“Produk Gereja” Seharusnya…

"Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?" ( Roma 10:14 )
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Ketika melihat gambar dan ayat Alkitab ini yang tertempel di pembatas kaca ruang khusus anak, yang ada di bagian belakang ruang ibadah GKI Gejayan, saya teringat pada sesi-sesi di acara IDMC tahun ini di Surabaya. Saat itu saya tersentil dengan ucapan salah satu pendeta: “Pabrik sepatu menghasilkan sepatu, pabrik roti menghasilkan roti. Kalau pabrik sepatu menghasilkan roti; Nike menghasilkan kue tart misalnya, apakah masih bisa disebut pabrik sepatu olahraga?” Lalu hampir kami semua, para peserta, tertawa saat membayangkannya. Lalu pendeta Chan melanjutkan: “Nah kalau gereja, harusnya menghasilkan apa agar bisa disebut gereja?” Kontras dengan sebelumnya, suasana lalu hening hampir tanpa suara.

Gereja itu bukan menghasilkan CD lagu puji-pujian dari kelompok paduan suara. Bukan juga menghasilkan yayasan dana. Gereja itu seharusnya menghasilkan para murid, manusia-manusia yang sehat rohani.” Kalau tidak salah beliau berkata seperti ini.

Salah satu ciri orang yang sehat adalah orang yang bisa lapar dan memiliki nafsu makan, bukan? Karena hanya orang sakit yang kehilangan selera makannya. Sama seperti perumpamaan ini, orang yang sehat secara rohani adalah orang yang selalu lapar akan makanan rohani. Memiliki kerinduan setiap hari untuk dekat dengan Sumber Makanan itu dan selalu berselera dengan firman Allah. Gereja seharusnya menghasilkan manusia-manusia yang sehat secara rohani, yang memiliki kedalaman hubungan dengan Allah secara pribadi.

Gereja yang sehat bisa dilihat dari persentase jemaat yang hadir di persekutuan-persekutuan doa dan sesi-sesi pemahaman Alkitab.” Kata pendeta Tony Yeo di sesi IDMC yang lainnya. “Bukan dari berapa banyak jemaat yang sibuk dalam kegiatan/rutinitas gereja, bukan pula dari berapa banyak orang yang mau terlibat dalam pelayanan-pelayanan yang ada di dalam gereja. Karena terkadang iblis menyibukkan para jemaat gereja untuk mencuri waktu mereka, waktu yang seharusnya digunakan untuk memahami Allah Bapa, waktu yang seharusnya dipergunakan untuk menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah. Ingat, iblis itu pencuri. Apapun yang bisa dicurinya, ia curi dari kita.

Kadang ketika orang terhanyut, ia tidak sepenuhnya sadar sedang terhanyut. Ketika melakukan hal-hal yang dikiranya sudah benar, tetapi karena tidak sadar akibat makin menjauh dari Sang Kebenaran, akhirnya malah melakukan hal-hal yang salah; dan begitu sadar, ia sudah jauh dari tujuan yang dirancang di awal. Banyak orang Kristen tidak sadar sudah dihanyutkan akibat tidak lagi intim dengan Tuhan, tapi hanya sibuk ( BUSY: Being Under Satan Yoke ) dengan berkegiatan. “Krisis pemuridan saat ini adalah krisis kedalaman. Kedalaman hubungan sesamanya. Kedalaman hubungan dengan keluarga. Kedalaman hubungan dengan Tuhan. Bukankah sesibuk-sibuknya Yesus waktu melakukan pelayanan di dunia, Ia selalu mempunyai waktu pribadi, setiap hari, dengan murid-murid-Nya dan dengan Bapa-Nya?“.

BUSY: Being Under Satan Yoke. Di dalam belenggu iblis. Gereja yang sibuk, manusia-manusia yang sibuk, sesungguhnya sedang di dalam belenggu iblis.

 

Berita baik dari Injil adalah Allah Bapa yang lebih dulu memiliki inisiatif untuk mendekat kepada ciptaan-Nya, menjadi manusia, agar bisa intim dengan manusia. Dan karena dosa manusia tadinya menjadi penghalang hubungan antara manusia dengan Allah Bapa, maka Dia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk mati di kayu salib menebus dosa manusia. Agar Dia bisa bisa intim menjalin hubungan dengan manusia, karena Dia merindukan keintiman dengan anak-anak-Nya. Jadi keintiman itu adalah hadiah ( The Gift ) dari Allah Bapa kita. Apakah kita lalu akan menyia-nyiakan hadiah terbesar dari-Nya?

Banyak gereja memiliki tujuan “Memuridkan” dari pernyataan misinya. Tetapi hanya beberapa yang melakukannya lebih dari sekedar retorika, yang benar-benar mengimplementasikan misinya itu dalam setiap rancangan semua kegiatannya. Lebih sedikit lagi yang memiliki rekam jejak dalam menghasilkan manusia-manusia dengan kedalaman hubungan dengan dengan Allah Bapa serta memiliki kedewasaan rohani. Hal-hal seperti ini harus segera diatasi. Karena kegiatan pelayanan-pelayanan gereja, merupakan perwujudan yang keluar dari kehidupan rohani orang-orangnya. Gereja seharusnya lebih fokus pada kedalaman hidup rohani para jemaatnya, dan biarlah Allah Bapa, Sang Empunya ladang dunia, yang mengurus area pelayanan anak-anak-Nya; dan anak-anak-Nya biarlah tetap mendekat, terus melekat pada Bapanya.

- ditulis dari materi Intentional Disciple Making Churches Conference ( konferensi IDMC 2017 ) "Cultivating Your Inner Life" [ Rev. Edmund Chan & Rev. Tony Yeo ] menurut catatan penulis -

( Vic )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2