Meng-Gereja di GKI Gejayan?

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Pergi ke gereja adalah aktivitas yang biasa dilakukan oleh orang Kristen, terlepas dari apa motivasinya. Bisa karena tradisi keluarga, rutinitas pribadi (merasa “kurang” kalau belum ke gereja), ingin bertemu teman dan sahabat, mencari jodoh, berdoa, senang/menikmati peribadatan, merasa mendapat berkat, dan lain sebagainya. Tapi pertanyaannya: mengapa kita harus pergi ke gereja? Wajibkah? Apakah Tuhan marah kalau kita tidak ke gereja?

Mari kita cari kata ‘gereja’ dalam Alkitab. Dan saya yakin kita tak akan pernah mendapatkannya. Mengapa? Karena dalam zaman ketika Alkitab dituliskan, yang ada pada saat itu adalah ‘Bait Allah’, tempat umat mempersembahkan korban bakaran; dan synagoge, tempat umat berdoa dan mendengarkan ajaran Kitab Suci. Lantas, dari mana kata gereja itu muncul? Apa artinya?

Kata ‘gereja’ rupanya berasal dari kata latin: ‘igreja’ (Yunani: ‘kuriake’) yang berarti: menjadi milik Tuhan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa gereja adalah pribadi/komunitas milik Kristus Tuhan. Selain itu, secara alkitabiah, kata ‘gereja’ diambil dari kata ‘jemaat’ (Yunani: Ek-Klesia. Ek = keluar, Klesia = dipanggil), yang berarti orang-orang yang “dipanggil keluar” oleh Allah. Dengan kata lain, ‘gereja’ adalah pribadi/komunitas kepunyaan Allah yang dipanggil keluar dari kesendiriannya (eksklusivitasnya) untuk sesamanya, untuk dunia ini.

Banyak gereja yang saat ini sudah meninggalkan jati dirinya. Bukan lagi mengarahkan pandangannya ke luar, tapi selalu ke dalam. Sebut saja gereja-gereja di Eropa yang sepi pengunjung. Di Belanda, ada 250 dari 720 gereja sudah dialihfungsikan atau ditutup. Di Jerman antara tahun 1990-2010, sebanyak 340 gereja ditutup.[1] Banyak dari gereja tersebut dialihfungsikan sebagai fasilitas umum: arena bermain, bar/cafe, pertunjukkan sirkus, butik, dan sebagainya. Hal ini terjadi karena biaya perawatan gedung gereja (dengan pemanas ruangan di musim dingin) memang sangat mahal. Gereja-gereja di Eropa tidak mungkin mempertahankannya tanpa kehadiran jemaatnya lagi.

[1] Sumber : https://www.gatestoneinstitute.org/8005/europe-mosques-churches-synagogues

Gereja di Eidenburgh menjadi sebuah bar.

Gereja St. Joseph di Arnhem (Belanda) menjadi arena permainan skateboard.

 

Beberapa analisa menyebutkan bahwa hal itu terjadi karena gereja di Eropa kurang inovasi dan tak mengikuti perkembangan zaman, yakni kebudayaan populer generasi muda. Tapi pada sisi lain disebutkan bahwa banyak jemaat yang memang ke gereja bukan dengan semangat untuk memberi dan hadir bagi sesamanya, tapi dengan pola konsumerisme; yakni mempertanyakan: “Apa yang bisa gereja berikan pada saya?”, bukan sebaliknya: “Apa yang bisa saya berikan pada gereja?”. Banyak dari mereka menyimpulkan bahwa gereja kurang “nyambung” dengan perkembangan zaman saat ini, tidak klop bila dibandingkan dengan ilmu sains, tidak memberi apa-apa, dan sudah ketinggalan zaman. Banyak pribadi yang tidak menyadari bahwa gereja bukanlah gedung atau tempatnya, bukan orang lain, tetapi diri mereka sendiri, semua umat percaya, yang dipanggil Tuhan bukan untuk bersikap narsis, memperhatikan diri sendiri; tapi untuk memperhatikan dan melayani dunia ini.

Bagaimana dengan gereja-gereja di Asia, khususnya di Indonesia? Nampaknya ada hal yang harus kita syukuri. Berbeda dengan gereja-gereja di Eropa, perkembangan banyak gereja di Asia dan di Afrika ternyata lebih baik.[2] Mungkin karena gereja-gereja di Asia, Afrika, dan khususnya di Indonesia, cukup baik merespon perkembangan zaman dan berakulturasi dengan budaya setempat. Beberapa gereja termasuk gereja kita, GKI Gejayan Yogyakarta, bahkan mengalami pertumbuhan jemaat yang signifikan dari tahun ke tahun. GKI Gejayan nyaris tidak pernah sepi pengunjung, baik pagi, siang, maupun petang; baik akhir pekan maupun hari-hari kerja; selalu ada orang yang mengunjungi gereja. Mulai dari latihan paduan suara, rapat, persekutuan, berdoa, berobat, belajar, berolah raga ping pong seru, hingga nongkrong di Taman Eden/di dekat genset (café Pak Luke).

Bagi saya, ini adalah satu karunia tersendiri dari Tuhan. Banyak orang sudah memilih untuk keluar dari zona nyamannya, untuk berjumpa dengan orang lain di gereja. Banyak orang sudah memilih untuk menggunakan waktunya untuk melayani dalam beragam kegiatan dan program pelayanan. Momen yang baik ini akan menjadi sempurna ketika kita juga mengarahkan program pelayanan kita, yang masih cenderung berfokus pada diri sendiri (komunitas/gereja sendiri), kepada kebutuhan masyarakat di sekitar gereja; merespon keprihatinan yang terjadi di luar temboknya. Sehingga GKI Gejayan Yogyakarta bisa menjadi gereja yang bersuara bagi komunitas AIDS, penyandang disabilitas, masyarakat miskin, korban bencana alam, dan lain-lain. Bagaimana caranya?

GKI Gejayan Yogyakarta memiliki bidang Kesaksian Pelayanan (KesPel). Program-program tersebut antara lain: Pengobatan Gratis (hari Selasa & Jumat), Pendidikan (Beasiswa), Pelawatan, Tim Pelayanan Kedukaan, dan Gerakan Pemberdayaan Masyarakat. Namun dalam pelaksanaannya, program-program tersebut masih membutuhkan partisipasi dari jemaat dan aktivis gereja. Sehingga alangkah indahnya jika kita bisa menyatukan kekuatan, turut ambil bagian dalam pelayanan bidang KesPel gereja. Berperan aktif dalam tiap pelayanan keluar, karena di sanalah letak panggilan kita sebagai gereja. Menjadi gereja yang konkret bagi dunia di luar (diri) kita, yang masih membutuhkan kasih Tuhan. Hingga kemudian kegiatan berinteraksi bukan hanya secara internal, tapi juga secara eksternal, dengan lingkungan di luar gedung gereja.

Lantas maukah kita menghayati panggilan sebagai GEREJA Tuhan? Gereja bukanlah gedungnya, bukan kegiatannya, bukan programnya. Gereja adalah orangnya yang dipanggil “keluar” dari zona nyaman untuk melayani dunia.

[2]Sumber: http://katoliknews.com/2016/03/11/statistik-masa-depan-gereja-katolik-ada-di-asia-dan-afrika/
Kekristenan diperkirakan akan terus berkembang di Asia, naik dari 4,5% pada tahun 1970 menjadi 9,2% pada tahun 2020. Demikian juga populasi Kristen di Afrika diproyeksi akan naik dari 38,7% pada tahun 1970 menjadi 49,3% pada tahun 2020. Penganut Katolik Roma dan Anglikan berkembang cepat di Afrika. Tahun 2000, penganut Gereja Anglikan di Afrika lebih lebih besar daripada di tempat asal-usulnya di Eropa. Sumber: http://www.suarakristen.com/blog/2015/02/22/tahun-2020-populasi-kristen-sedunia-26-milyar-orang/

(GPP)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry