Menjadi Keluarga Yang Rendah Hati

Filipi 2: 1-8; Matius 21:23-27
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Filipi 2:1-8
3b-4. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; ( 4) dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
5. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

 

Ingin membangun keluarga yang bahagia? Caranya ialah dengan kita hidup:

A. “Dalam Kristus” ( Filipi 2:1-5 )
Sebagai pengikut Kristus, kita diajak dan diundang untuk masuk dalam persekutuan dengan Kristus. “Dalam Kristus” artinya secara total kita membenamkan diri kita dalam persekutuan dengan Yesus. Dengan kata lain, menjadikan “pikiran dan perasaan Kristus” menjadi cara hidup kita, menjadi cara kita untuk memberi nasehat, menghibur, mengasihi, melayani dan hidup sehari-hari. Sikap seperti inilah yang memungkinkan kita untuk dapat sehati, sepikir, satu jiwa, satu tujuan dengan orang lain, seperti Kristus yang selalu mau tahu, mau mengerti, mau memahami sesamanya.

B. “Rendah Hati” ( Filipi 2:3-8 )
Rendah hati, berarti menganggap kepentingan orang lain sama pentingnya dengan kepentinganku, atau menganggap orang lain lebih utama dari diri kita sendiri sehingga kita mau mendengar, belajar, memahami, dan melayani sesama kita.

C. “Sikap hamba yang melayani” ( Filipi 2:5-8 )
Pengikut Kristus, berani dan bersedia memikul salib, artinya berani menjadi seorang hamba Allah, hamba yang demikian adalah hamba yang melayani Tuhan dan sesama. Seperti Kristus, hamba Allah ( ebed Yahweh ), melayani dengan melawat umat manusia dan menebus dosa manusia sampai mati di salib.

D. “Cerdas dalam berkomunikasi”
Dalam Matius 21:23-27, Yesus dipojokkan ketika bertemu para imam di Bait Allah. Mereka bertanya “Siapa yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?” ( dengan kata lain mereka menggugat wewenang Yesus untuk mengajar di Bait Allah dan mempertanyakan mukjizat dan karya Kristus ).
Ini merupakan suatu dialog yang “tidak seimbang dan tidak ramah” dari para tua-tua Yahudi yang datang dengan mental Penguasa, seolah-olah hanya mereka saja yang berhak mengajar. Namun Yesus dengan cerdas menjawab “Baptisan Yohanes dari Allah atau dari manusia?”, membuat para imam takut menjawab, karena mereka sangat takut kepada masyarakat yang akan tidak suka dengan jawaban mereka, sehingga mereka “terdiam” dan tidak dapat lagi memojokkan Dia. Semua ini dapat Yesus lakukan karena Ia memiliki kerendahan hati dan kesabaran yang cukup, serta kecerdasan dalam komunikasi.

Maukah kita melakukan 4 hal tersebut dalam hidup kita sehari-hari? Mari kita bahagiakan keluarga kita dengan kasih seperti Kristus. Amin.

 

(Pdt. PL)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
4