Rasa Bangga dan Perasaan Cinta

"The only way to do great work is to love what you do. If you haven't found it, keep looking. Don't settle." ( Steve Jobs )
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Suatu hari di wisuda sebuah TK di Jakarta, ada orangtua murid berbicara kepada rekan di sebelahnya: “Itu anak yang pakai celana biru pendek, kayaknya nakal banget ya? Dari tadi lari-lari di panggung, gak bisa diam.

Kayaknya sih iya, anak nakal… orangtuanya gak pernah ngajarin apa ya?

Tiba-tiba ada suara dari belakang mereka: “Saya udah ngajarin dia kok buat diam kalau pas di panggung wisuda. Tapi ya namanya juga anak-anak…

Lalu dua orangtua murid tadi menoleh, dan disambut dengan senyuman serta jabatan tangan…
Saya ayahnya Dio, anak yang pakai celana pendek warna biru itu.

********/*******

Apakah Anda bangga dengan yang dikerjakan sekarang? Rasa bangga itu salah satu cirinya adalah tidak malu mengakui apa yang Anda kerjakan.

Saya tukang sayur…“, atau

Saya mekanik bengkel mobil…“,

atau “Saya agen asuransi…

Rasa bangga itu akan melahirkan sikap yang lebih penting: bertanggung jawab. Jadi jika ada seorang tukang sayur yang bangga dengan apa yang dikerjakannya, pasti akan menjual sayur mayur/kebutuhan dapur dengan barang kualitas nomor satu. Atau jika seorang montir bangga dengan apa yang dilakukannya, pasti dia akan memberikan service terbaik. Juga jika seseorang bangga dengan menjadi agen asuransi, apalagi mewakili sebuah
perusahaan yang namanya sudah terkenal seantero negeri, pastinya Anda akan melakukan tugas-tugas yang jadi tanggung jawab Anda dengan sepenuh hati. Karena orang yang bangga dengan apa yang dilakukannya, seperti ayah yang bangga pada anaknya, pasti akan berjuang dan berusaha melakukan yang terbaik demi yang dibanggakannya, serta menjaga nama baik profesinya dan terus eksis dengan pekerjaannya.

Beberapa waktu lalu, ketika saya melakukan group interview di MRTC ( Merry Riana Training Center ) dan meeting dengan ibu Merry Riana, saat itu beberapa stafnya bercerita tentang pekerjaannya. Dari nada bicara mereka, terdengar bahwa mereka bangga bekerja di sana. “Jadi bagian dari nama besar Merry Riana itu bikin bangga, gimana gitu rasanya…” kata salah seorang dari mereka. Jadinya mereka tidak ingin bekerja dengan biasa-biasa saja, meskipun tuntutan pekerjaannya sangat luar biasa disiplin dan profesional. Di situ saya juga bertemu dengan seseorang yang memakai jaket NET. TV, dan bercerita bagaimana dia sering disambut antusias oleh orang-orang yang bertemu dengannya saat mengenakan jaket yang ada logo “NET. TV” itu. Oleh karena itu dia selalu memakainya ke mana-mana, meskipun tidak sedang bertugas. “Biar bisa selalu jaga sikap“, kilahnya saat ditanya apakah sedang bertugas dan ternyata hari itu libur kerja. Atau mungkin sama seperti seorang kadet TNI/Polri misalnya. Pasti dia sangat bangga dengan seragam yang melekat di tubuhnya, sampai-sampai ke mana-mana dia akan mengenakannya.

Kemudian pertanyaannya: seberapa besar perjuangan yang sudah dilakukan untuk rasa bangga akan profesi kita sekarang? Seberapa tekun kita mau belajar untuk status mahasiswa di universitas yang kita banggakan? Jika kita mengganggap status mahasiswa/pekerjaan kita sekarang itu biasa saja, pastilah akan tercermin dari sikap kita di kesehariannya. Misal malas untuk berinisiatif, dan harus disuruh. Tidak bertanggung jawab pada tugas-tugas yang diberikan. Atau menolak untuk berkembang dan mempertahankan “status quo”.

Dan lebih jauh lagi, rasa bangga dengan apa dikerjakan itu sebenarnya otomatis muncul jika kita mencintai pekerjaan kita. Seperti seorang ayah pada contoh peristiwa di awal tadi, bagaimana ia tetap bangga pada anaknya meskipun diomongin orang lain. Ia tidak malu mengakui kalau itu anaknya. Pasti ia akan membela ( dengan sikap positif tentunya ) jika anaknya mendapat perlakuan yang tidak baik dari teman/gurunya. Begitu juga kita, misalnya tahu ada tindakan yang tidak baik dari rekan kerja atau teman di kampus yang bisa berakibat buruk untuk image perusahaan/universitas tempat kita berkarya, seharusnya kita juga menegurnya. Ini bentuk sikap bahwa kita tidak ingin citra diri bidang usaha/perusahaan/universitas rusak, karena kita bangga dan cinta menjadi bagiannya.

Nah, apakah kita mencintai apa yang kita kerjakan sekarang? Jika iya, berjuanglah untuk menjadi yang terbaik. Jika tidak, carilah apa yang kita cintai untuk dilakukan dan dikerjakan. Karena hidup ini terlalu singkat untuk mengerjakan apa yang tidak kita cintai dan melakukan apa yang sebenarnya tidak kita pedulikan.

 

Rasa suka/cinta = gembira = energi. ( Susi Pudjiastuti )

 

( Vic )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry