“Mendingan Dosa Ini Daripada Dosa Itu…”

"If you judge people, you don't have a time to see yourself clearly."
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

 

Ada komentar yang menarik di salah satu postingan gambar “pasangan yang tidak seimbang” ( II Korintus 6:14 ). Komentarnya kurang lebih seperti ini: “Menurut mimin ( admin ) mending mana: pacaran sama yang gak seiman tapi gak pernah aneh-aneh, atau pacaran sama yang seiman tapi pacarannya gak kudus sampai si cewek hamil sebelum menikah?
Ketika membaca komentar ini, saya langsung teringat pertanyaan di sebuah acara talk show TV: “Lebih milih mana: anak lo bilang sama elo kalau dia hamilin pacarnya atau anak lo bilang sama elo kalau dia gay?

Pertanyaan-pertanyaan seperti tadi sepertinya mulai marak akhir-akhir ini, baik di media sosial dunia maya maupun di kehidupan sosial dunia nyata: mending mana…? Lebih baik yang mana…? Jadi seolah-olah dosa itu ada levelnya… Misal dosa kekudusan. Level 1 itu ciuman. Level 5 itu berhubungan seks di luar nikah. Level 10 itu hamil sebelum nikah. Level 15 itu aborsi. Level 20 itu homoseks.
Atau pembelaan-pembelaan lainnya: “Mendingan ngomong kotor daripada korupsi“, atau “Daripada nyontek mending kasih contekan“, ada juga “Lebih baik nonton film porno lah, daripada ngerusak anak orang.
Tapi sebenarnya di balik pembelaan pada dosa yang dilakukan, dengan menjustifikasi bahwa “dosa X” lebih baik daripada “dosa Y”, tidak akan pernah membawa kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Malahan sesungguhnya dia akan pelan-pelan tenggelam dalam dosa-dosa “sepele”nya dan tahu-tahu “mati” karena tersadar sudah di dasar kubangan dosa.

Kepada orang-orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. ( Lukas 18:9-14 )

Perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai: sekali saja membanggakan diri dengan apa yang kita lakukan bagi Tuhan, di situlah kesombongan menguasai kita.

 

Ya kan gak ada orang yang sempurna… Emang kita malaikat?” biasanya akan jadi pembelaan terakhir orang-orang yang suka defense terhadap dosa yang sering dilakukannya. Tapi bukankah Tuhan Yesus pernah berkata agar kita, manusia, harus sempurna? ( Matius 5:48 ) Jika Tuhan Yesus meminta kita melakukannya, pastilah Dia tahu kemampuan manusia yang notabene ciptaan-Nya. Caranya? Dengan terus berusaha memperbaiki diri kita: tidak menghakimi orang lain dan mengakui dosa-dosa kita di hadapan-Nya ( bukan malah terus membela diri ), sambil selalu berusaha keluar dari jerat dosa. Tuhan Yesus itu tidak pernah lelah mengampuni kok, kitanya saja yang sering dibuat lelah oleh iblis untuk memohon pengampunan pada Tuhan Yesus… Lalu bukankah kita juga sering bernyanyi: “‘ku mau s’perti-Mu Yesus, disempurnakan s’lalu…“? Jadi Dia sanggup menyempurnakan hidup kita, asal kita sungguh-sungguh melakukannya.

Jadi mulai sekarang jangan lagi kita membela diri atas dosa-dosa yang sudah dilakukan, atau merendahkan orang lain karena dosa yang mereka lakukan, hanya demi kenyamanan sesaat untuk diri kita di masa sekarang. Dengan berbuat demikian, maka kita pasti akan makin disempurnakan. Karena bukannya akan susah mengubah seseorang jadi lebih baik, jika dia yakin dirinya sudah baik?

"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." ( Amsal 3:5-6 )

( Vic )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry