Ketika Cinta Ini Berbeda

Ilustrasi: Google
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Saya adalah seorang laki-laki yang tidak banyak bicara, sehingga saya tidak memiliki banyak teman. Tetapi ketika berteman, saya bisa cukup dekat dengan mereka. Saya bisa bercerita lebih dalam dan lebih terbuka kepada orang-orang yang akrab dan mengenal pribadi saya. Tetapi ketika lelah, saya cenderung menarik diri dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat; memulihkan energi untuk beraktivitas kembali.

Berbeda dengan pacar saya. Dia suka berbicara dan memiliki banyak teman. Tetapi tidak ada yang sangat dekat dan sangat terbuka dengannya kecuali saya, pacarnya. Entah mengapa, ketika dia merasa lelah, dia justru makin aktif berbicara dan saya sasarannya. Saya harus menemani dia jalan-jalan, mendengarkan dia bicara dan bercerita.

Jadi bayangkan, bagaimana jika saya lelah dan dia juga lelah?

Saya ingin istirahat, tetapi pacar saya ingin terus bersama dan bicara. Saya butuh tidur, tetapi harus mendengarkan dia bercerita. Dia bilang, kalau cerita atau jalan-jalan dengan saya, capeknya akan hilang. Jadi realitanya… dia mungkin merasa lebih baik alias tidak capek lagi; tapi saya??? Saya malah justru merasa sangat lelah: tepaaaar….

Namun konflik ini akhirnya bisa saya pahami setelah mengikuti School of Counseling ( SOC ) di GKI Gejayan. Terutama saat materi dengan topik MBTI dan kemudian mengikuti tesnya, saya baru tahu bahwa Tuhan menciptakan setiap orang dengan keunikannya masing-masing. Manusia memiliki 32 kecenderungan yang berbeda-beda menurut Myers-Briggs Type Indicator. Karena materi di SOC jugalah, akhirnya saya paham kalau diri saya memiliki kecenderungan Introvert Thinking. Ketika lelah, seorang introvert cenderung menarik diri dan butuh istirahat. Sedangkan kecenderungan thinking adalah kecenderungan saya untuk menggunakan logika dalam bertindak. Hal ini bertolak belakang dengan kecenderungan pacar saya yang memiliki kecenderungan EkstrovertFeeling. Sebagai seorang ekstrovert, ia butuh “ke luar”, butuh berinteraksi dengan orang lain untuk memulihkan energinya. Lalu dengan kecenderungan feeling, menjadikan ia lebih banyak menggunakan perasaan sebagai dasar tindakannya.

Setelah mengetahui hal ini, kami lebih banyak belajar akan diri kami masing-masing. Hingga kemudian mulai berkomitmen untuk lebih saling menghargai perbedaan di antara kami ( meski kenyataannya saya yang lebih banyak mengalah… hehe )

Inilah kisahku dengan pasanganku. Kami jadi semakin mengerti satu sama lain setelah belajar bahwa masing-masing dari kami memiliki kecenderungan yang berbeda.

-Kisah salah seorang Tim Konseling GKI Gejayan-

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
6