Patch Adams

There is no hope ... if we don't make a world whose values are compassion and generousity.
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Di jurnal kedokteran dituliskan bahwa tertawa akan meningkatkan pengeluaran catecholamine dan endorphie. Hal itu meningkatkan kandungan oksigen di darah, menenangkan arteri, menaikkan detak jantung, dan meningkatkan tekanan darah; dengan efek yang positif pada cardiovaskular dan tekanan darah. Hal itu sebaik yang dilakukan respon kekebalan tubuh. (Patch Adams)

Setelah melihat film Patch Adams, saya memikirkan sebuah hal yang sebaiknya dilakukan saat menjenguk orang sakit.

Sebenarnya orang yang sakit pasti sudah cukup tersiksa dengan penyakitnya. Jangan tambahkan lagi “Siksaan penyakit”nya saat menjenguk dengan mengatakan: “Bagaimana keadaanmu?” Sebagai penjenguk, sebenarnya kita sudah bisa menilai sendiri dari keadaan yang terlihat. Kalau dia masih lemah, tergolek pasrah di tempat tidur, pastilah dia masih merasakan sakit yang sangat. Dan pertanyaan tadi bisa saja akan menambah derita psikologisnya. Karena tidak ingin mengecewakan orang yang sudah repot-repot datang menjenguknya, si sakit pasti akan berkata: “Sudah agak baikkan” atau “Sudah lebih baik.” Meskipun bisa saja bukan itu yang dia rasakan. Bukankah lebih baik, jika si penjenguk memberi pernyataan: “Keadaanmu sepertinya lebih baik.” Basa basi yang lebih memberikan semangat positif. Daripada menanyakan keadaannya.

Atau pernahkah kita berpikir, bahwa sebagai penjenguknya yang ke-sekian, bisa saja teman/saudara kita yang sakit itu sudah berulangkali menjelaskan keadaannya kepada para penjenguknya sebelum kita datang?

Jadi lebih baik jika si penjenguk tidak memberikan komentar apa-apa tentang penyakit si sakit. Cukup bercerita hal-hal lucu yang bisa membuatnya tertawa. Lelucon-lelucon sederhana, tapi bisa menghidupkan suasana. Jam kunjung di rumah sakit terbatas, paling lama 2 jam sehari. Sehingga 22 jam berikutnya, si sakit akan bergumul lagi dengan sakit yang dideritanya. Jadi, saat menjenguknya, berilah waktu 2 jam untuk membuatnya tertawa. Membuatnya melupakan penyakitnya, walau hanya sejenak. Bukankah itu lebih baik daripada membicarakan penyakitnya? Biarlah sakit penyakit itu hanya menjadi urusan dokter dan perawat saja. Tugas penjenguk, ya menghiburnya saja.

Saya pernah mendengar cerita, tentang seorang wanita yang menderita kanker payudara. Setiap kali dijenguk temannya, dia marah jika ditanya tentang perkembangan penyakitnya. “Sakit! Itu saja. Saya gak mau penyakit ini berkembang dan menggerogoti tubuh saya. Jadi jangan tanyakan itu lagi. Saya hanya mau mendengar cerita-cerita yang ada di luar sana.” Begitu kira-kira katanya jika ada orang yang datang menanyakan keadaannya.

********/*******

Jika semua dokter bisa “menyembuhkan” seperti dokter-dokter dalam film Patch Adams: dengan tawa dan senyuman, tidak hanya dengan obat-obatan; dengan setulus hati, tidak hanya dengan melakukan operasi… saya rasa, rerata pasien di rumah-rumah sakit akan berkurang waktu opnamenya. Karena bukankah hati yang gembira adalah obat? Dan semangat yang patah, hanya akan mengeringkan tulang.

dr. "Patch" Adams

dr. “Patch” Adams

PS. Jika banyak orang tahu akan manfaat sebuah tawa, mungkin saja akan ada slogan baru: tertawalah, sebelum tertawa itu dikenakan pajak oleh pemerintah! :))

 

(Vic)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry