Satia Nyantos Ida Malarapan Urip Sane Suci

( Setia Menanti Dalam Kesalehan: I Korintus 1:3-9 & Markus 13:24-37 )
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

 

‘Hari Tuhan’ atau bahasa populernya disebut dengan ‘akhir zaman’, seringkali menjadi pertanyaan juga percakapan dalam berbagai masa dan kondisi. Tak jarang topik tersebut divisualisasikan dalam berbagai film yang dilatarbelakangi pemahaman umum masyarakat (sosiologis) maupun pemahaman keagamaan (teologis). Sebut saja film “2012”, “End of Days”, “Knowing”, “Left Behind”, dan “The Day After Tommorow”, yang nampaknya
cukup familiar dengan kita. Kebanyakan dari film atau gambaran tentang akhir zaman memang mengungkapkan tentang kengerian yang memberi kegentaran hati. Pertanyaannya, dalam iman Kristen bagaimana sikap kita terhadap fenomena tersebut dan apa yang perlu kita lakukan saat ini?

Dalam bacaan firman Tuhan hari ini ( Markus 13:24-37 ), Tuhan Yesus memberi penjelasan mengenai akhir zaman melalui perumpamaan pohon Ara ( ayat 28 ). Perumpamaan ini nampak begitu kontras dengan percakapan tentang akhir zaman. Mengapa? Karena jika gambaran akhir zaman adalah kekacauan, bencana, dan kengerian, pohon Ara justru melambangkan yang sebaliknya. Dalam kepercayaan orang Yahudi, gambaran pohon Ara yang bertunas terhubung dengan masa turunnya berkat, masa di mana ada damai dan kesejahteraan. Situasi damai disimbolkan melalui kesejukan yang diberikan pohon tersebut pada musim panas. Bagi orang Yahudi, pohon Ara adalah tempat favorit untuk berdoa dan merenungkan Taurat; tempat yang baik untuk menyampaikan harapan hidup yang baik. Dengan demikian melalui perumpamaan pohon Ara, Yesus tidak sedang menjadikan peristiwa perang, kekacauan, bencana, dan kehancuran sebagai poin penting pemberitaan tentang akhir zaman. Tetapi bahwa dalam kekacauan dunia yang bisa berulang kali muncul dari masa ke masa, ada tunas keselamatan Allah yang muncul.

Sebagai orang percaya, kita diajak untuk tidak memperhatikan tanda-tanda kehancuran yang menyebabkan keputusasaan dunia, tetapi memperhatikan peluang akan adanya anugerah Allah, keselamatan, dan damai sejahtera. Dengan demikian, kita diajak untuk turut mengusahakan kedamaian, kesejahteraan, pembebasan, dan kesetiaan, di tengah-tengah dunia yang dipenuhi dengan kekacauan, perang, dan ketidaksetiaan.

Hal tersebut nampak menjadi lebih jelas ketika kita membaca bagian firman Tuhan hari ini ( I Korintus 1:3-9 ), bahwa dalam masa penantian Hari Tuhan, kita diajak untuk menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, bertekun dalam berbagai karunia yang kita miliki, dan hidup tak bercacat di hadapan Tuhan. Lalu kita juga harus percaya bahwa Allah yang meneguhkan kita dan menyertai kita karena kesetiaan-Nya.

Minggu ini kita memasuki masa Adven yang pertama. Masa adven akan membimbing kita masuk dalam dua penghayatan iman sekaligus: “Inkarnasi” dan “Parousia”. Dalam peristiwa inkarnasi Sang Firman menjadi manusia, kita menghayati semakin dalam akan kehadiran Allah di tengah carut marut kehidupan dunia. Dalam misteri parousia, yaitu kedatangan Kristus kembali, kita diajak menyiapkan diri dalam penantian. Yang pasti, tak perlu gundah kapan akhir zaman itu tiba. Tak perlu mengkait-kaitkan tanda-tanda kekacauan, berbagai bencana, dan bimbang dengan berbagai spekulasi waktu akhir zaman, yang sedang viral dibicarakan. Tetapi, mari menjadi pribadi yang siap dengan makin berbenah diri, bertekun dalam karunia yang Tuhan sudah percayakan, mengusahakan kedamaian, kesejahteraan, pembebasan, keadilan, dan kesetiaan di tengah keluarga, masyarakat, dan gereja kita.

 

(Pnt. GPP)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry