Tak Usah Kau Takut

Matius 14:24-33
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Dalam satu waktu, dua kali murid-murid Yesus mengalami ketakutan. Pertama, ketika melihat Yesus berjalan di atas air yang mereka kira hantu. Kedua, ketika Petrus yang berjalan di atas air tiba-tiba hampir tenggelam. Phobos yang biasa diterjemahkan sebagai ketakutan atau rasa ngeri adalah hal yang berada di alam bawah sadar manusia dan oleh karena itu tidak dapat dimanipulasi. Lihat saja respon Petrus yang takut tenggelam, padahal ia jelas seorang nelayan sebelum dipanggil mengikut Yesus.

Abigail Marsh dari Georgetown University mengatakan, rasa takut adalah sebuah ekspektasi atau antisipasi dari bahaya yang mungkin muncul. Hal ini berarti, walaupun rasa takut tidak dapat dimanipulasi dan pasti akan tetap muncul apabila ada stimulus akan hal itu, ada hal yang dapat kita lakukan untuk mengatasi hal ini. Ekspektasi dan antisipasi terkait erat dengan pemahaman akan apa yang kita hadapi. Semakin kita paham keadaan di hadapan kita, semakin besar pula peluang kita untuk mengatasi ketakutan.

Ada beragam jenis kenyataan dan pengalaman hidup manusia dalam kaitannya dengan iman yang kemudian memunculkan rasa takut. Menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan iman di dalam ketakutan merupakan salah satu cara untuk mengatasi ketakutan, seperti persoalan penderitaan, keselamatan, bencana, dan sebagainya. Walau demikian, ada kata bijak “Kita hidup berdasarkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita, tetapi kita tidak hidup untuk sekedar menemukan jawaban.” Pengalaman hidup kita seringkali melampaui jawaban-jawaban yang ada, dan pada titik ini banyak yang terjebak dalam lumpur keputusasaan ketika tanyanya tak lagi mendapat jawab, takutnya tak lagi dapat diatasi.

Jika begitu, apalagi yang dapat mengatasi ketakutan manusia selain jawaban atas setiap pertanyaan hidupnya? Kepercayaan, jawabannya.

Begitu pentingnya kepercayaan hingga Yesus menegur Petrus: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Percaya bahwa Dia yang berkata: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” adalah Dia yang juga mau mengulurkan tangan-Nya untuk menarik orang yang dikasihi-Nya serta naik ke perahu untuk bersama-sama menyeberangi kehidupan sekalipun angin berlawanan arah dengan tujuan perahu juga ombak yang tinggi.

Di dalam percaya, segala ekspektasi dan antisipasi akan kehidupan sudah menemukan kuncinya. Di dalam percaya tak ada lagi bimbang, melainkan keteguhan untuk terus melangkah tegap. Di dalam percaya ada kesungguhan untuk bermazmur: “Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia.” (Mazmur 85:10).

 

( RBK )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry