Musik Dalam Ibadah dan Gereja Kekinian

Musik merupakan bahasa yang mengantarkan jemaat untuk bertemu Kristus. Sumber gambar : Enzo Productions.
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Musik merupakan bahasa. Bahasa yang universal. Semua orang, paling tidak sebagian besar orang, setuju apabila musik dangdut sangat menggoda audiens untuk menggoyangkan pinggul dan ibu jarinya; musik rock penuh dengan aura pemberontakan, musik jazz itu rumit, dan sebagainya. Semua orang dapat berbahasa melalui musik. Lalu apa hubungannya dengan ibadah di gereja?

Sejarah mencatat, musik dan ibadah merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Jemaat mula-mula di abad pertama menggunakan kidung khusus bahasa Ibrani di setiap persekutuan. Gregorian Chant dipakai di berbagai misa gereja Katolik hingga sekarang. Bahkan, Daud dan Salomo menciptakan ratusan nyanyian Mazmur untuk mengekspresikan keintiman hidup dengan Allah, Sang Pencipta. Lalu apa masalahnya?

Masalahnya, banyak gereja terjebak dalam usaha tampil “Kekinian” agar menarik perhatian gelombang kaum muda. Gereja menampilkan musik secara masif, lengkap dengan lighting spektakuler serta aksi panggung yang dahsyat. Sayangnya, sajian menarik tersebut tidak disertai pemahaman yang benar mengenai fungsi musik dalam ibadah itu sendiri.

Kesalahan ini berakibat fatal. Ada pergerseran persepsi jemaat terhadap musik dalam ibadah, terutama kaum muda, menjadi sekedar show off permainan fingering melodi yang rumit di atas tuts dan fret, tabuh penuh semangat di atas drum dan simbal, hingga akord yang nyeleneh. Jemaat  pun belum tentu memahaminya.

Kini waktunya evaluasi: apakah pemusik dapat membawa jemaat menghayati hadirat Tuhan melalui musik yang di-aransemen sedemikian rupa? Ibarat masakan, musik dalam ibadah harus diracik sedemikian rupa agar tetap indah dan kekinian. Namun tetaplah mengutamakan aspek penggerakkan spiritual jemaat untuk menghayati hadirat Tuhan dalam ibadah.

Sulit melakukannya? Ya, hal ini memang sama sekali tidak mudah. Ada aspek ego dan emosional pribadi dari masing-masing pemain musik, yang memerlukan kedewasaan dan penguasaan diri untuk mengontrolnya. Lebih dari itu semua, tidak ada manusia yang sempurna, namun pertolongan dan hikmat Tuhan senantiasa tercurah. Tuhan Yesus Memberkati.

 

***

Penulis : Christian Alfa W. Balapung (Pemuda GKI Gejayan Bakal Jemaat Adisucipto yang tengah menempuh studi Musik Gereja di Universitas Kristen Imanuel Yogyakarta)

Sumber : Warta Jemaat GKI Gejayan Bakal Jemaat Adisucipto Edisi 12 Maret 2017.
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3