Setia Sebuah Penantian

“Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” ( Matius 23:37 )
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

 

Setiap masuk ke rumah seseorang untuk pertama kalinya, hal yang paling sering saya lakukan adalah melihat foto-foto yang biasanya dipajang di ruang tamunya. Hal yang menarik dari foto-foto yang dipajang, lembaran-lembaran kertas itu bisa memperlihatkan sebuah kenangan atau menangkap momen yang mungkin tak bisa diulang.

Kamu dulu kecilnya gendut banget…
Ah, rupanya kamu pernah bahagia dengannya. Di foto ini kamu tertawa lepas pas lagi ngobrol sama dia.
Lho, pernah ke Tim-Tim ya? Ini pas kapan?

Lalu cerita si pemilik foto, si tuan rumah, biasanya akan mengalir. Dari sebuah foto, ada puluhan kisah di baliknya. Apalagi zaman dahulu, kamera masih analog dan hasilnya gak bisa diedit. Jadi lebih original dan menggambarkan apa adanya, tanpa rekayasa.

Nah pernah kebayang gak, bisa jadi di sorga ada foto-foto kita terpajang di “ruang tamu”nya. Pas Dia lagi kangen, Tuhan berkeliling ruang tamu-Nya, melihat-lihat foto-foto kita di situ dari kecil hingga beranjak dewasa seperti sekarang.

Ah, ini Samuel pas lagi ikut KKR dan bilang ‘I love You, Jesus’ untuk pertama kalinya. Tapi kok sekarang gak pernah lagi bilang gitu ya?
Astaga fotonya Ribka pas lagi dibaptis, imut abis. Cuma sekarang dia di mana? Gak pernah hubungi lagi.
Rio ini mukanya mirip banget ayahnya. Tapi kenapa ya perangainya beda? Ayahnya setiap malam menghubungi Aku, tapi Rio … Selalu absen ke gereja setiap hari Minggu.

Sambil tersenyum bahkan kadang tertawa, Tuhan sering menghabiskan waktu-Nya hanya untuk ber”nostalgia”, mengamat-amati foto-foto anak-anak-Nya yang dulu dekat dengan-Nya, dan kemudian mulai sedih karena mereka mulai menjauh dan semakin membuat jarak dengan-Nya. Padahal Dia rindu mendengarkan curhat anak-anak-Nya, bersama-sama merasakan keheningan malam berdua tanpa bicara apa-apa, hingga ikut menangis ketika ada anak-Nya yang terluka dan menjerit pada-Nya … Tapi makin hari, Dia makin merasa banyak anak-anak-Nya mulai merasa bisa apa-apa sendiri, tidak mengandalkan-Nya lagi.

Meski Tuhan tetap setia pada kita, tidak pernah lelah dan bosan menunggu anak-anak-Nya kembali menjalin relasi dengan-Nya, karena Dia tidak bisa mengingkari cinta-Nya pada manusia, bisa jadi ada terselip kekecewaan di hati-Nya. Lalu di ruang tamu itu, Tuhan mengambil gitar dan mulai bernyanyi untukmu… Iya, kamu… Dia menyanyikan lagu yang dipopulerkan oleh band “One Way” berjudul “Setia”:

Pagi ganti hari, malam ‘kan menjelang.
Kasih adalah memberi, meski tak diberi.
Walaupun mulutmu selalu mengatakan
kau ‘kan setia pada-Ku, ‘Ku tunggu…

Kasih tak akan ‘Ku meninggalkanmu,
walau sedetikpun berarti bagi-Ku.
Tiada kata berpisah di hati-Ku,
meski kau pergi jauh dari diri-Ku,
‘Ku kan menunggumu…

 

Ya, Tuhan itu selalu setia pada kita. Seperti anak bungsu yang pergi dari bapanya, tetapi bapanya selalu merindukannya, bahkan menyambutnya dengan pesta ketika anaknya itu pulang kepadanya … Begitulah besar cinta kasih Tuhan pada kita, anak-anak-Nya. Bagaimana cinta kasih kita pada-Nya?

Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, jangan keraskan hatimu!” ( Ibrani 4:7b )

( Vic )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry