Keterbukaan Adalah Awal Dari Pemulihan

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Saya adalah seorang introvert. Di tengah segala kesibukan yang saya miliki, saya lebih suka mengambil jarak dari orang banyak dan memiliki waktu dengan diri sendiri. Saya lebih menyukai refleksi dan kesunyian daripada keramaian dan hingar bingar. Saya memiliki masalah dengan rasa percaya diri hingga berdampak pula pada sulitnya mempercayai orang lain. Rasanya, bisa dihitung dengan jari jumlah orang yang dekat dengan saya dan mengenal pribadi saya.

Di usia yang sangat muda, saya pernah mengambil keputusan untuk tidak menikah. Saya berpikir bahwa tidak ada orang yang benar-benar bisa dipercaya, dan mustahil rasanya hidup berpuluh-puluh tahun dengan seorang manusia, berbagi hidup, memberikan sisa hidup yang saya miliki bersama dengan dia, seorang manusia, yang mungkin saja suatu waktu dapat mengecewakan dan melukai saya. Saya berprinsip bahwa saya lebih baik seorang diri, mengejar karir, hidup seorang diri, bermanfaat bagi orang banyak, tanpa perlu berbagi rasa dan beban hidup dengan siapapun.

Hingga suatu waktu, ketika saya mengikuti ibadah di GKI Gejayan dan melihat info sekolah konseling, tiba-tiba saja hati saya tergerak untuk mengikuti School of Counseling (SoC). Dalam mengikuti setiap sesi di kelas, rasanya diri saya berproses luar biasa. Saya seperti sungguh-sungguh belajar kembali dari nol tentang ( mengenal ) diri saya. Mulai dari materi Lingkaran Kebutuhan, Luka Batin, Relasi Dengan Pasangan/Keluarga, dan banyak hal lain. Melalui kelas konseling saya belajar untuk menanggalkan segala ‘topeng’ dan ‘kepalsuan’ untuk sungguh-sungguh melihat diri saya utuh sebagai pribadi yang dikasihi Tuhan. Selama ini saya merasa bisa hidup tanpa orang lain, dan menganggap prinsip hidup yang demikian adalah bukti kemandirian dan ketangguhan yang saya miliki. Padahal sesungguhnya, itu hanyalah bentuk keangkuhan yang saya miliki dan merupakan bias dari luka-luka saya di masa lalu yang pernah dikecewakan, dikhianati, ditindas, dan dianggap tak berdaya.

Pada sekolah konseling ini pula saya belajar bahwa Tuhan mengirimkan orang lain untuk menjadi partner hidup, sebagai perpanjangan tangan-Nya untuk menyatakan kasih-Nya bagi diri saya. “Keterbukaan adalah awal dari pemulihan”, demikian kata-kata yang selalu saya ingat. Melalui kelas ini pun saya belajar terbuka dengan orang lain dan menumbuhkan kepercayaan di dalam Tuhan. Saya mengikuti setiap sesi Terapi Kelompok hingga Konseling Pribadi, dan menemukan bahwa diri saya tidaklah sendirian. Dengan keterbukaan, pemulihan terjadi; dan saya pun dapat menjadi pribadi yang belajar untuk menolong orang lain, dan menjadi pendengar yang baik.

Tak ada luka yang paling berat dan paling ringan. Luka adalah luka. Dengan keterbukaan, maka itu adalah awal dari pemulihan.

– Kesaksian peserta SOC angkatan 8 –

********/*******

Sekilas tentang SOC

Oleh sebab itu, mulailah untuk berani membuka diri. Pelayanan Tim Konseling GKI Gejayan siap membantu Anda.

Klik -> ministry.gkigejayan.or.id/infokonseling/

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
4