|Renungan| B U S Y

"Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik ... berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu." (Kejadian 1:31 - 2:3)
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Di zaman di mana jarak Singapura – Los Angeles bisa ditempuh dalam waktu 18 jam non stop, dan waktu untuk memproduksi 112 unit mobil hanya butuh 1 menit saja, banyak orang takut jika ada masa saat hidupnya dilewati dengan tidak melakukan apa-apa. Hanya diam saja. Oleh karenanya, tambah mengherankan lagi jika seseorang harus membayar sejumlah uang untuk tidak melakukan apa-apa. Ya, Anda hanya disuruh duduk bersila; kadang sedikit dipaksa, lalu diminta memejamkan mata, dan tetap pada posisi itu selama 2 jam selanjutnya. Bayangkan, di masa di mana McDonald’s mengeluarkan dana ribuan dollar untuk membayar para mystery shopping untuk meriset agar antrian layanan drive thru lebih cepat 5 detik, ada orang yang mau mengeluarkan sejumlah uang agar bisa duduk tidak melakukan apa-apa selama 120 menit.

Istilahnya meditasi. Seorang kenalan pernah bercerita suatu hari, saat mengunjungi partner bisnisnya di Bali, dia diajak untuk melakukan meditasi. Selama 3 hari, setiap pagi, dia diharuskan bersikap seperti yang saya jelaskan tadi, dan awalnya dilakukannya karena rasa gak enak sudah dibayari untuk bisa ikut kegiatan ini. Tapi akhirnya di berkata di akhir ceritanya, “Sampai sekarang setiap pagi saya selalu melakukannya.”

Jadi ceritanya pada hari pertama, rasanya sangat bodoh saat mau melakukannya. Dalam pikiran kenalan saya ini, waktu 2 jam itu bisa dihabiskan dengan melakukan banyak hal produktif; misal melakukan presentasi, menyicil menulis laporan penjualan dan evaluasi, atau makan pagi sembari mengecek email dari klien dan meresponnya untuk menindaklanjuti.

Tapi karena rasa gak enak tadi, diselesaikanlah waktu 2 jam itu dengan hasil kaki kesemutan di akhir sesi. Keesokan harinya, di jam yang sama, dia bilang sudah mulai terbiasa. Dan di hari-3, dia bercerita kalau baru sadar kalau meditasi (dia katakan: berdiam diri) itu banyak manfaatnya.

 

“Hidup jadi sales manager itu sering dihabiskan hanya untuk mendengarkan orang lain: klien. Lalu setelah mendengar saran/kritik dari mereka, saya kemudian menghabiskan waktu untuk mencari solusi-solusinya. Karena untuk jadi penjual yang baik, saya harus bisa menempatkan diri sebagai seorang konsumen terlebih dahulu. Nah, akhirnya saya jadi jarang mendengarkan apa kata dari dalam diri saya sendiri; dan berdiam diri setiap pagi membuat saya bisa mendengarkan apa yang perlu saya dengar dari dalam hati, dari diri saya sendiri.”

 

Jadi kenapa begitu sulit untuk orang-orang dewasa, untuk tidak melakukan apa-apa? Bahkan makan sambil chatting, duduk di bangku taman sambil mencemaskan hal-hal yang belum terjadi, bahkan menjelang tidur masih dengan jemari yang sibuk menulis email atau membalas pesan-pesan di grup WhatsApp yang terlewatkan. Kita selalu sibuk untuk memikirkan atau melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak harus dikerjakan saat itu juga. Hingga saat tubuh mengirimkan sinyal untuk beristirahat, tetapi buat beberapa orang malah melawan sinyal itu dengan mengonsumsi suplemen energi atau minum kopi. Seolah-olah waktu untuk beristirahat itu tabu dan sebuah kesalahan jika bermalas-malasan di hari Minggu pagi. Padahal bukankah hidup ada perhentian dan tak harus selalu kencang berlari?

Selalu menyibukkan diri juga bukan berarti kita produktif dan akan dilihat sebagai panutan; simbol pekerja keras. Bisa saja hal itu merupakan dorongan dari rasa tidak percaya bahwa Tuhan selalu bisa mencukupkan. Karena di sebuah kotbah Minggu yang saya pernah dengar, bahwa kata sibuk dalam bahasa Inggris berarti “Di bawah tekanan/beban iblis (Being Under Satan Yoke).

Rasa cemas dan selalu khawatir adalah pekerjaan iblis. Waspadalah akan hal ini.

Rasa cemas dan selalu khawatir adalah pekerjaan iblis.

Jadi berdiam dirilah sejenak. Gunakan waktu teduh di pagi hari untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Karena suara Tuhan akan selalu terdengar lembut memanggil dan saat berkata-kata; oleh karenanya kita hanya bisa mendengar-Nya saat hati dan pikiran kita jernih, yaitu saat kita bisa berhenti sejenak dari ruwetnya aktivitas kehidupan yang sementara ini.

Selamat menikmati hari Minggu pagi.

 

(Vic)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry