Sudah Pantaskah Saya?

Ilustrasi
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Hari Minggu lalu saya beribadah di GKI Gejayan, waktu petang hari setelah hujan. Saya mencoba mencari tempat duduk di dalam ruang ibadah utama. Tetapi karena saya datang tepat sebelum ibadah dimulai, saya mendapatkan tempat duduk di kursi paling belakang; di lorong pintu masuk ruang ibadah GKI Gejayan. Saya duduk bersebelahan dengan sepasang muda mudi yang sudah duduk terlebih dahulu di situ.

Awalnya semua berjalan baik-baik saja, sampai saat Doa Pengakuan Dosa. Meski saya mulai mendengar suara-suara yang agak aneh, saya tetap menutup mata dan konsentrasi pada doa saya. Setelah Majelis Jemaat mengakhiri doanya dengan mengatakan “Amin”, saya refleks melihat sepasang muda-mudi yang duduk bersebelahan, di mana suara yang agak aneh tadi berasal. Saya cukup kaget sekaligus geli, karena ternyata tangan muda mudi ini saling menggenggam saat doa tadi.

Ibadah terus berjalan, dan dengan sudut mata saya melihat mereka mulai merapatkan badan. Bahkan ketika Pdt. Veri berkotbah, si cowok yang awalnya melingkarkan tangan di bahu ceweknya, lama kelamaan mulai memeluknya yang asyik dengan medsos di HP yang dia pegang. Mulai terganggu, saya berusaha mencondongkan badan ke depan, melihat layar dan beberapa kali menutup mata agar tetap konsentrasi dengan khotbah Pendeta tentang pengampunan.

Saya pikir Tuhan memang mengundang semua orang untuk datang kepada-Nya; setiap waktu dan setiap saat. Setiap minggu, kita dipanggil oleh-Nya untuk beribadah bersama-sama dengan Jemaat-Nya yang lain tanpa memandang siapa kita, bagaimana kita sekarang, terlebih Dia juga tidak memandang bagaimana pakaian kita. Tetapi ketika kita menghadap Dia, apakah kita bisa berlaku seenaknya? Apakah kita layak menganggap ibadah Minggu hanya sebagai kewajiban orang Kristen saja? Sudahkah kita memberikan waktu untuk benar-benar memuji-Nya, mendengar firman-Nya, dan menikmati persekutuan dengan Tuhan saat beribadah di gereja? Lebih pentingkah medsos di smartphone kita sehingga ketika beribadah malah lebih fokus padanya? Ataukah kita menggunakan waktu beribadah sebagai kesempatan berduaan dengan pacar kita?

Mari kita renungkan lagi: bagaimana sikap kita ketika sedang beribadah selama ini? Sudahkah kita memantaskan diri untuk menghadap Tuhan? Untuk menghadap Sang Penebus yang sudah melakukan karya keselamatan?

Sebuah refleksi untuk saya dan kita semua.

 

(D.Best)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry