Pemberian Yang Diinginkan Tuhan

Jika seseorang memberikan dari kelebihannya, bisakah dikatakan ia berkorban saat melakukannya?
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

 

Suatu kali seorang pemuda datang dan curhat pada saya kalau gebetannya lebih memilih pria lain karena, dirasanya, pria itu lebih sering nraktir gebetannya. Yang menarik adalah ucapannya kala itu: “Ya aku sih nyadar diri kalau gak bisa kasih banyak sama dia. Cuma aku udah kasih yang terbaik semampuku; aku pernah makan sekali sehari demi nabung buat beliin dia hadiah ulang tahun. Tapi Kak, pacarnya yang sekarang tuh tajir melintir. Tiap hari ngajak nonton di Premiere juga bisa.

Kalau saya bisa ngomong ke mantan gebetannya, saya mau tanya: “Menurutmu siapa yang memberi lebih banyak: si Y yang ngajak kamu nonton di The Premiere atau si N yang ngajak kamu nonton di studio reguler?
Mungkin dia akan jawab: “Ya si Y lah.”
Dan saya akan melanjutkan: “Tapi yang kamu gak tahu: si Y bayar tiket The Premiere dengan gesek kartu kredit milik orangtuanya, dan si N traktir kamu tiket nonton dengan menabung selama seminggu. Jadi siapa yang memberi lebih banyak?

Sebenarnya hal seperti itu jamak terjadi di dunia modern seperti sekarang. Karena yang dinilai oleh orang kebanyakan adalah apa yang terlihat di permukaan; bukan apa yang terjadi di kedalaman. Yang dilihat oleh orang kebanyakan adalah apa yang ditonton di panggung pertunjukan; bukan apa yang terjadi di balik layarnya.

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.

 

Seperti kisah janda miskin yang memberikan persembahan. Saat itu Yesus duduk dan memperhatikan bagaimana orang banyak memberi persembahan. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar ( diibaratkan kalau sekarang katakanlah Rp.100,000 ). Lalu datanglah seorang janda miskin dan memasukkan dua peser ( mungkin kalau sekarang Rp. 2,000 ). Lalu seperti yang tertulis di Markus 12:43-44, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa janda miskin itu memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya.

Karena bukankah mudah saja bagi orang-orang kaya memberi uang dalam jumlah besar ke dalam kantong persembahan? Tapi cobalah mereka diminta untuk memberi dari kekurangannya, misal waktunya; apakah mereka akan dengan mudah memberikannya? Atau akan timbul jawaban-jawaban seperti: “Aduh maaf saya sibuk…” atau “Coba ya saya atur jadwal dulu, nanti saya kabari kamu.“?
Juga bukannya mudah saja jika orang-orang yang mempunyai banyak waktu luang dalam hidupnya, memberikan banyak waktu untuk pelayanan di gereja? Tapi cobalah mereka diminta untuk memberi dari kekurangannya, uangnya, apakah akan dengan mudah diberikannya?

Dari kisah janda miskin ini Yesus ingin mengajarkan pada murid-murid-Nya, termasuk kita, bahwa jika ingin mempersembahkan sesuatu pada Tuhan, janganlah memberi dari kelimpahan/kelebihan kita; tetapi berilah pada Tuhan sesuatu dari kekurangan kita, sebagai “korban” syukur dari kita untuk-Nya. Karena Yesus sendiri sudah mengajarkan arti pengorbanan ( Yohanes 15:13 ) : dari seorang Raja alam semesta, mau “turun tahta” ke dunia yang diciptakan-Nya, lahir di kandang yang hina, hidup sederhana sepanjang hidupnya, dan berakhir mati di kayu salib demi menyelamatkan semua ciptaan-Nya.

Jika Tuhan Yesus saja mau berkorban untuk kita, maukah kita berkorban demi Dia?

 

( Vic )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3