“Semua Terjadi Karena Suatu Alasan”

Challenger STS-51-L after the explosion 73 seconds after launch. ( Wikipedia )
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

 

Semua dimulai dari impianku: aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa, tetapi aku tidak memiliki gelar yang tepat. Aku bukan seorang pilot, hanya warga negara biasa yang berprofesi sebagai guru.

Namun, sesuatu yang ajaib terjadi …

Gedung Putih mengumumkan sedang mencari warga negara sipil untuk ikut dalam penerbangan 51-L dengan pesawat ulang-alik Challanger. Warga sipil yang dicari adalah seorang guru! Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos, sampai akhirnya datang amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan tes fisik dan mental. Begitu tes selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center. Dari 43.000 pelamar … Susut menjadi 10.000 orang … Hingga aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara, dan lain-lain. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ?

Tuhan, biarlah diriku yang terpilih“, begitu aku berdoa.

Lalu datanglah berita yang menghancurkan itu: NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? … Kenapa bukan aku? … Bagian diriku yang mana yang kurang? … Mengapa aku Kau perlakukan begitu kejam?

Aku berpaling pada ayahku. Katanya singkat: “Semua terjadi karena suatu alasan.” 

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali: Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku?!

Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku pada-Nya saat pesawat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpangnya.

Tiba-tiba aku teringat kata-kata ayahku … Semua terjadi karena suatu alasan.

Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya. Saya sekarang menyadari, itu disebabkan karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah … Aku seorang pemenang! Aku menang karena aku telah kalah.

Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

 

********/*******

Jadi benar jika ada yang mengatakan jika Tuhan menjawab doa kita dengan 3 cara:

1. Apabila Tuhan mengatakan “Ya”, maka kita akan mendapatkan apa yang kita minta.

2. Apabila Tuhan mengatakan “Tidak”, maka kita akan mendapatkan yang lebih baik.

3. Apabila Tuhan mengatakan “Tunggu”, maka kita akan mendapatkan yang terbaik … Sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya untuk hidup kita.

Karena sejak kapan manusia tahu apa yang terbaik buat dirinya? Pikiran manusia terlalu dangkal untuk menyelami pekerjaan Tuhan dari awal hingga akhir, bukan? ( Pengkotbah 3:11 )
( Frank Slazak )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2