Seberapa Cukup Itu Cukup?

Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia. ( Pengkotbah 5:9 )
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

 

Pernah diadakan sebuah survei kepada 100 karyawan secara acak yang ditemui di halte Trans Jakarta. Pertanyaan survei hanya satu: “Apakah gaji yang diterima dari perusahaan sudah dirasa cukup?“. Hasilnya ternyata seperti yang diduga sebelumnya, yakni hanya 15% ( 15 dari 100 karyawan ) yang merasa cukup pada rupiah yang diberikan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Sisanya merasa bahwa gaji yang diberikan tidak cukup.

Yang menarik lagi jika kita memerhatikan kejadian di beberapa perumahan. Ada kebiasaan kalau tetangga punya apa, lalu tiba-tiba rumah yang lainnya membutuhkannya juga. Misal di perumahan “L”, ada rumah yang pasang AC. Entah kenapa kemudian diikuti oleh rumah-rumah di sekitarnya. Atau ada rumah membeli TV layar datar 42′. Tiba-tiba rumah di sekitarnya juga mengorder barang serupa. Kalau kata seorang sales barang elektronik ini namanya “getok tular”, dipromosikan dari mulut ke mulut dengan sedikit provokasi: “Rumah yang catnya warna ijo udah beli lho… Masak bapak yang rumahnya lebih keren gak mau punya juga?

Saya juga pernah bikin survei sederhana saat persekutuan KDM. Saat itu saya bertanya: “Jika Anda mendapat bonus/komisi dari perusahaan, di luar gaji pokok rutin bulanan, apa yang akan Anda lakukan?“. Saya beri opsi (1) Ditabung/diinvestasikan, (2) Dibelikan barang yang selama ini diinginkan. Hasilnya: 100% memilih opsi ke-2.

Mungkin kita sudah sering dengar hal-hal ini: “Harus bersyukur pada apa yang dimiliki“, atau “Jangan mengingini barang sesamamu.” Tetapi juga kita juga tidak jarang dicekoki filosofi: “YOLO: You Only Live Once“. Hidup cuma sekali, kejarlah semua yang bisa dimiliki… Hingga kemudian¬†karena terlalu sibuk mengejar semua tawaran duniawi, lalu menjadi lupa bagaimana caranya bersyukur pada apa yang sudah dimiliki. Padahal jika ingin memiliki semua yang ditawarkan dunia ini, sampai kapanpun tidak pernah ada kata cukup karena selalu ingin lebih lagi.

Jadi apa yang harus dilakukan? Ya bersyukur pada Tuhan. Karena Dia selalu memberi cukup dan tidak akan berlebihan. Bagaimana caranya bersyukur? Berdoa, minta pada Tuhan agar bisa menjadi saluran berkat-Nya. Bagaimana agar bisa menjadi saluran berkat-Nya? Dengan senantiasa berbagi dan memberi. Karena yang namanya “saluran”, jika tidak mengalirkan, artinya saluran itu mampet dan tidak bisa digunakan. Lalu buat apa Tuhan masih “mengalirkan” berkat-Nya jika hanya berakhir menjadi genangan?

Selain itu Tuhan menghendaki kita selalu bersyukur, agar iman kita makin subur; karena selain akan membuat kita makin berpengharapan pada-Nya, kita juga akan makin yakin akan pemeliharaan-Nya.

Orang yang beneran kaya itu suka berbagi. Kalau cuma dipamerin ke orang-orang doang itu bukan kaya, tapi banyak gaya.

( Vic )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry