Maukah Engkau Sembuh?

"Aku telah melihat segala jalannya itu, tetapi Aku akan menyembuhkan dan akan menuntun dia dan akan memulihkan dia dengan penghiburan; juga pada bibir orang-orangnya yang berkabung..." (Yesaya 57:18)
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Sebelum menulis ini, saya teringat kalimat dari Ed Warren: “Sang Iblis ada. Tuhan juga ada. Dan bagi kita, sebagai manusia, masa depan bergantung pada apa dan siapa yang kita pilih untuk kita ikuti.

Tahukah Anda, salah satu muslihat licik dari Iblis adalah membuat orang-orang percaya bahwa ia (Iblis) tidak ada; dan bahwa ia (Iblis) tidak ada kaitannya dengan rasa kehilangan, kesedihan, penderitaan, dan semua kesengsaraan yang kita hadapi. Sehingga kemudian, yang manusia lakukan, adalah mulai menyalahkan dirinya sendiri… dan Tuhan.

Padahal inilah yang sesungguhnya Iblis lakukan: ia mengalihkan pikiran kita dari uluran tangan kasih Tuhan.

Pertanyaan Tuhan Yesus di kitab Yohanes 5 pasal 6

 

Kalau kita membaca Yohanes 5:1-8, di situ diceritakan tentang seseorang yang sudah 38 tahun sakit (lumpuh, sepertinya) dan disapa oleh Tuhan Yesus: “Maukah engkau sembuh?“. Aneh memang membayangkan ini, Yesus bertanya pada seseorang yang sudah 38 tahun sakit lumpuh: “Maukah engkau sembuh? (Yohanes 5:6).

Coba bayangkan hal yang berbeda, misalnya ada seseorang yang sudah puluhan tahun hidup miskin dan tiba-tiba Bill Gates lewat di depan rumahnya dan bertanya: “Maukah hidup Anda lebih baik?“. Pasti kita akan berpikir: ya pasti mau lah! Tapi buat beberapa orang, ternyata tidak sesimpel itu; termasuk orang yang sudah sakit lumpuh selama 38 tahun ini. Dituliskan, “Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia (orang sakit itu) telah lama dalam keadaan itu, …

Tuhan Yesus sudah tahu! Itu fakta nomor satu dari cerita ini: Tuhan Yesus sudah tahu bahwa orang (yang sakit) itu sudah lama berbaring karena lumpuh. Tapi Tuhan Yesus tidak langsung berkata: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Tuhan Yesus malah bertanya: “Maukah engkau sembuh?

Dari peristiwa ini kita bisa belajar, bahwa Tuhan Yesus itu penuh kasih; Dia tidak pernah memaksa. Dia selalu bertanya untuk menyelidiki hati kita. Banyak orang sering menyangkal bahwa dirinya sedang “sakit”. Mereka berkata bahwa dirinya baik-baik saja. Tapi benarkah demikian? Benarkah kita, saya, selalu dalam keadaan baik-baik saja? Ataukah hanya mempertahankan keadaan dan kemudian mencari alasan?

Bukankah bisa saja orang lumpuh itu tidak mau sembuh? Karena mungkin pikirnya: kalau aku sembuh, bisa berjalan, pasti aku harus bekerja untuk menyambung hidup … bukankah selama ini aku cukup berbaring dan bisa hidup dari belas kasihan orang? Oleh karenanya, ketika Yesus menawarkan kesembuhan, orang sakit itu malah berkata: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.Jawabannya pada Yesus adalah keluh kesah, mencari pembenaran (alasan) kenapa dia terus berbaring di situ.

Benarkah kita, saya, dalam keadaan baik-baik saja?

 

Kalimat (jawaban) orang sakit itu bisa saja diubah menjadi: “Tuhan, aku begini karena tidak ada yang perhatian sama aku lagi.
Atau, “Salahmu Tuhan, kok aku jomblo 18 tahun? Jadinya aku kesepian!
Bisa juga, “Aku gak pernah dikasih kesempatan oleh-Mu. Tiap aku berusaha, selalu gagal. Setiap aku mencoba, aku selalu berakhir dengan perasaan kecewa.

Padahal pertanyaan Tuhan Yesus sederhana: “Maukah engkau sembuh?

Jadi mulai hari ini, jangan mau terperangkap pada muslihat Iblis. Karena kenyataannya dia (Iblis) ada dan selalu berusaha mengalihkan perhatianmu dari tangan Tuhan Yesus yang selalu terulur pada engkau setiap hari.

Pertanyaannya sekarang: maukah engkau menyambut uluran Tangan Kasih itu? Dan… maukah engkau menyambut perubahan dalam hidupmu setelah disembuhkan oleh-Nya?

 

Pagi ini, saya ingin meninggalkan pertanyaan ini di benak Anda: “Maukah…? Engkau sembuh…?

 

 

(Vic)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
71