pianis yang piawai di bidangnya pasti bisa menginspirasi anaknya. Lalu ketika konser akan dimulai, lampu di tribun penonton dimatikan dan lampu sorot hanya diarahkan ke piano besar di atas panggung; si anak tiba-tiba berlari ke arah piano dan duduk di depannya. Seorang petugas keamanan hampir menyuruhnya turun, ketika sang pianis memberi isyarat padanya untuk membiarkan anak itu. Kemudian si anak kecil ini mulai memainkan lagu ‘Twinkle Twinkle Little Star’, karena hanya lagu itu yang bisa dimainkannya dengan kedua jari telunjuknya. Penonton yang tadinya gaduh, mulai tenang saat sang pianis duduk di samping anak itu dan ikut bermain dengan menyempurnakan nada-nada piano yang dimainkan si anak. Ketika permainan selesai, sontak penonton bertepuk tangan dan beberapa melakukan standing ovation. Si anak begitu gembira melihat dirinya menjadi pusat perhatian para penonton dan berlari ke ayahnya dengan bahagia. ‘Papa, aku bisa… aku bisa!’ teriaknya.”

Ceritanya hanya berhenti sampai di situ. Sayang tidak dijelaskan apakah ayahnya lalu berkata pada anaknya, menjelaskan bahwa semua tepuk tangan itu sebenarnya untuk sang pianis yang sekarang bermain untuk mereka. Tapi saya suka berpikir lanjutannya demikian: si anak menjadi lebih percaya diri dan yakin pada bakatnya (sebagai pemusik) lalu tetap rendah hati karena saat beranjak dewasa, dia menyadari sendiri bahwa sang pianis yang duduk di sebelahnyalah yang mendapat tepuk tangan dan pujian dari banyak orang; dan semua kemuliaan itu bukan untuknya.

Tapi sayangnya banyak dari kita lupa, di tengah proses saat beranjak dewasa (secara rohani tentu saja), bahwa pujian dan sanjungan yang kita terima tidak pernah untuk kita.┬áKredit itu seharusnya kita berikan pada “Sang Pianis” yang selalu bersama kita, kepada Tuhan Allah yang menghembuskan nafas-Nya (menjadikan kita hidup) dan yang tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya.

Menurut Darlene Zschech, seorang pemimpin pujian di “Hillsong”, salah satu alasan banyak artis -musikus, penyanyi, atau aktor dunia yang terkenal- tidak tahan berada di tengah-tengah lampu sorot –sehingga banyak dari mereka lari ke obat bius, narkotika, dan kehidupan yang berantakan– adalah karena tubuh manusia tidak pernah dirancang untuk menerima kemuliaan (pujian, sanjungan). Manusia tidak pernah diciptakan untuk menerimanya; tetapi kita dirancang untuk memberikannya, dan meneruskannya kepada Dia yang menciptakan kita. Karena ketika kita menerima kemuliaan, dan terus menerus menerima (bahkan menyimpannya), pada akhirnya semua itu akan menjadi keangkuhan yang merusak jiwa kita. Bahkan hal inipun banyak menimpa para pelayan di gereja: dari mulai pendeta, pemimpin pujian, hingga para penatua.

Keangkuhan spiritual itu berbahaya!

 

Di dalam doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus: “Doa Bapa Kami” (Matius 6:9-13), pada akhir doa tersebut kita diberi pengertian agar mengetahui (dan mengakui) bahwa hanya Tuhanlah yang mempunyai Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Jadi kemuliaan adalah milik Allah dan tidak pernah untuk manusia (sehingga kita juga pernah mendengar nasehat: jangan mencuri kemuliaan Tuhan). Seharusnyalah kita berkata seperti raja Daud: “Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi.” (I Tawarikh 29:11)

Oleh karenanya, kita harus menyadari bahwa semua perbuatan besar dan hebat yang bisa kita lakukan itu hanya karena pertolongan dan kasih kuasa Allah saja. Karena dengan menyadari hal ini kita akan memahami bahwa karya Allah bagi dunia, tidak pernah tertuju (atau berhenti) pada diri kita saja. Tapi Dia ingin agar potensi besar yang diberikan-Nya dalam diri kita, dibagikan kepada sesama dalam bentuk rasa peduli dan tindakan kasih yang nyata; karena hati Allah, kasih-Nya, selalu tertuju kepada umat manusia.

(Vic)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry