Mengapa Berdoa?

Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Saya lupa pendeta siapa yang pernah menggunakan cerita ini pada bagian dari kotbahnya, tapi bagian itu sangat saya ingat sampai sekarang. Jadi ceritanya ada seorang pengusaha Kristen yang baik sedang dijamu oleh kolega bisnisnya pada sebuah pesta. Ketika hidangan utama disajikan, sebelum makan, pengusaha itu berdoa sebelumnya; seperti kebiasaannya. Saat dia berkata: “Dalam nama Yesus, amin.“, mangkuk sup yang ada di depannya tiba-tiba retak dan pecah. Sontak seluruh undangan yang semeja dengannya kaget dan terpengarah. Lalu karena kejadian itu, tamu-tamu undangan yang semeja dengan si pengusaha tidak jadi menyantap hidangan sup karena percaya pada takhyul; dan ternyata sup yang disajikan malam itu menimbulkan keracunan bagi tamu pesta lainnya. Hanya pengusaha itu dan mereka yang semeja dengannya yang diluputkan dari bahaya.

Sejak itu saya selalu berdoa sebelum makan, di manapun tempatnya…

Tetapi terlepas dari cerita tadi, saya pun pernah berpikir seperti anak kecil yang bertanya pada Tuhan: “Kalau segala sesuatunya sudah dituliskan oleh Tuhan dan direncanakan oleh-Nya untuk kebaikan manusia, mengapa manusia harus berdoa?Bukannya Tuhan itu Mahatahu, Mahakasih, dan Mahabesar; pastilah Tuhan tahu apa kebutuhan saya, apa yang saya pikirkan, bagaimana perasaan saya sekarang; lalu mengapa saya mesti mengucapkannya lagi dalam doa?

Dan jawabannya baru saya dapatkan beberapa waktu belakangan: karena doa itu simbol keberserahan diri kita pada Tuhan. Semakin jarang manusia berdoa, bisa dikatakan ia semakin angkuh untuk mengandalkan dirinya seorang, dan semakin besar keinginannya untuk hidup separatis dari kuasa Tuhan.

Banyak orang Kristen merasa bisa hidup sendirian tanpa Tuhan. Bersikap separatis pada kedaulatan kuasa Tuhan. Ingin membangun kerajaannya sendiri di dunia, karena ia merasa mampu dan berkuasa. Mereka lalu hidup memisahkan diri dari perintah-perintah Tuhan, lalu mengajarkan dan menjalani hidup sesuai nilai-nilai yang menurut mereka sendiri sudah benar. Hingga kemudian secara tidak sadar, mereka mulai menempatkan diri sebagai seteru Tuhan.

Sebuah pertanyaan yang terngiang selalu dalam pikiran saya ketika hidup saya mulai berantakan: “Di manakah Tuhan kamu tempatkan dalam hidupmu?” Ya, saya pernah hidup dengan tanpa sadar sedang mengarah untuk mengandalkan diri saya sendiri dan sedang menuju untuk menjadi seterunya Tuhan. Tapi karena Tuhan itu baik, saya masih diingatkan-Nya dengan cara baik-baik (Ibrani 12:6).

Pada masa-masa itu saya juga mendapatkan sebuah insight baru tentang insomnia. Pasti rata-rata dari kita yang sudah dewasa, karena masalah yang tak junjung usai atau tak tahu di mana jalan keluarnya, pernah terbangun di malam hari dan susah untuk tidur lagi meski berusaha memejamkan mata. Atau tidak bisa tidur sampai lewat dini hari. Pernah gak berpikir, bahwa bisa jadi itu hasil kerja Tuhan karena kangen dengan kita, dan seolah-olah ingin berkata: “Nah, sekarang kamu punya waktu luang. Bisakah kita berbincang-bincang? Sudah lama kita, Aku dan kamu, tidak mengobrol dengan akrab seperti dulu. Aku ingin mendengar lagi cerita-ceritamu, meskipun Aku mengawasimu sepanjang waktu.

Karena bukankah komunikasi yang baik adalah salah satu syarat terciptanya hubungan jangka panjang? Because distance doesn’t separate us, but silence does. Dan doa, adalah satu-satunya cara manusia untuk berkomunikasi dengan Sang Penciptanya.

Jadi tetaplah berdoa. (I Tesalonika 5:17)

 

(Vic)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2