Menjadi Keluarga Yang Sehati dan Bersukacita

Yesaya 25:1-9; Filipi 4:1-9
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Makin lama makin tidak sehati?

Melayani bersama makin lama makin membuat kita makin mengenali segala kelemahan diri seseorang. Kita makin memahami banyaknya perbedaan kita dengan dia. Hal ini makin berpotensi membuat kita makin sulit sehati, ketika kurang dewasa untuk menerima perbedaan/kekurangannya. Demikian juga dengan Euodia dan Sintikhe, dua perempuan yang melayani secara luar biasa di jemaat Filipi, namun berbagai perbedaan membuat mereka makin tidak sehati.

Rasul Paulus sadar betapa bahayanya ketidaksehatian, maka ia menasehati agar mereka ‘sehati sepikir dalam Tuhan’ ( di ayat 2 ). NASB: ‘To live in harmony in the Lord’ ( = hidup dalam keharmonisan di dalam Tuhan). NIV: ‘To agree with each other in the Lord’ ( = setuju satu dengan yang lain di dalam Tuhan). Lit: ‘To think the same thing in the Lord’ ( = memikirkan hal yang sama di dalam Tuhan).

Ayat 3. Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan. Karena itu pula Paulus meminta tolong kepada “Sunsugos” untuk membantu menasehati kedua perempuan itu, agar jangan sampai kebersamaan kehilangan sukacitanya (ayat. 4).

Suami dan isteri, setelah menikah makin lama juga akan makin memahami kelemahan dan perbedaan satu sama lain, tapi jangan dibiasakan untuk mengungkit-ungkit kelemahan dan mempersoalkan perbedaan, tetapi mulailah memperbesar kasih agar tetap sehati, tetap mampu menjaga kebersamaan yang menyenangkan, saling menerima, saling mengampuni, dan tetap berusaha untuk saling mengerti dan saling melayani dengan penuh hormat dan cinta.

Untuk menjaga kesehatian diperlukan juga beberapa hal praktis sebagai berikut:

Ayat 5: “Kebaikan hati” yang dipraktekkan secara nyata, tetap bersikap baik hati pada situasi apapun juga. Pasangan suami isteri perlu “menyatakan” kebaikan hati secara nyata .

Ayat 6: Jangan kuatir tentang apapun juga. Memang kekuatiran sering menjadi alasan bagi kita untuk “kehilangan kesabaran”. Kita merasa sudah tiba pada batas kesabaran karena kuatir sesuatu yang lebih buruk terjadi. Padahal yang kita kuatirkan belum tentu terjadi.

Ayat 7: Terus meminta damai sejahtera Allah, karena damai Allah itu “melampaui segala akal”, mampu mendinginkan hati, pikiran dan suasana yang menurut akal/logika kita sangat mengkuatirkan, tetapi damai Allah mampu mendamaikan.

Ayat 8: Terus mengisi pikiran/diri kita dengan semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan dan patut dipuji. Pikiran positif seperti ini akan menolong kita untuk memahami keberadaan pasangan dan keluarga kita.

Demikianlah kita hendaknya terus menerus menjaga dan mengupayakan kesehatian dengan pasangan kita, dengan seisi keluarga kita, maupun dengan sesama di sekitar kita, sehingga kehadiran kita membuahkan kehidupan yang damai dan menyenangkan serta penuh sukacita.

 

( Pdt. PL )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry