Selalu Ada Alasan Untuk Bersyukur

Stop complaining. God knows what He is doing.
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

 

Di suatu Senin pagi, ketika beberapa ibu-ibu menunggu anaknya pulang sekolah, mereka berbincang soal keluarganya. Hingga tiba di sebuah topik yang menggelitik:

Ibu S: “Aku kalo malem susah banget tidur…
Ibu E: “Emang kenapa, Bu? Banyak pikiran?
Ibu S: “Enggak sih. Itu lho, suamiku sekarang tidurnya ngorok. Jadinya berisik.
Ibu M: “Hahaha.. Suamiku juga gitu. Kadang tak tutup bantal kupingku.
Ibu S: “Kayaknya semua laki gitu ya?
Ibu D: “Coba periksa ke dokter THT, Bu. Siapa tahu ada masalah.
Ibu E: “Betul, Bu. Siapa tahu ya?
Ibu S: “Bener juga ya. Eh, Bu, kok diem aja? Suaminya suka ngorok juga gak?
Ibu R: “Tiap malam. Tapi buat saya sih suara itu kayak musik pengantar tidur lah, jadi malah aneh kalau gak ada. Coba deh ibu-ibu tanya sama para janda yang ditinggal pergi suaminya.

Kemudian semua ibu-ibu itu terdiam.

Mereka menjadi berpikir: ‘Masih jauh lebih baik mendengar dengkuran seorang suami yang tidur di sisinya, daripada tidur sendirian, melewati malam dalam kesunyian.’

Tapi mengeluh sebenarnya bukan hal asing bagi kita. Sangat manusiawi memang. Namun, sadarkah kita, bahwa sikap ( mengeluh ) itu bukan hanya akan merugikan diri sendiri, tapi orang-orang di sekitar kita? Mengeluh membuat kita dan orang-orang di sekitar kita terbawa bad mood, hingga tidak bisa merasakan damai sejahtera; karena selalu ada saja yang salah.

Saat anak-anak membuat kekacauan di rumah, sebagai orangtua kemudian mengeluh kalau mempunyai anak-anak yang nakal. Tapi, cobalah tanya pasangan suami-istri yang menginjak tahun ke-10 pernikahan, tapi belum dikaruniai anak.

Saat suami pulang malam karena bekerja, para istri kemudian mengeluh kalau jarang mendapat perhatian seperti ibu-ibu tetangga. Tapi, cobalah tanya seorang istri yang suaminya tidak mempunyai pekerjaan.

Saat istri memakai pakaian itu-itu saja ketika di rumah ( misalnya hanya pake daster ), para suami kemudian mengeluh dengan teman kantor, bahwa bosan melihat istri di rumah. Tapi cobalah tanya seorang suami yang uangnya selalu habis untuk membelikan pakaian istrinya setiap minggunya.

Saat para orangtua sering mengingatkan ( dengan omelan ), sebagai anaknya terus mengeluh bahwa orangtuanya cerewet. Tapi cobalah tanya pada anak-anak lain yang orangtuanya masa bodoh dengan hidup anak-anaknya.

Mengeluh juga membuat kita tidak mampu menghitung berkat Tuhan. Karena sibuk mengeluhkan hal-hal kecil, bisa membuat kita tidak bersyukur atas hal-hal besar yang Tuhan sediakan. Mengeluh juga sebenarnya hanya membuang energi, menyita pikiran, dan akhirnya capek sendiri untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu.

 

When you hate your life, some people out there dream of having your life.

 

Dalam kehidupan pernikahan atau pacaran, daripada berfokus pada kelemahan pasangan, mengapa kita tidak bersyukur untuk kelebihannya? Juga tetaplah bersyukur untuk pasangan yang mendengkur, yang cerewet, yang pelupa, yang ceroboh, yang emosional, yang pelit, dan lain-lainnya. Bersyukurlah karena ia adalah pasangan Anda, dalam satu paket yang sudah Tuhan berikan dalam segala kelebihan dan kekurangannya. Bukankah tidak ada manusia dan sesuatu yang sempurna? Coba tanya para jomblo di luar sana yang merindukan perhatian dan kasih sayang dari seseorang. Lagipula kalau pasangan Anda tidak mempunyai semua kelemahan-kelemahan yang Anda keluhkan, belum tentu dia mau dengan Anda.

Jadi ambil enaknya aja… Karena mengeluh juga tidak membuat hidup jadi mudah, kan? Lebih baik selalu bersyukur, karena pasti akan ada alasan untuk berterima kasih atas berkat dan karunia Tuhan pada hidup kita.

 
( Vic )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry