Malkhus

Malkhus dan Keajaiban Paskah (Sumber Gambar : Suka Nonton Film)
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Oleh : Eko Sujatmiko

Namanya Malkhus. Ia ajudan Imam Besar. Kemungkinan ia adalah pemimpin operasi penangkapan Yesus di taman Getsemani. Karenanya, ia berada di barisan depan pasukan, bersama Yudas Iskariot, sang penunjuk jalan. Di belakang mereka ada ratusan serdadu membawa lentera dan senjata.

Insiden kecil mewarnai operasi penangkapan malam itu. Salah seorang murid Yesus ternyata membawa pedang. Dan sebelum ia bersiaga, murid itu menghunus pedang, lalu mengayun sekuat tenaga ke arah kepalanya. Kepalanya luput dari tebasan pedang, tetapi tidak dengan telinganya.

Yesus, Orang yang hendak ditangkapnya itu, menyuruh murid-Nya berhenti menyerang. Kemudian Yesus memegang telinga kanannya yang putus. Ajaib, daun telinga yang sudah lepas itu tiba-tiba tersambung kembali. Ia sudah berulang kali mendengar tentang mukjizat Yesus, tetapi malam itu, ia merasakannya sendiri.

Peristiwa itu mencatatkan Malkhus menjadi orang terakhir yang disembuhkan Yesus sebelum Dia disalib. Sayang, kisahnya berakhir sampai di situ saja. Tidak ada catatan apapun tentang ucapan maupun tindakannya pasca insiden dramatis itu. Namanya tidak lagi disebut, baik dalam Alkitab, maupun dalam tradisi-tradisi awal gereja. Penulis sejarah gereja, seperti Eusebius, juga mengabaikannya.

Ada kisah lain yang kontras dengan kisah Malkhus. Seorang centurion yang bertugas mengawal penyaliban Yesus. Ia melihat tubuh Yesus yang koyak. Ia mendengar seru Yesus di atas salib. Ia menyaksikan gerhana dan gempa bumi yang mengiring kematian Yesus. Mengalami itu semua, kepala pasukan Romawi ini kemudian memuliakan Allah. Ia menjadi beriman meski tidak ada satu pun peristiwa adikodrati yang ditujukan khusus baginya. Tiga penulis Injil mengekalkan pengakuan imannya itu (Mat 27:54, Mar 15:39, Luk 23:47).

Kisah Malkhus (dan kisah kepala pasukan Romawi) menyiratkan sebuah pesan penting. Seseorang bisa saja mengalami keajaiban Tuhan, namun tetap tidak beriman dan tidak diselamatkan. Seseorang bisa saja mendapat mukjizat dan berkat, namun tidak pernah bertobat. Seseorang bisa mendapat jawaban doa, tetapi jawaban doa itu tidak membuatnya meninggalkan kehidupan penuh dosa. Seseorang bisa mendapat anugerah keselamatan, tetapi ia menganggap keselamatan bukanlah sesuatu yang istimewa.

PASKAH telah melintas lagi dan memunculkan sejumlah tanya di benak saya. Sudah PAS-KAH respon saya terhadap mujizat keselamatan Kristus? Apakah selama ini saya bersikap seperti Malkhus? Apakah saya membiarkan mukjizat terbesar dalam kehidupan itu lalu begitu saja? Sudahkah saya memuliakan Kristus dan berusaha hidup sepenuh-penuhnya bagi Dia? Saya kehilangan kata untuk menjawabnya.

 

***

Sumber tulisan : Warta Jemaat GKI Gejayan Bajem Adisucipto, Minggu 16 April 2017.
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2