Menjadi Keluarga Yang Mengasihi Tuhan dan Sesama

Dalam rangka Bulan Keluarga/Masa Penghayatan Hidup Berkeluarga ( MPHB ) ( Imamat 19: 1-2; 15-18 & Matius 22:34-46 )
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

“Mana yang utama: mengasihi Tuhan atau sesama?”

Seringkali kita terjebak pada pertanyaan semacam itu, yaitu pertanyaan yang secara terselubung menyetarakan Allah dengan ciptaan-Nya; dan di dalam kesetaraan itu, kemudian menciptakan dilema untuk memilih salah satu.

Pertanyaan inilah yang dikemukakan dalam Matius 22 ayat 36 oleh seorang ahli kitab dari golongan Farisi untuk menjebak Yesus: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Kata hukum Taurat menunjuk pada dua ajaran Musa, yaitu kasih kepada Allah ( Ulangan 6:15 ) dan kasih kepada sesama ( Imamat 19:18 ). Menarik jika kita memperhatikan jawaban Yesus dalam ayat 39 “Dan hukum yang kedua, yang sama ( bahasa Yunani: homoios = seperti, menyerupai ) dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” hendak menunjukkan bahwa mengasihi Tuhan dengan totalitas tak harus mengantarkan kita pada pilihan melepaskan kasih pada sesama. Kasih kepada sesama manusia adalah kasih yang menyerupai atau berpola pada kasih kepada Allah.

Hal yang perlu kita ingat bersama ialah jauh sebelum kita menyatakan kasih kepada Allah, Ia telah lebih dahulu mengasihi kita dalam kehidupan pribadi maupun keluarga. Di dalam bingkai kasih Allah kita dibentuk untuk kemudian menjadi pribadi-pribadi yang mengasihi sesama. Kata “Sesama” diterjemahkan dari kata “Pleison” yang dalam bahasa Yunani berarti “Tetangga”. Bagi orang Yahudi, sesama mereka adalah orang-orang yang satu bangsa, agama dan tradisi. Berbeda dengan itu, bagi Yesus sesama adalah orang lain yang kita temui dalam kehidupan keseharian. Jadi, kasih kepada Allah dapat kita nyatakan pertama-tama kepada tetangga, yaitu orang-orang yang berada di dekat kita, tinggal di sekitar rumah kita, orang-orang dalam komunitas pelayanan, orang-orang di masyarakat tanpa hubungan darah sekali pun.

Orang menghargai kita bukan dari apa yang mereka lihat dan dengar tentang kita. Orang menghargai kita dari apa yang mereka rasakan lewat hidup kita.” Kata bijak tersebut mengajak kita untuk membuat orang lain merasakan kasih yang nyata dari diri kita untuk menyatakan kasih Allah. Penghargaan yang kita terima dari orang lain adalah ungkapan syukur secara tidak langsung bagi kasih Allah. Dengan meyakini bahwa Allah mencintai lebih dahulu seluruh ciptaan-Nya dalam keadaan apa pun, maka tak ada lagi alasan untuk enggan mengulurkan tangan untuk menolong sesama karena orang atau kelompok tertentu tidak mencintai Allah.

Dengan memahami bahwa cinta dari dan kepada Allah adalah kekuatan untuk mengasihi sesama, maka tak ada lagi tempat bagi konflik, kekerasan, dan diskriminasi, yang mengatasnamakan cinta kepada Allah. Tuhan mengasihi kita.

 

( RBK )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry