Menyingkirkan Tuhan

We can't see all that God is doing, and we can't see all that God will do. But we can be assured that He is God and will do what is right. (Philip Mantofa)
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Situasinya demikian: Anda seorang Pendeta dan mempunyai anak, perempuan, yang mulai susah diatur. Padahal dulunya saat kecil, dia adalah anak perempuan yang manis. Tetapi kemudian saat beranjak remaja, dia mulai suka keluyuran tanpa tujuan atau tidak mengatakan akan ke mana. Dan saat beranjak dewasa, mulai sering pergi ke klub malam dan pulang ke rumah dini hari dalam keadaan mabuk. Di gereja, anak ini mulai jadi bahan pergunjingan jemaat Anda.

Apa yang akan Anda lakukan?

Langsung menegurnya. Menasihatinya. Dan ketika semua usaha sepertinya sudah dilakukan, Anda ingin menghajarnya…

…kira-kira itulah kesaksian yang diceritakan oleh Pdt. Immanuel Adam yang tempo hari, saat mengakhiri kotbahnya, bersaksi tentang hidup anak perempuannya di suatu masa. Tapi bagaimana anak perempuannya sekarang? Dikatakan oleh pendeta Immanuel, bahwa sekarang anaknya itulah yang menjadi “Pendeta” di rumahnya. Anak perempuannya itulah yang lebih sering mengkhotbahi ayahnya tentang beriman dan percaya pada Tuhan. Bahkan sekarang, anak perempuannya itu –berkat pengalamannya– mulai mencari anak-anak yang terhilang di klub-klub malam dan membentuk support group (seperti KTB) yang jumlahnya sangat banyak; mereka lalu bersekutu dan belajar firman Tuhan bersama-sama.

Dan bicara soal beriman dan percaya pada Tuhan, bukankah sering kita, saya dan Anda, bersikap seperti pendeta Immanuel saat menghadapi masalah atau ketika menanggung beban kehidupan? Yang pertama kita lakukan adalah menyingkirkan Tuhan!Duh Tuhan, biar aku coba dulu ya menasihati dan menegur anak ini… toh aku kan pendeta.” Atau perkataan lain seperti: “Tuhan, minggir dulu… ini spesialisasi aku. Percuma dong kuliah ekonomi sampai S2, kalau menghadapi ancaman kebankrutan aku gak bisa.

Tapi ternyata, para murid Yesus juga pernah melakukan hal yang serupa… (baca Lukas 8:22-26)

Saat itu mereka akan menyeberang danau dan sekonyong-konyong datang taufan dan perahu mulai kemasukan air. Saya membayangkannya, karena rata-rata murid Yesus adalah nelayan, mereka mulai berusaha sedemikian rupa untuk survive menghadapi badai itu dengan semua pengetahuan yang didapat dari pengalaman mereka; mungkin ada yang mengatur layar, beberapa mengeluarkan air yang mulai masuk, dan lainnya sibuk menyeimbangkan kapal agar tidak tenggelam. Mereka lupa ada Yesus bersama mereka. Yesus, Tuhan yang sebelumnya mereka sudah lihat beberapa mukjizat yang dilakukan-Nya. Dan mungkin ketika semua usaha mereka untuk bertahan dalam badai sepertinya sia-sia, mereka mulai panik dan membangunkan Yesus dengan berteriak (karena di dalam badai) : “Guru, kita binasa!”. Lalu Yesus bangun, menghardik angin serta air yang mengamuk, hingga kemudian menjadi tenang. Apa kata Yesus setelahnya?

Di manakah kepercayaanmu?

Menurut saya, Yesus berkata demikian karena Dialah yang sedari awal mengajak murid-murid-Nya untuk menyeberangi danau itu ( … dan Ia berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang danau.” -ayat 22- ). Bukankah dalam ajakan-Nya itu ada sebuah janji bahwa mereka semua, murid-murid-Nya, pasti akan sampai ke seberang danau? (Lihat Yeremia 29:11)

Dari sini kita bisa belajar, bahwa cara Allah mengajarkan kita untuk percaya pada-Nya adalah pertama-tama mempercayai-Nya, bukan meragukan (kemampuan)-Nya. Karena bukankah kita bisa disebut percaya, bukan karena kita sudah melihat semuanya? Justru kita bisa disebut percaya, karena kita tahu semua akan baik-baik saja, tanpa melihat terlebih dahulu semuanya secara kasat mata. Hanya saja yang seringnya bikin kita ragu dan mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan dalam situasi sulit di hidup kita, adalah ketika kita lupa bahwa Dia selalu bersama dengan kita dan/atau kita merasa lebih bisa daripada Tuhan. Karena mungkin saja terbersit di pikiran para murid Yesus saat itu: “Guru kan tukang kayu. Mana ngerti Dia soal bertahan dalam badai yang menerjang perahu?

 

Manusia akan berkata: “Tunjukkan dan aku akan percaya.”
Tuhan berkata: “Percayalah dan Aku akan tunjukkan.” (Yohanes 11:40)

 

Jadi belajarlah untuk percaya dan selalu mengandalkan pada kuasa penyertaan Tuhan dalam perjalanan hidup kita; meskipun kita tidak memahami apa rencana-Nya untuk kebaikan kita dengan peristiwa yang ada di depan mata, atau kadang bingung akan maksud-Nya dengan semua realita yang ada. Karena percaya berarti tidak lagi bertanya-tanya, atau meragukan kemampuan-Nya.

 

(Vic)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry