Kotak Yang Tak Kasat Mata

“Orang-orang ini lucu; bersatu padu saja belum tentu membuat bangsa ini makmur dan maju, eh malah mengotak-kotakkan orang dengan label suku, agama, dan partai politiknya. Tapi terus marah-marah ke pemerintah karena negara gak kunjung makmur dan maju...” (Sam)
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Bu, disuruh mama beli Rinso 5 sachet,” kata Budi, suatu kali saat disuruh mamanya pergi ke warung. Penjaga warung yang sudah hafal dengan merk deterjen yang biasa dipakai mamanya Budi, langsung saja memberikan deterjen merk lainnya, seperti biasanya.

Pak, kapan mau beliin Honda buat Dimas? Dia kan udah kuliah sekarang.” kata seorang istri kepada suaminya. Yang dimaksud mamanya Dimas bukan merk motor Honda, tapi membeli motor untuk anaknya.

Ma, Odol habis nih. Mau sikat gigi gak bisa,” kata seorang suami pada istrinya. Padahal suaminya memegang merk lain, tapi istrinya tahu maksudnya: dia perlu membeli pasta gigi yang baru.

Pak, ini Sanyo rusak. Gak bisa masak air.” (yang dimaksud adalah pompa air, apapun merknya)

Mas, beliin Nokia. Hape lamaku rusak.” (yang dia mau itu sebuah ponsel baru, apapun merk yang di toko)

Buatin Indomie rebus pake telor.” (yang diinginkannya itu makan mie instan, apapun merk yang ada di dapur)

Mbak, Aqua satu botol ya.” (yang dimaksudkannya adalah sebotol air mineral, apapun merk yang diberikan oleh penjaga warung)

 

********/*******

 

Ya, itulah hal-hal yang sering terjadi di masyarakat kita. Sering memberikan label atau cap tersendiri, sesuai yang mereka inginkan. Mereka gak peduli, apakah orang lain tahu maksudnya atau tidak. Yang ada di benak mereka, Rinso itu berarti deterjen, dan Sanyo adalah pompa air. Titik. Perkara nantinya salah kaprah, salah kasih merk barang, itu urusan belakang. Kalau sudah tahu sih gak masalah, cuma kalau orang yang belum mengenal sifat atau kebiasaannya, hal ini bisa jadi masalah. Sampai kemudian kemudian terbawa-bawa sampai ke pergaulan di lingkungannya.

Seperti misal saya pernah mendengar statement bahwa orang Tionghoa itu pelit dan gak gaul. Padahal saya punya teman seorang Tionghoa yang suka memberi dan supel, mudah bergaul. Atau celetukan yang bilang kalau suku Jawa itu lelet, karenanya ada prinsip “Alon-alon asal kelakon”. Tapi ada aktivis di gereja, orang Jawa, yang saya lihat sangat cekatan dalam melakukan tugasnya. Juga masih banyak pemikiran sempit di masyarakat yang suka men-generalisasi-kan sesuatu. Ya itu tadi, suka memberi label kepada sekelompok benda atau manusia, berdasarkan “Merk” yang paling terkenal di antara kelompok sejenis. Padahal tiap manusia itu berbeda, mempunyai keunikan tersendiri. Mempunyai ciri khas masing-masing.  Kalau ibarat makanan, masing-masing kita mempunyai rasa yang unik. Memang, banyak jenis soto yang dijual di pinggir jalan, tapi apakah semuanya mempunyai rasa yang sama? Soto di Sagan dan di jalan Mangkubumi, jelas berbeda rasanya, meskipun mempunyai jenis yang sama, yaitu soto Kudus.

Ada sebuah adegan di film “Cin(T)a”, saat Annisa mengetahui kalau Cina bekerja part time untuk menghidupi dirinya. Kemudian seperti mengetahui pikiran Annisa, Cina bilang padanya, “Gak semua orang Cina itu kaya“.  Cina tahu, kalau Annisa punya mindset bahwa semua orang Cina itu kaya. Nyatanya, memang tidak demikian juga.

Inilah mindset yang salah, yang harus segera diubah oleh masyarakat Indonesia jika tidak ingin dipecah belah. Cara berpikir yang sempit, karena melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Apakah karena pelaku bom di negeri ini semuanya muslim, lalu kita bilang, muslim itu teroris? Hingga kita selalu waspada saat melihat perempuan bercadar atau lelaki berjenggot panjang dan bercelana cingkrang. Nyatanya, banyak kan muslim yang baik? Yang bisa hidup bermasyarakat dengan damai. Mengapa harus memberi label demikian terhadap semua orang muslim? Juga sebaliknya, misal ada seorang tersangka kasus suap yang adalah seorang pendeta.

Apakah karena negara Amerika Serikat dan sekutunya menyerang Irak, sehingga kita anti terhadap semua warga negara Amerika Serikat? Menyebut mereka semua adalah penjahat perang atau orang kafir? Hingga beberapa orang selalu antipati saat melihat turis asing (bule) yang sedang berjalan-jalan di pusat keramaian, sambil berpikir bahwa mereka adalah agen CIA atau sejenisnya. Belum tentu turis itu juga seorang agen CIA atau orang Amerika. Bisa saja turis itu berkewarganegaraan Perancis atau Australia.

Ada sebuah analogi: jika kita pernah jalan-jalan ke Bali, hampir semua antrian di bengkel motor di sana adalah motor berjenis matic. Apakah motor matic jelek? Tapi coba lihat antrian di bengkel motor di Jogja kebanyakan motor manual (ada gearnya). Apakah motor manual di Jogja itu jelek? Bukankah ini lebih disebabkan karena mayoritas motor di Bali itu bertipe matic dan di Jogja kebanyakan motor bertipe manual? Juga pernahkah kita berpikir, mengapa di pulau Jawa ini kebanyakan pasien yang dirawat di rumah sakit adalah orang Jawa? Bukan karena orang Jawa punya fisik yang lebih lemah, tapi lebih dikarenakan populasi orang Jawa yang terbanyak di pulau ini.

Hal ini juga sama dengan kasus-kasus lainnya, yang disebabkan karena sempitnya sudut pandang manusianya dalam melihat segala sesuatunya, sehingga memberi label dari apa yang dilihatnya saja; bukan melihatnya dengan sudut pandang yang lebih luas (global).

Jika kita mempunyai dan tetap memelihara sudut pandang yang sempit ini, disadari atau tidak, malah akan membuat kita hidup dalam kotak-kotak yang tak kasat mata, yang lama kelamaan bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Karena bukankah isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Afiliasi) akhir-akhir ini sering dijadikan bahan utama memprovokasi massa? Jadi hendaknya kita jangan reaktif dan mudah dimanipulasi karena sesuatu yang tidak kita pahami dan ketahui secara pasti. Agar selanjutnya kita bisa lebih bijaksana saat akan bertindak dan berbuat, demi Indonesia yang lebih berdaulat.

 

“Tiada yang salah dengan perbedaan dan segala yang kita punya … yang salah hanyalah sudut pandang kita, yang membuat kita terpisah.” (Tere)

 

Karena nyatanya, kita semua diciptakan berbeda-beda. Dan harusnya perbedaan itu bisa membuat kita saling melengkapi dan menyempurnakan, bukan malah memecah belah dan akhirnya merusak persatuan.

Bhineka Tunggal Ika itu sudah pas dengan kondisi negara kita. Dan negara Pancasila itu sudah final.” (Presiden Joko Widodo)

 

(Vic)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3